5 | Bercinta atau Sepuluh Juta

1980 Kata
Sudah lima tahun tinggal di rumah kecil ini, Rajen cukup terbiasa dengan 180 derajat perbedaannya dari rumah megah orang tua. Kalau di sini, buka-tutup pintu mau pelan atau kencang selalu ada bunyi decitnya. Dindingnya pun terasa begitu tipis sehingga bebunyian dari ruang sebelah sering bocor ke ruang lainnya. Syukur saat ini hanya terisi keluarga kecil Rajen saja, tidak dengan babysitter. Dulu, sih, ada—waktu Huma lanjut kuliah dan Rajen pun demikian. Sekarang sudah leluasa, paling hanya perlu mengamankan pendengaran Bara agar tidak tercemar oleh suara desah orang tuanya. Ya, karena itu juga Rajen dan Huma jarang sekali bersenggama. By the way, mari to the point saja. Kehidupan pernikahan Rajen dan Humaira itu sangat jauh dari yang namanya berhubungan intim. Dulu karena Rajen sungkan dan merasa bersalah, mengingat pengalaman pertama Huma bercinta adalah serupa rudapaksa—yang membuat pernikahan ini harus dilaksana. Terlepas dari itu, saat Huma memberi tahu Rajen bahwa dirinya sudah baik-baik saja untuk sekadar dikunjungi suami seperti pasangan menikah pada umumnya, Rajen yang belum mau. Katanya, "Kita fokus kuliah dulu aja. Lagi pula udah ada Bara, takutnya malah nambah anak gimana?" Walaupun ada yang namanya kon to the dom, alias pengaman bercinta, Rajen tetap menggeleng. Di sini bukan Huma yang takut kebobolan, melainkan Rajen. Ada hal besar yang ingin Rajen gapai, mengentas kemiskinan. Di samping itu, Rajen juga belum yakin Huma benar-benar sudah beranjak dari pengalaman buruk bercinta yang Rajen berikan. So, paling hanya sentuhan tipis-tipis yang menjurus, tidak sampai saling bertaut kelamin. Rajen selalu menjaga itu. Tahun demi tahun. Percaya tidak percaya, Rajen berhasil melaluinya hingga Bara berusia empat tahun. Di tahun itulah Rajen mulai yakin untuk mengajak Humaira berbulan madu. Berdua. Nyatanya memang sangat nikmat sampai Rajen tidak tahu cara menahan diri lagi ketika menginginkan istrinya, padahal dulu sampai empat tahun dia kuat tanpa seks. Jadi, ini bukan hubungan intim yang pertama setelah sekian lama saat-saat Rajen ngode dengan istilah dua ronde. Minggu lalu pernah—sebelum Rajen kena tipu. Dan jangan khawatir, Huma KB. Sekarang yang perlu dibahas adalah bagaimana Huma bisa beranjak dari sisi anaknya. Rajen sudah menunggu di kamar belakang. Duh. Pelan Huma bergeser, pelan pula dia menarik dasternya agar terlepas dari genggaman Bara. Bocah lima tahun itu sudah lelap Huma nina bobokkan. Aksi ini selalu membuat Huma tahan napas, berdebar-debar takut anaknya bangun. Fyi, biasanya bermesraan saat Bara main. Siang hari. Atau ketika Bara dititipkan di rumah neneknya. Jarang kalau malam, ya, karena begini. Waswas, takut anak tahu kegiatan mesumm orang tuanya. Sepengalaman Huma, bunyi tumbukan Rajen di dalam dirinya itu berisik. Ya, pahamlah bunyi macam apa yang Huna maksud. Oh, akhirnya! Huma bebas. Dia meletakkan guling dan bantal lain pada tepian ranjang. Menjaga agar Bara tidak jatuh dari kasur. Lepas itu, Huma berjalan super hati-hati meninggalkan kamar utama. Ah, tetapi belum cukup sampai di sana. Pintu kamar dengan suara deritnya ini ujian paling besar. Berisik pol tiap engsel pintu di rumah ini. Suaranya itu, lho! 'Kriet', 'nyiiit', atau apalah. Melengking. Tuh, kan! Bara langsung tergerak, tetapi syukur cuma ubah posisi. Huma berdiam diri, setelah lewat sekian detik barulah dia lanjut menutup pintu kamarnya lagi. "Ra—" "Ssst!" Huma menekan telunjuk di bibir. Rajen langsung mingkem. Pintu kamar pun sukses ditutup. Huma lalu menarik lengan suaminya, membawa Rajen masuk ke kamar belakang. "Kan, aku bilang kamu tunggu sini aja," seloroh Huma pelan. "Tapi, ya, sekarang udah aman, sih. Kita main cepet aja, ya? Tapi pelan, takut Bara denger." Rajen menatap istrinya, ada sorot geli menahan tawa, juga sorot masam yang ... entahlah. Huma cuma fokus untuk melepas jaket Rajen sekarang. Eh, kok, jaket? Huma sontak mendongak, tangannya sudah menurunkan resleting jaket itu. Yang Rajen cekal dua pergelangan tangan istrinya, lalu dia tarik tubuh Huma agar merapat. "Aku pengin banget," bisik Rajen. Mengusap-usap punggung Humaira, lalu mengecup kepalanya. "Tapi aku mendadak ada urusan." Dan Rajen berikan jarak di tubuh mereka, kini kembali saling tatap. "Maksudnya, mau pergi? Yang tadi nggak jadi?" Itulah kenapa wajah Rajen jadi masam. Dia mengangguk. "Aku dapet orderan malem, Ra." Kening Humaira mengernyit. Mencerna baik-baik. "Orderan apa, sih? Maksudnya gimana?" Rajen ayun-ayunkan tangan sang istri, jari-jemari lentik itu ada dalam genggamannya. "Ini soal kerjaan aku." "Ih, aku nggak ngerti. Bukannya kamu bilang kerja di bengkel? Itu pun masih nanti, kan? Kok, ini—" Bibir Huma dikecup, auto berhenti kalimatnya. "Kan, aku kerja sampingan juga. Udah dapet, nih. Lumayan." "Kerja apa malem-malem gini?" Perasaan Huma tak enak. "Orderannya apa?" Jangan bilang .... "Yang suka anterin makanan." Oh ... raut tegang Huma berangsur-angsur memudar. "Gofud? Ojol?" Yang penting bukan open BO. Bukan mengorder tubuh. Astagfirullah! Pikiran Huma ke mana-mana. "Iya, itu." Rajen garuk-garuk hidung. "Lumayan, kan?" Huma terdiam. Yang lalu dia mengempaskan diri ke dadaa suami, Huma memeluk Rajendra. Kalau boleh jujur, Huma sedih sebab Rajen mesti sampai bekerja macam itu. Tapi di sisi lain, dia harus realistis. Justru bagus, kan, karena Rajen tipe pekerja keras. Apa saja mau dia kerjakan walau gengsinya selangit, bahkan saat sudah hampir larut. "Tapi harus banget malem, ya?" "Kan, siangnya aku nanti kerja di bengkel. Otomatis sampingan aku malem, dong." "Kamu kerjanya sampe mau dua puluh empat jam kalo gitu." Vokal Huma agak merajuk. "Ini aja kamu baru pulang." "Sebelum tengah malem nanti aku udah di rumah," balas Rajen, nada suaranya tenang dan tertata. Huma melirik jam dinding. Rajen juga. Masih saling mendekap. "Ini bahkan udah jam sepuluh, Rajen," kata Huma. Tidak ada sebut mas kalau sedang begini. "Kan, sebentar, Sayang." Tapi Rajen selalu sebut sayang ketika tengah membujuk. Huma menghela napas. Dia lalu melepas dekap. Bersitatap. "Ya udah, hati-hati." Rajen senyum. Dia kecup pipi Huma, kiri dan kanan. Kecup juga ke bibirnya, sedikit memagut. "Doain semoga aku menang." Kening Huma mengernyit. "Menang—" "Menang orderan yang uangnya banyak," pangkas Rajen cepat. Hampir saja. Huma pun mengaminkan. Rajen lalu berpamitan. Kunci motor sudah di saku jaketnya. Andai bukan karena uang yang bisa Rajen dapatkan dalam jumlah banyak plus waktu singkat, dia tidak mau mengurungkan niat untuk bercinta dengan Humaira. Rajen sangat menginginkan istrinya malam ini, tetapi nominal uang yang tertera di pesan Idam sangat menggiurkan. Entah sejak kapan Rajendra jadi sosok mata duitan. Ah, padahal beberapa saat lalu Rajen sudah menang balapan. Pukul delapan malam di Senayan. Namun, Idam memberi info bahwa akan ada balapan lagi malam ini. Idam: [Ambil, gak?] Mengingat Rajen selalu minta diinfokan kalau-kalau ada balapan, ingin dilibatkan. Idam: [Tembus 10 juta kalo mau.] Walau capek, walau baru pulang, walau sudah ada agenda senikmat memesrai istri, tetapi Rajen tidak bisa menolak nominal sepuluh juta itu saat ini. Bila di lima tahun lalu, sepuluh juta bagi Rajen itu sangat kecil—ibaratnya serupa uang selembar sepuluh ribu. Tapi sekarang, sepuluh ribu pun jadi sangat berarti—karena Rajen sudah sampai menyecap rasanya saldo nyaris nol rupiah, kantong kosong, dompet tidak ada isi. "Hati-hati!" seru Huma lagi, mengantar sang suami sampai ke pintu pagar. Rajen pun membalas dengan bunyi klakson. Huma menghela napas. Padahal Rajen tidak perlu mencari uang sampai sebegininya, ini pukul sepuluh malam. *** Di sini. Di jalanan semula yang menjadi tempat pertama percobaan Rajen melakukan balapan, Rajendra menatap lurus ke depan, turun dari matic-nya. Dia berdiri di pinggir jalan dengan tangan dimasukkan ke saku jaket. Suara knalpot bersahutan bising, makin lama makin ribut. Meski belum ada satu pun motor yang dilajukan di arena. Oh, riuh bergemuruh. Sorak sorai menyambut Rajen yang baru pertama kali bergabung, tetapi sudah jadi idola karena kemenangannya satu jam lalu. "Rajendra!" Rajen senyum. Bahunya ditepuk seseorang. Bang Bendrong disebutnya. Konon, pria ini sangat suka membaur di balap liar, tetapi jarang terjun langsung. Hanya menyewakan motor balapnya, orang lain yang lajukan—uang kemenangan dibagi dua. Jika kalah maka tidak dapat apa-apa, asal motornya tidak rusak. Rajen dirangkul sosok itu. Langsung akrab. "Rajendra! Rajendra! Rajendra!" Kalau itu suara suporter, rata-rata wanita. Dunia gelap yang baru kali ini Rajen injakkan kaki sebagai bagian dari mereka, Rajen serasa sudah terjun ke sini dari lama. "Jagoan gue, nih!" seru Bang Bendrong, memamerkan Rajen. "Alah! Baru menang sekali aja udah dinobatkan jadi jagoan. Huuu!" seru yang lain, laki-laki. Rajen tidak menemukan Idam kali ini. "Makanya itu, kan, mau tanding lagi. Ayo, siapa tadi yang penasaran pengin lawan Rajen?!" kata Bang Bendrong. Ah, rupanya balapan kali ini diadakan karena Rajendra. Tampaknya berita kemenangan Rajen sebagai lawan baru mereka sudah santer dibicarakan—tak sampai genap dua jam, lalu langsung menarik perhatian dan minta ditanding ulang dengan kelompok lain yang penasaran. "Huuu!" Sorak sorai makin ramai di Senayan. Detik di mana satu per satu orang dengan motor balapnya menempati arena dekat garis start. Mereka yang maju lantas menoleh menatap Rajen, sambil menggerung-gerungkan gas motor sport yang ditunggangi. Bang Bendrong lalu melempar kunci motornya dan spontan langsung Rajen tangkap. "Sepuluh juta buat yang menang!" seru lelaki berjulukan Bendrong itu. "WOAAA!" Tim suporter jadi yang paling berisik. So, beberapa orang mulai berkumpul di ujung sana. Mereka bukan penonton biasa, mereka bagian dari dunia ini. Orang-orang yang tahu kapan harus diam, kapan harus bersorak, dan kapan harus menghilang. Di mana tak satu pun dari mereka—perempuannya—berpakaian tertutup, rata-rata hanya pakai bra sport dilapis jaket kulit. "RAJEEEN!" Ada yang paling antusias, ada juga yang hanya diam jadi pemerhati dengan lagak cool. "Memangnya dia sehebat itu?" ucap seorang gadis di barisan penonton terdepan, dari tadi pandangannya lurus di anggota baru. Penasaran, tetapi tidak ingin mencolok. "Siapa?" "Rajendra." "Eh, iya, lho! Dia ngalahin king balap dari Geng Harimau, padahal baru gabung di arena. Udah gitu ... ganteng banget, kyaaa!" Rajen tentu tidak mendengar celoteh mereka yang di sana. Dia sudah menumpaki motor balapnya, milik Bang Bendrong. Sementara, matic Rajen kesayangan sang putra dibawa menyingkir untuk diamankan. Takut ada satpol PP, kaburnya repot nanti harus ingat matic. 'Vrooom.' Bunyi deru motor yang mulai Rajen nyalakan. Suara itu langsung menyatu dengan yang lain. Mengundang perhatian. Beberapa pembalap lain sudah berjejer. Mereka menatap ke arah Rajen semua. Ada sekitar enam motor malam itu. Salah satunya menarik perhatian Rajen—motor merah dengan stiker mencolok. Pengendaranya melepas helm, memperlihatkan senyum miring. “Rajen, ya?” katanya. Rajen menatap datar. Sok kenal! Maka tidak Rajen tanggapi. Helm kembali dipasang. Mesin kembali meraung. Atmosfer berubah tegang. Seorang gadis maju ke tengah jalan. Dia gadis yang sejak tadi memperhatikan Rajendra. Tangannya memegang saputangan putih. Gadis itu berdiri tepat di garis yang dijadikan titik start. Tidak lagi memakai jaket, sudah dilepas sebelum sampai di sini. Hanya mengenakan rok mini dan bra sport. Tapi percayalah, sama sekali tidak ada yang membuat Rajen melirik sekadar untuk menikmati keseksian tubuh para wanita di arena. Kini, semua pembalap bersiap. Rajen menunduk sedikit. Jari-jarinya menggenggam gas. Pasti bisa. Harus bisa. Lumayan, sepuluh juta. Bisa buat tanam modal di bengkel Pak Idris, demi mendapat kepercayaan dan gaji pertama sebelum mulai bisa bongkar-pasang mesin kendaraan. Lagi pula kalau tiba-tiba bawa sepuluh juta ke rumah dan diberikan ke Huma, nanti istrinya itu curiga. Uang dari mana? Uh ... Rajen berdebar. Dia pernah menang memang, yang pertama. Tapi bagaimana kalau itu cuma keberuntungan? "Tiga!" Hitung mundur dimulai. Tatapan gadis itu memindai satu demi satu motor para pembalap. Suara mesin pun naik serempak. "Dua!" Angin malam terasa menusuk wajah. Rajen menelan ludah. Sepulu juta .... "Satu!" Sapu tangan dilempar ke udara. Dan saat jatuh ... semua motor melesat. Gadis yang membawa aba-aba itu lalu berbalik, menatap motor yang telah melaju secepat kilat dari garis start. Tatapannya di punggung salah satu pembalap. Rajendra .... Sementara, di lain tempat. Huma tidak bisa tidur. Tadi lupa belum bertanya 'orderannya ke mana' dan lupa belum bilang 'malam ini cukup ambil satu orderan aja, nggak usah banyak-banyak.' Chat Huma belum dibalas pula, dibaca saja belum. Jauhkah? Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, tetapi yang katanya akan sudah di rumah sebelum tengah malam itu masih belum juga datang. Demi apa pun, Huma khawatir. "Nomor yang Anda tuju ...." Sekarang kontak seluler Rajen malah tidak aktif! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN