“Hoeeek … hoeek ….” Davit memegangi perutnya yang sakit karena sejak tadi ia muntah hebat. Davit sudah menyerah dengan perutnya, perutnya sudah kosong sejak tadi, tetapi cairan bening terus keluar dari perutnya. Bayu menepuk-nepuk punggung Davit dengan sabar, Lintang belum pulang entah kemana. Dalam hati Bayu juga merutuki Lintang sampai malam belum juga pulang. Tetapi ia tidak berani mengucapkan di lisan, karena Davit akan marah bila ada orang yang menjelek-jelekkan Lintang. “Aidan, kenapa Lintang sampai saat ini belum pulang?” tanya Bayu pada Aidan yang berada di pojok kamar mandi. Pria itu benar-benar tidak setia kawan, Bayu sibuk mengurusi Davit, Aidan malah mojok sembari memainkan hpnya. “Ya mana aku tahu, kamu pikir aku emaknya Lintang?” sewot Aidan. “Dia kan bekerja di perus