Sudah lima belas menit Gendis berdiri di depan Aidan, tetapi Aidan sama sekali tidak mempedulikan Gendis. Aidan dengan asiknya duduk di hadapan komputer dengan mata yang fokus di sana. Aidan menyuruh Gendis masuk, tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Gendis menarik napasnya dalam-dalam, gadis itu sudah lelah berdiri terus tanpa melakukan apapun. Kalau boleh memilih, Gendis lebih memilih untuk membersihkan rumah Aidan yang sangat luas daripada berdiri seperti patung di sini. “Euuum ….” Gendis mengeluarkan deheman untuk memancing Pak Aidan. Tetapi Aidan tidak terusik sama sekali. “Ekheem ….” Gendis kembali berdehem. Namun bukannya menjawab, yang terdengar malah ketukan keyboard yang sangat kencang dari jari-jari Aidan. Aidan seolah sengaja memencet keyboard dengan kencang agar me