Lintang berjalan pelan menuju koridor perusahaan, gadis itu bersenandung ria. Bekerja di bidang yang ia sukai membuatnya bahagia. Lintang termasuk beruntung karena bekerja di tempat yang membuatnya senang, meski terkadang sifat Aidan membuatnya serba salah. Lintang menuju ruangannya dan mengerjakan apa yang menjadi tugasnya. “Iya aku dengar Pak Aidan akan melangsungkan pertunangan.” “Sama siapa? Aku gak pernah lihat Pak Aidan bersama perempuan.” “Satu-satunya perempuan yang pernah bersama Pak Aidan itu Lintang, tapi Lintang sudah punya suami.” Suara krasak-krusuk terdengar di telinga Lintang. Lintang menolehkan kepalanya menatap Dilla dan Zeva yang asik mengobrol. “Hustt, aku gak pernah dekat dengan Pak Aidan,” tegur Lintang. Buru-buru Zeva mendekati Lintang. “Tapi kamu pernah s