bc

Rayuan Cinta

book_age12+
detail_authorizedDIIZINKAN
115
IKUTI
1K
BACA
billionaire
like
intro-logo
Uraian

Sinopsis:

Saat cinta pertama Vincent kembali, Agnes yang sedang mengandung justru mengajukan gugatan cerai kepada suaminya.

Pria itu murka. Dia menahan Agnes di depan dinding sambil berkata, "Kamu hanyalah barang yang dijual Keluarga Gunawan kepadaku. Berani-beraninya kamu mengancamku!"

Anak mereka meninggal sebelum sempat tumbuh besar. Hati Agnes benar-benar hancur dan akhirnya dia berhasil melarikan diri dari sisi Vincent.

Setelah bercerai, Vincent baru menyadari kesalahannya. Namun, saat berusaha mendapatkannya kembali, dia justru mendapati Agnes telah bersama pria lain … bahkan memiliki seorang putra!

Wajah Vincent yang dingin tetap tak menunjukkan emosi saat menatap bocah kecil di hadapannya yang bagaikan miniatur dirinya.

"Putramu?" tanya Vincent.

Agnes menatapnya dingin. "Bukan urusanmu."

Vincent menyunggingkan senyum tipis. Dia membungkuk, mengangkat si kecil ke dalam pelukannya, lalu berkata, "Anak baik, panggil Ayah."

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Aku Ingin Bercerai
Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahanku yang ketiga dengan suamiku. Aku memasak berbagai hidangan sendiri dan meneleponnya malam itu. Namun, ponselnya terus sibuk. Saat waktu menunjukkan tengah malam, makanan di atas meja makan sudah lama menjadi dingin, tetapi suamiku masih belum juga pulang. Mungkin karena terlalu lama menahan lapar, perutku tiba-tiba dilanda rasa mulas yang hebat. Pada saat itu, nada dering ponsel yang sangat kukenal akhirnya berbunyi. Aku segera menekan tombol jawab. "Halo, kamu ke mana saja? Kenapa dari tadi tidak mengangkat telepon?" tanyaku cemas. Suara pria di seberang terdengar dingin dan dia tidak menjawab pertanyaanku. "Kemasi barang-barangmu sekarang juga. Sebaiknya, kamu tinggal di tempat lain untuk sementara waktu." Aku tertegun. Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat, karena tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba ingin mengusirku. "Apakah terjadi sesuatu?" tanyaku tanpa sadar. "Monika sudah kembali. Dia tidak terbiasa menginap di hotel," jawabnya datar dengan nada sedingin es. Saat mendengar nama Monika, jantungku seolah berhenti sesaat. Aku tidak mengenal wanita itu. Satu-satunya hal yang kutahu adalah suamiku, Vincent Winata, telah mencintai wanita itu selama sepuluh tahun penuh! Hujan di luar semakin deras, sementara rasa sakit di perutku kian menjadi-jadi. "Sekarang?" Aku menggenggam ponsel erat sambil menatap kilatan petir di balik jendela besar. Rasa sakitnya membuatku hampir sulit bernapas. "Tapi, hari ini adalah hari ...," "Ya. Sekarang." Aku bahkan belum sempat mengucapkan kata-kata "hari jadi pernikahan kita", tetapi Vincent sudah menyela dengan tidak sabar sebelum langsung memutuskan sambungan telepon. Begitulah sifatnya, setelah Vincent mengambil keputusan, tidak pernah ada ruang untuk berunding. Aku bangkit dengan tubuh gemetar, lalu meneguk segelas besar air hangat. Sambil menahan rasa sakit, aku membereskan barang-barangku. Saat selesai, taksi yang kupesan sudah tiba di depan vila. "Nona, Anda tidak apa-apa?" Sopir yang turun untuk membantu mengangkat koper melihat wajahku yang pucat, lalu bertanya dengan penuh perhatian. Aku menggeleng pelan. "Terima kasih, saya tidak ...," Kalimatku belum selesai ketika rasa nyeri yang luar biasa kembali menyerang. Rasanya seolah ada sesuatu yang merobek perutku sehingga aku tersungkur berlutut di tanah. *** Di rumah sakit. Aku berbaring di ranjang rumah sakit dengan infus terpasang di punggung tangan. "Usia kandungan Anda sudah sebelas minggu," ujar dokter sambil memegang hasil pemeriksaan dengan wajah serius. "Namun, Anda terlalu kelelahan sehingga kondisi janinnya kurang baik. Kontraksi yang muncul hari ini merupakan tanda peringatan. Kalau Anda ingin mempertahankan kehamilan ini, Anda harus dirawat di rumah sakit untuk menjalani perawatan kehamilan." Aku langsung membeku, lalu tatapanku jatuh ke perutku sendiri. Selama ini, aku selalu minum pil kontrasepsi setiap kali selesai berhubungan dengan Vincent. Sekitar dua bulan yang lalu, Vincent mabuk dan menyuruhku untuk menjemputnya. Hanya karena kejadian sekali di dalam mobil malam itu, aku malah mengandung anaknya. "Di mana ayah bayi ini? Sebaiknya minta dia mengantarkan makanan. Setelah infus selesai, Anda perlu makan makanan bergizi," pesan dokter. Aku tersadar, membuka mulut, tetapi pada akhirnya hanya bisa terdiam. Kehamilan ini datang begitu tiba-tiba. Kalau Vincent tahu aku sedang hamil, bagaimana reaksinya? Apa dia menginginkan anak ini? Setelah dokter pergi, aku bergumul cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk memberi tahu Vincent. Telepon segera tersambung. "Vincent ...." "Vincent sedang mandi. Saya sedang berbicara dengan siapa? Nanti saya minta dia menelepon Anda kembali." Suara wanita itu terdengar manis. Itulah pertama kalinya aku mendengar suara Monika. Ternyata, Vincent sudah membawa Monika pulang ke rumah. "'Ada yang mencariku?'" Suara berat Vincent terdengar dari seberang telepon. Sesaat kemudian, ponsel itu berpindah ke tangannya. "Ada apa?" tanyanya dingin. Penghangat ruangan di bangsal menyala penuh, tetapi entah kenapa aku tetap merasa dingin sampai ke tulang. Semua kalimat yang sudah kususun dalam hati mendadak terasa sangat sulit diucapkan. Tiga kata, "aku sedang hamil", seolah tersangkut di tenggorokanku. Aku menarik napas dalam-dalam dan baru saja hendak memberanikan diri untuk melanjutkan. Tiba-tiba, terdengar teriakan Monika dari seberang telepon. "Ah!" "Monika, ada apa?" Selama ini, aku belum pernah mendengar nada suara Vincent sepanik itu. Monika berkata dengan nada manja, "Aku mau mengupaskan buah untukmu, tapi tidak sengaja melukai jariku ...." Vincent langsung bertanya dengan cemas, "Sakit tidak? Aku akan mengantarmu ke rumah sakit!" Sambungan telepon langsung terputus. Ponselku terjatuh ke atas ranjang. Kedua tanganku mencengkeram selimut erat-erat, sementara dadaku terasa sesak. Sungguh ironis. Selama tiga tahun menikah dengan Vincent, aku sama sekali tidak pernah berhasil menyentuh hatinya. Satu jam kemudian, aku menyelesaikan proses pemulangan dari rumah sakit dan pergi seorang diri sambil menyeret koper. Lift berhenti di lantai tiga. "Hanya karena luka kecil yang cukup ditutup plester, kamu malah repot-repot membawaku ke rumah sakit." Pintu lift terbuka, diiringi suara rengekan manja seorang wanita. Aku refleks mengangkat kepala. Tanpa diduga, pandanganku langsung bertemu dengan sepasang mata hitam pekat milik Vincent. Di sampingnya berdiri seorang wanita bertubuh mungil dengan wajah cantik dan lembut. Wanita itu tengah menggandeng lengan Vincent sambil tersenyum bahagia. Benar-benar pasangan yang serasi. Tanpa perlu menebak, aku tahu dia pasti Monika. Senyum tipis di wajah Vincent langsung lenyap saat melihatku. Tatapannya kembali sedingin biasanya. "Vincent, cepat masuk." Monika melangkah ke dalam lift sambil menahan tombol pembuka pintu. Dia mendesak Vincent masuk, lalu menoleh kepadaku dan tersenyum lembut. Tidak lama kemudian, Vincent masuk ke dalam lift. Matanya sedikit menyipit saat menatapku. Hanya ada kami bertiga di dalam lift. Aku mendadak tidak tahu harus berbuat apa. Sempat terlintas pikiran usil di benakku. Kalau Monika tahu hubungan sebenarnya antara aku dan Vincent, apakah dia masih bisa tersenyum seramah itu kepadaku? Namun, aku tidak melakukannya. Meskipun Vincent tidak mencintaiku, aku juga tidak ingin membuatnya semakin membenciku. Satu menit di dalam lift terasa sepanjang satu tahun. Akhirnya, lift tiba di lantai dasar. Aku segera mempercepat langkah untuk keluar. "Berhenti." Suara Vincent yang rendah dan dalam terdengar dari belakang. Suaranya enak didengar di telinga, tetapi sama sekali tidak memiliki kehangatan. Benar-benar berbeda dengan caranya berbicara kepada Monika. Mungkin memang ada orang yang seumur hidup hanya mampu mencintai satu orang. Seperti Vincent yang hanya mencintai Monika dan seperti aku yang hanya mencintai Vincent. "Monika, tunggu aku di mobil." Nada suaranya langsung berubah menjadi lembut. Dia menyerahkan kunci mobil kepada Monika sebelum menyusulku keluar dari lift. Saat pintu lift kembali tertutup, aku sempat melihat tatapan Monika kepadaku. Terkejut. Marah. Tidak rela. Sepertinya, dia sudah menebak siapa diriku. Vincent mengernyit tipis, lalu bertanya dengan dingin, "Untuk apa kamu datang ke rumah sakit?" Aku hanya bisa menghentikan langkah dan menjawab sekenanya, "Menjenguk seorang teman." "Tengah malam, sambil membawa koper?" Nada suaranya penuh kecurigaan. Dia tiba-tiba mencibir. "Agnes, kemampuanmu berbohong semakin buruk." Di matanya, sejak dulu aku memang wanita yang penuh tipu muslihat dan gemar berbohong. Dulu, dia menikahiku bukan karena keinginannya sendiri. Keluarga Gunawan dan Keluarga Winata memiliki perjanjian perjodohan. Tiga tahun lalu, saat Keluarga Gunawan berada di ambang kebangkrutan, aku mendatangi Kakek Albert dan meminta agar beliau menyuruh Vincent menikahiku. Vincent menolak. Pada akhirnya, demi menjaga nama baik keluarga, Kakek Albert bahkan mengancam akan mengakhiri hidupnya sendiri sehingga Vincent tidak punya pilihan selain mengalah. Aku menjadi istrinya, sekaligus menjadi penghalang antara dirinya dan Monika. Aku mencintai Vincent dengan begitu rendah hati. Sebaliknya, dia membenciku sepenuh hati. "Masih tidak mau berkata jujur?" Raut tampan Vincent dipenuhi ketidaksenangan. Nada suaranya terdengar berbahaya. "Kalau menginginkan sesuatu, katakan saja langsung kepadaku. Jangan menggunakan trik di belakangku." Baru saat itu, aku menyadari tujuan sebenarnya dia menghentikanku. Dia hanya takut aku akan menyakiti cinta pertamanya. Vincent, yang kuinginkan adalah cintamu. Saat ini, aku hanya ingin melahirkan anak kita. Namun, keinginan itu tidak akan pernah bisa kamu wujudkan. Hidungku terasa perih. Aku menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata dengan suara serak, "Aku ingin bercerai."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
790.0K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.0M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
372.6K
bc

Not just, the Beta

read
356.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook