Untuk bisa sampai di area dapur, tentunya aku harus melewati ruang makan. Saat kakiku baru saja berjalan satu langkah memasuki ruang makan, sosok Mas Dewa masih duduk di tempat awalnya tanpa bergeser sedikit pun tertangkap oleh indra penglihatanku. Namun, bedanya kali ini adalah pria itu sedang menekuri laptop yang berada di hadapannya dengan tangan yang mencoret-coret sesuatu di layar tabletnya menggunakan pensil elektronik berlogo apel miliknya. Aku pikir, aku bisa berjalan melewati ruang makan tanpa adanya interupsi dari Mas Dewa sama sekali karena pria itu menaruh seluruh fokusnya pada barang-barangnya yang berada di atas meja makan. Namun, prediksiku ternyata salah. Mas Dewa malah mendongakkan kepalanya ketika aku baru saja hendak menghilang di balik sekat pemisah antara area dapur