Alhamdulillah, azan Asar berkumandang sehingga Lena tidak perlu meneruskan hal yang baru berlangsung sejauh ciuman. Lena pun mendorong d**a Bapak Wiliam yang mode ugal-ugalan, seperti tak ada hari esok saja. "Itu tandanya ... jangan sering-sering," seloroh Lena. Pak Wili hendak menyerangnya dengan kecupan, tetapi Lena berhasil menangkis. "Tahan, ya? Masih ada besok. Lagi pula ... masih sakit." Oh, iya. Lena lalu dipeluk gerangan. "Maaf, ya." Lena balas mendekap, melingkarkan lengan di pinggang Pak Wili. Badannya terbilang lebar bagi Lena dan ... serius tubuh ini yang telah merasukinya di pagi menjelang siang tadi? "Emangnya boleh, ya, sesering itu?" Pertanyaan Lena, Wili bingung harus jawab apa selain, "Boleh-boleh saja kalau sanggup." "Abang waktu sama mantan istri yang sebelum-