Dua pria dewasa yang sedang duduk saling berhadapan, akhirnya menyepakati kerjasamanya, Arsen segera menandatangani dokumen perjanjian tersebut. Pandangannya sesekali melirik kearah Dua anak laki-laki yang duduk di sofa, salah satunya sama sekali tidak menunjukkan wajah ramahnya. Tatapannya begitu tajam, seakan-akan dia adalah musuhnya. Tapi anehnya ekspresi itu membuat Arsen gemas. selama ini belum ada anak kecil yang berani menatapnya seperti itu. Malven sedikit memiringkan kepalanya, dia menaikan sebelah alisnya, melihat Arsen dan Rega secara bergantian. “Rega!" Tegurnya, dia merasa tidak enak hati pada Arsen. Rega memalingkan wajahnya kesembarang arah. “Hey, kamu kenapa Bang, Tiba-tiba melamun sambil lihatin Uncle Arsen, apa yang kamu pikirkan?" Jiwa kepo Regi meronta-ronta,

