Malam harinya, ketika si kembar sudah pulang bersama Malven dan hanya menyisakan mereka berdua saja. Khalisa benar-benar telaten mengurus Arsen, dia merapihkan selimut pria itu. Dia pikir Arsen sudah terlelap dalam mimpi, nyatanya Arsen kembali membuka matanya. "Khal..." Panggilnya, "Ya, Mas?" Arsen terdiam untuk sesaat, sedikit ada keraguan tetapi tetap harus di ucapkan. "Kalimat itu... boleh diucapkan sekali lagi, gak?" tanya Arsen, layaknya anak muda yang tengah kasmaran, wajahnya memerah menahan malu. Khalisa tersenyum lalu terdiam untuk beberapa detik, dia menatap netra Arsen yang saat ini memancarkan keteduhan dan kenyamanan. Dia tau jika Arsen tengah memperjuangkan sebuah pengakuan dan persaingan dengan Rega, Khalisa sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke t

