Ares menggenggam tangan Valora erat, senyumnya tak pernah lepas sepanjang perjalanan. Jalanan kota yang ramai tidak mampu mengusik kehangatan di antara mereka. Valora, dengan wajah yang bercahaya, melirik butik elegan di ujung jalan. Di depan mereka, terpampang papan besar bertuliskan “Butik Rosa”—tempat di mana gaun pengantinnya telah dipesan. “Sudah sampai,” bisik Ares sambil mengecup punggung tangan Valora. Valora tersipu, senyumnya mengembang. “Ares, kau tidak perlu berlebihan,” katanya lembut, meski hatinya berdebar karena perhatian kecil itu. Ares tertawa kecil. “Tidak ada yang berlebihan untuk calon istriku.” Mereka melangkah masuk ke butik. Interiornya berkelas, dengan dinding berwarna pastel lembut, lampu kristal yang menggantung di langit-langit, dan deretan gaun yang

