Mata Papa menatap tajam ke arah Ares, seolah mencoba menembus setiap lapisan perasaan dan pikirannya. Ketegangan di ruang tamu keluarga itu hampir terasa seperti dinding yang tak kasat mata, menyelimuti mereka dalam keheningan penuh tekanan. "Ares," suara Papa terdengar berat, nyaris seperti sebuah peringatan. "Apa yang aku dengar itu benar? Kau memutuskan hubungan dengan Cindy?" Ares, yang duduk dengan tenang di kursi di seberang Papa, mengangguk kecil. Senyumnya tipis dan kecut, nyaris seperti cerminan rasa bersalah atau kelelahan. "Benar, Pa," jawabnya akhirnya. Papa menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan gerakan perlahan, kedua alisnya terangkat tinggi. "Cindy itu wanita yang sudah Papa pilih untukmu. Wanita dari keluarga terpandang. Apa yang membuatmu berpikir kau bisa men