1. Terusir Dari Rumah Sendiri.

1896 Kata
Hening pagi itu pecah oleh suara pintu kamar yang terbuka tergesa. “Neng Nawang... bangun, Neng,” suara parau Bik Fatimah merambat ke alam bawah sadar Nawang, yang masih terjerat dalam mimpi. “Ada tamu besar di ruang kerja Bapak.” Nawang menggeliat pelan. Kelopak matanya berat, seolah enggan berpisah dari sisa mimpi yang menenangkan. Baru malam tadi ia bisa terlelap, setelah seminggu penuh tak henti menangis—membasahi bantal dengan rindu yang tak lagi bersambut. Seminggu sudah sejak kecelakaan pesawat itu merenggut kedua orang tuanya sekaligus. Sejak saat itu, tidurnya selalu dihantui mimpi buruk. Baru pagi ini, untuk pertama kalinya, ia merasakan lelap. “Tamu besar siapa, Bik?” gumamnya setengah sadar. Jemarinya mengucek mata, dan tiba-tiba satu bayangan berkelebat di kepalanya. “Jangan bilang...” “Tebakan Non benar. Anak-anak Pak Rasyid sudah menunggu,” suara Bik Fatimah terdengar cemas. “Mas Radit dan Mbak Nindi ada di ruang kerja.” Seketika kesadaran Nawang kembali. Ia duduk di tepi ranjang dengan rambut kusut dan mata sembab. Tamu besar... selalu berarti masalah besar. Cepat atau lambat, ia tahu saat ini akan datang. Mereka pasti akan membicarakan harta peninggalan Pak Rasyid. Dengan langkah gontai, Nawang membasuh wajah. Air dingin mengguncang kantuk dan sisa tangisnya. Rambutnya ia rapikan seadanya, lalu ia bergegas. Dan di sanalah mereka. Raditya Kurniawan, putra tertua Pak Rasyid, duduk di kursi kesayangan ayahnya. Di hadapannya, Anindya Kurniawan—berwajah datar dan dingin. Begitu Nawang masuk, dua pasang mata itu menoleh serempak. Nawang menarik napas panjang. Berhadapan dengan anak-anak kandung ayah tirinya selalu membuatnya merasa kerdil. “Selamat pagi, Mas Radit, Mbak Nindi,” sapanya kaku. Kata-kata itu terdengar asing bahkan di telinganya sendiri. “Baru bangun?” sindir Radit. Bibirnya tak memberi ruang pada senyum. “Kami sudah menunggu selama...” Radit memindai jam di pergelangan tangannya. “Lima belas menit.” “Maaf, saya tidak tahu kalau Mas dan Mbak datang. Makanya—” “Tidak usah diteruskan.” Radit mengibaskan tangan. “Kami ke sini bukan untuk basa-basi, tapi untuk memberitahu kalau besok kamu harus meninggalkan rumah ini.” “Hah, besok? Ke... kenapa?” suara Nawang tercekat. Ia terperanjat dengan pemberitahuan tiba-tiba ini. “Karena kamu bukan bagian dari keluarga ini lagi,” jawab Nindi dingin. “Ayah kami dan ibumu sudah tiada, dan kamu juga bukan anak kandung ayah. Jadi, untuk apa kamu terus tinggal di sini?” ucap Nindi ketus. “Ibumu juga menikah secara siri dengan ayah kami. Itu artinya, kamu tidak punya hak atas apa pun,” tambah Radit tegas. “Tapi... saya sudah lama sekali tinggal di sini. Ini rumah saya juga...” “Bukan!” potong Nindi. Matanya berkilat. “Ini rumah keluarga Kurniawan. Ibumu dulu cuma perawat ibu kami—pelakor keji, perusak rumah tangga orang!” Kata itu menusuk telinga Nawang, pedih bagai sembilu. Lidahnya kelu. Ia tahu, sekalipun ia menjelaskan, tak ada yang akan percaya. Ibunya tidak pernah merebut Pak Rasyid dari Bu Maryamah. Pak Rasyid menikahi ibunya setelah Bu Maryamah meninggal dunia. “Saya... tidak tahu harus ke mana kalau kalian mengusir saya. Seumur hidup, saya hanya punya Ibu,” ucapnya lirih, hampir berbisik. “Mau mendengar satu cerita?” Radit mengangkat alis. “Tapi sebaiknya kamu duduk dulu. Ceritanya panjang soalnya.” Nawang menuruti. Firasatnya buruk—cerita itu pasti ada hubungannya dengan dirinya. “Dulu ada dua kakak beradik yatim piatu di perkampungan kumuh,” Radit memulai, suaranya tenang tapi dingin. “Si kakak cuma tamatan SD, tapi ia punya cita-cita mulia, yaitu menyekolahkan adiknya setinggi mungkin. Ia tidak mau berpacaran dan bekerja mati-matian siang malam demi membiayai pendidikan si adik. Tapi si adik malah hamil di luar nikah. Karena kecewa, sang kakak pun mengusir adiknya. Mereka pun berpisah sejak saat itu. Nama kakak beradik itu adalah Laila dan Laily.” Tubuh Nawang bergetar. Ia tahu siapa Laily itu—ibunya. Dan berarti, ia masih punya seorang bibi: Laila. “Kamu sudah bisa menebak sisa ceritanya, bukan? Besok kami akan mengantarmu ke rumah bibimu, Laila. Mulai saat itu dan seterusnya, kamu akan tinggal di sana.” Nawang menatap Radit nanar. “Mas bilang... ibu saya dulu diusir Bi Laila. Kehadiran saya pasti akan ditolak...” “Kami sudah lebih dulu menemuinya,” potong Radit tidak sabar. “Bibimu bilang, ia bersedia menampungmu asal kamu bersedia hidup seadanya dan tidak banyak tingkah,” tukas Radit tegas. “Dan satu lagi,” Nindi menimpali. “Kamu juga harus ikut bekerja dengannya.” “Kerja? Kerja apa?” suara Nawang tercekat. “Bibimu punya usaha ayam potong di pasar. Kamu harus ikut berjualan setiap pagi buta bersama suami dan kedua anaknya,” jelas Nindi. Radit menambahkan tajam, “Kamu jangan banyak tingkah. Ingat, kamu bukan siapa-siapa sekarang. Jangan bertingkah seperti tuan putri kalau kamu tidak mau bernasib sama seperti ibumu.” Nawang menggigit bibir, menahan tangis yang naik ke tenggorokan. Mereka akan membuangnya ke tangan orang asing—darah dagingnya, tapi asing. Ia tak tahu apakah kehadirannya akan diterima atau ditolak. “Segera kemasi barang-barangmu. Dan jangan coba-coba membawa apa pun yang bukan milikmu. Besok pagi kamu akan kami jemput,” ujar Radit sambil berdiri. Jasnya ia rapikan agar tidak ada bagian yang kusut. Nindi ikut berdiri menyusulnya. “Kamu punya waktu satu hari untuk berkemas. Setelah itu, jangan menampakkan wajahmu di rumah ini lagi.” Mereka pun pergi. Begitu pintu tertutup, tubuh Nawang limbung. Ia bersandar pada dinding, membiarkan air matanya luruh kembali. Rumah ini—dinding, lantai, langit-langit—setiap sudutnya menyimpan banyak kenangan bersama ibunya. Dan sebentar lagi, semua kenangan itu harus ia tinggalkan. Ia seperti sampah tak berguna, dibuang begitu saja. Nawang ketakutan. Ia tidak tahu kehidupan seperti apa yang akan ia hadapi di luar sana. Sepeninggal Radit dan Nindi, bersama Bik Fatimah, Nawang masuk ke dalam kamar. Dengan tangan gemetar, ia mulai mengemasi barang-barangnya. Tidak banyak yang ia bawa: hanya pakaian secukupnya, dua pasang sepatu, laptop, buku-buku, dan beberapa keperluan kuliah. Yang lebih banyak justru barang peninggalan ibunya—pakaian terakhir yang dikenakan almarhumah, album foto masa lalu, serta pernak-pernik kecil yang dulu selalu dipajang di kamar. Bagi Nawang, benda-benda itu bukan sekadar barang; itu adalah kenangan dan penghibur di kala ia merindukan ibunya. Kotak perhiasan ibunya dibiarkan tetap di tempatnya. Ia hanya menatapnya lama sebelum akhirnya memalingkan wajah. Ada kilatan keinginan untuk membawanya, tapi suara Radit dan Nindi terngiang jelas: “Jangan coba-coba membawa apa yang bukan milikmu.” Bik Fatimah, yang sejak tadi membantunya berkemas, akhirnya angkat bicara. “Neng... bawa saja perhiasan Bu Laily. Itu kan peninggalan almarhumah. Hak si Eneng. Lagipula, dari harta Pak Rasyid, Neng Nawang tidak mendapat apa-apa.” Nawang menggeleng pelan. “Saya takut, Bik. Kalau Mas Radit dan Mbak Nindi tahu... mereka pasti menuduh saya macam-macam. Saya tidak mau memperkeruh keadaan.” Bik Fatimah menatap kotak itu dengan tatapan sendu, lalu kembali menoleh pada Nawang. “Kalau begitu, biar Bibik saja yang menyimpan. Suatu hari, mungkin Neng akan membutuhkannya.” Nawang menunduk. “Terserah Bibik saja. Saya... tidak tahu harus bagaimana.” Suasana kamar kembali hening. Hanya suara lipatan pakaian dan helaan napas yang terdengar, seolah tiap hela adalah beban. Nawang merasa ia bukan sekadar meninggalkan rumah ini, tapi juga meninggalkan sebagian dirinya di dalamnya. Setelah selesai mengemas dan Bik Fatimah kembali ke dapur, Nawang terduduk di tepi ranjang ibunya. Ia memandangi seantero kamar yang akan segera ia tinggalkan. Pandangannya menelusuri setiap sudut kamar—pada dinding putih tempat tergantung foto pernikahan ibunya dan Pak Rasyid yang tersenyum bahagia. Nawang menarik napas dalam-dalam, menghidu aroma samar bedak dan minyak wangi ibunya yang masih tertinggal di udara. Ia pasti akan merindukan semua kenangan ini. Nawang meraih album foto di laci nakas dan menyusuri halaman demi halaman. Ia menatap wajah ibunya dari masa ke masa, juga foto-foto dirinya saat masih kecil dalam buaian ibunya. Air mata Nawang jatuh membasahi foto-foto lama yang kusam, menorehkan bercak di sudutnya. “Bu... besok aku harus pergi,” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. “Mereka mengusirku. Rumah ini... katanya bukan rumahku. Aku takut, Bu...” Suara tangisnya pecah. Ia menelungkup di bantal, meremas seprai yang masih menyimpan bekas tidurnya semalam. “Ya Allah... lindungi aku. Aku takut sekali. Jangan biarkan aku sendirian...” Malam itu, Nawang menangis sampai tertidur. Ia pun bermimpi kalau ibunya datang dan memeluknya dalam balutan gaun putih. Dalam mimpinya, ibunya membisikkan kata-kata bahwa Nawang tidak usah takut. Semuanya akan baik-baik saja. *** Pagi itu, cahaya mentari menyelinap malu-malu lewat celah jendela kamar Nawang. Udara dingin membuatnya enggan bangun, tapi kenyataan menyadarkannya: ini hari terakhir ia menyambut pagi di rumah ini. Nawang duduk di tepi ranjang, menatap koper, tas travelling, dan ransel yang sudah siap di sudut kamar. Akhirnya, hari yang ia takutkan terjadi juga. Nawang memindai jam dinding. Pukul tujuh pagi lewat lima menit. Ia punya waktu sekitar satu jam sebelum pergi. Radit dan Nindi akan menjemputnya pukul delapan. Di dapur, Bik Fatimah sedang memasak. Aroma nasi uduk, ayam goreng, telur dadar, dan tumisan sayur memenuhi udara. Ketika Nawang datang, mata Bik Fatimah memerah, seakan ia juga baru selesai menangis. “Neng, sarapan dulu, ya. Bibik sudah membuat nasi uduk kesukaan Eneng. Biar Neng Nawang ada tenaga nanti.” Suaranya parau menahan tangis, tapi Bik Fatimah berusaha terlihat tegar. Nawang menunduk. Ia kemudian duduk perlahan di kursi makan. Bik Fatimah menata piring untuknya, mengambilkan sepotong ayam goreng kesukaannya juga irisan telur dadar dan sayuran. “Ayo, Neng, makan dulu,” tukas Bik Fatimah lirih. Nawang menatap makanan di hadapannya dengan pandangan hampa. Ia tak sanggup menyuap. Tenggorokannya kering. “Bik...” suaranya serak. “Besok-besok kalau saya sudah pergi... jaga diri baik-baik, ya. Jangan terlalu capek. Jangan lupa makan.” Bik Fatimah menggenggam tangan Nawang di atas meja. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Harusnya Bibik yang bilang begitu sama Eneng. Bibik yang khawatir... bagaimana nanti Neng Nawang hidup di rumah orang. Apa mereka sayang kepada Eneng atau tidak...” Suara Bik Fatimah sudah bercampur dengan tangis. Nawang tersenyum getir, mencoba menenangkan. “Bibik jangan khawatir. Saya akan baik-baik saja.” Demi meyakinkan Bik Fatimah, Nawang mulai menyantap makanannya hingga tandas, walau terasa bagai duri di mulutnya. “Bagus. Kalau perut kenyang, pikiran menjadi lebih tenang.” Bik Fatimah tersenyum. Ia kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan tersusun rapi, lalu mendorongnya ke arah Nawang. “Ini Bibik siapkan bekal. Ada nasi uduk kesukaan Eneng dan sedikit uang. Jangan ditolak, Neng. Anggap saja... ini titipan doa Bibik.” Nawang tertegun. Tangannya gemetar saat menerima bungkusan itu. Matanya berkaca-kaca, hatinya hangat sekaligus perih. Ia berdiri, memeluk Bik Fatimah erat-erat. “Terima kasih, Bik... hanya Bik yang selalu ada untuk saya...” Pelukan itu panjang, penuh air mata. Keduanya sadar, sepertinya ini adalah kali terakhir mereka bisa berpelukan. Karena Bik Fatimah juga akan diberhentikan. Ada beberapa pembantu baru yang akan bekerja. Radit dan keluarganyalah yang nantinya akan menempati rumah ini. “Di dalam amplop berisi uang itu ada alamat dan nomor telepon Bibik di kampung. Apabila Neng Nawang membutuhkan bantuan Bibik, Neng bisa menjumpai Bibik di sana. Jangan lupa, masih ada perhiasan-perhiasan Bu Laily pada Bibik,” bisik Bik Fatimah lirih. “Iya, Bik. Nanti pasti saya akan menelepon Bibik,” janji Nawang dengan napas tersengal. Beberapa waktu berlalu sampai akhirnya Bik Fatimah mengurai pelukan. “Sebaiknya sekarang Neng mandi dan bersiap-siap. Sebentar lagi pasti Mas Radit dan Mbak Nindi akan datang.” Nawang mengangguk. Ia kemudian berjalan ke arah kamar dengan langkah gontai. Sebentar lagi, ia sudah bukan lagi bagian dari keluarga ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN