2. Rumah Asing.

2092 Kata
Pukul delapan pagi lewat lima menit, suara deru mobil hitam berhenti di depan rumah besar itu. Radit dan Nindi turun dengan wajah tegang. Tanpa basa-basi, keduanya langsung masuk ke rumah dan menuju kamar utama—kamar yang dulunya ditempati Pak Rasyid dan Bu Laily. Nindi membuka lemari, lalu laci meja rias. Ia menggeledah dengan gerakan kasar, seolah mencari sesuatu yang sangat penting. Matanya terbelalak saat menyadari satu kotak perhiasan milik almarhumah ibu tirinya tak lagi berada di tempatnya. “Mas Radit! Kotak perhiasan Tante Laily tidak ada!” seru Nindi, suaranya meninggi. Ia berbalik menatap Nawang yang berdiri kaku di ambang pintu kamar. “Kamu! Katakan, di mana kotak perhiasan ibumu yang semuanya dibeli oleh ayahku!” Nawang terdiam. Tubuhnya gemetar, lidahnya kelu. Ia tidak berani mengungkapkan kebenaran bahwa Bik Fatimah-lah yang menyimpan perhiasan itu. “Jawab!” bentak Nindi, melangkah cepat menghampirinya. “Jangan pura-pura bodoh! Kamu pasti mencurinya! Dasar maling! Kamu sama saja dengan ibumu. Ibumu maling suami orang, dan kamu maling perhiasan orang!” Nawang menelan ludah, bibirnya bergetar. “Saya...” Nindi meraih ponselnya. Jemarinya bergerak cepat, wajahnya penuh amarah. “Aku akan telepon polisi! Biar kamu tahu rasanya masuk penjara karena mencuri!” “Ndi, jangan gegabah...” Radit menyusul masuk ke kamar, mencoba menahan. Tapi Nindi sudah menekan layar ponselnya. Tiba-tiba Bik Fatimah masuk dan memecah ketegangan. "Jangan, Mbak! Jangan laporkan Neng Nawang! Perhiasan itu... ada pada saya,” aku Bik Fatimah dengan suara serak. Semua mata menoleh ke arah perempuan tua itu. Napas Bik Fatimah tersengal, tapi ia memberanikan diri melangkah maju. Dari saku bajunya, ia mengeluarkan kunci kecil, lalu bergegas ke kamarnya. Tak lama, ia kembali dengan kotak merah beludru milik Bu Laily. “Ini, Mbak. Perhiasan Bu Laily. Saya yang menyimpannya. Neng Nawang tidak tahu apa-apa.” Nindi merenggut kotak itu dengan kasar dari tangan Bik Fatimah, lalu membukanya. Mata Nindi berkilat puas saat melihat isi di dalamnya—berbagai jenis kalung emas, gelang, cincin, dan anting-anting yang dulu kerap dipakai ibu tirinya. Dengan cepat, ia memasukkan kotak itu ke dalam tas besar yang sudah disiapkannya. “Karena Bibik yang jadi maling, Bibiklah yang akan masuk penjara!” Nindi kembali menekan nomor kantor polisi. “Bibik bukan maling, Mbak Nindi. Tolong jangan penjarain Bibik. Bibik hanya membantu Neng Nawang menyimpan barang-barang peninggalan almarhumah ibunya.” Bik Fatimah langsung bersimpuh di hadapan Nindi. Kata penjara menggentarkannya. Melihat Bik Fatimah menangis ketakutan sambil memeluk kaki Nindi membuat Nawang sedih. “Jangan penjarakan Bik Timah, Mbak. Lagi pula, Mbak Nindi juga bukan pemilik perhiasan-perhiasan ini. Perhiasan ini milik ibu saya.” Nawang menyusul masuk, membela Bik Fatimah. Mendengar bantahan Nawang, Nindi melotot marah. “Tapi dibeli dengan uang ayahku! Jadi secara hukum, perhiasan-perhiasan ini milikku!” Nindi makin emosi. Nawang menggeleng. “Benar, akan menjadi harta gono-gini dan menjadi hak ahli waris—tapi kalau ayah dan ibu menikah secara resmi. Kalau siri, itu menjadi hak milik ibu dan akan menjadi hak saya. Tidak peduli memakai uang siapa saat membelinya. Itu kalau kita bicara secara hukum,” Nawang mempertahankan argumennya. “Ayo, Bik, bangun. Jangan bersimpuh begini.” Nawang menarik Bik Fatimah agar berdiri. Ia bisa merasakan betapa gemetarnya tubuh ringkih perempuan tua itu. “Baik, aku maafkan kali ini. Lain kali jangan berani-berani menyembunyikan barang-barang keluarga kami lagi,” ujar Nindi tajam. Ia tidak mau memperpanjang persoalan karena sadar posisinya kalah di mata hukum kali ini. Radit menatap Nindi tajam, memberi peringatan lewat tatapan. Untung saja Nindi tidak bersikap gegabah. Ia lalu menatap Nawang dingin dan berbicara singkat, “Ambil barang-barangmu. Kita berangkat sekarang.” Nawang menunduk dan berjalan keluar, diikuti oleh Nindi dan Bik Fatimah. Ia kemudian mengambil koper, tas travelling, dan ranselnya. Kakinya terasa sangat berat melangkah. Saat melewati Bik Fatimah, perempuan tua itu meraih tangannya erat-erat. Pelukannya singkat, tapi penuh arti. “Neng...” bisiknya lirih di telinga Nawang. “Yang Mbak Nindi bawa itu hanya separuh. Separuh lagi masih Bibik simpan. Kalau suatu saat Neng membutuhkannya, bilang saja pada Bibik. Jangan takut. Itu hak Eneng.” Nawang menahan tangis, hanya mampu mengangguk pelan. Air matanya mengalir deras, membasahi pundak Bik Fatimah. Lalu, dengan langkah terhuyung, ia mengikuti Radit dan Nindi keluar rumah. Keduanya sudah meneriakinya karena tidak sabar. Pintu mobil terbanting. Mesin meraung. Dan rumah yang selama ini menjadi tempat segala kenangannya semakin menjauh dari pandangan. Nawang duduk terpaku di kursi belakang mobil mewah itu, menatap kosong ke jendela. Jalanan yang mereka lalui berubah dari aspal mulus menjadi berdebu dan berlubang. Ia bisa merasakan setiap getaran roda mobil seperti menghantam ketakutan yang bersarang di dadanya. Dua jam perjalanan yang terasa seperti siksaan batin. Di dalam kepalanya hanya ada pertanyaan tanpa jawaban: Bagaimana rasanya hidup di tempat asing yang bahkan tak ia kenal? Apakah bibinya benar-benar akan menerimanya? Atau ia akan kembali menjadi beban bagi orang-orang di sekitarnya? Mata Nawang perlahan berkaca-kaca, menatap wajah tanpa ekspresi Radit dan Nindi di depan yang sibuk berbincang tanpa memperhatikannya. Ia merasa semakin kecil, semakin tidak berarti. Setibanya di ujung jalan, mobil berhenti. Sebuah perkampungan padat penduduk yang terlihat kumuh menyambut mereka. Deretan rumah sempit, saluran air kotor, dan jalanan berlumpur berpadu menjadi satu panorama yang kontras dengan kemewahan mobil yang baru saja mereka tinggalkan. Pandangan penduduk sekitar langsung menyorot mobil mereka dengan campuran rasa penasaran dan keheranan. Radit membuka pintu mobil, diikuti Nindi dan Nawang. Kepada Nawang, Radit memintanya mengeluarkan koper, tas travelling, dan ranselnya sekalian. Rumah Laila ada di gang sempit yang tak bisa dilalui mobil. Beberapa remaja berdiri di sisi jalan, wajah mereka menunjukkan senyum yang menyerupai seringai. Salah satu dari mereka maju, menatap Radit dengan penuh arti. “Om Bos, mobilnya mau dijagain nggak, nih? Kalau mau, kami bisa bantu jaga,” ucap remaja itu dengan suara sarkastik sambil menyeringai. Radit menatapnya dingin, lantas mengeluarkan dompet dan mencabut selembar uang lima puluh ribuan. Remaja itu menerima uang tersebut dan menciumnya penuh drama. “Oke, mobil aman, Om Bos. Tapi kalau mau lebih aman, kasih selembar lagi.” Radit menghela napas panjang, menahan rasa jengkel. Namun, ia tak punya pilihan selain mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan lagi. Remaja itu tertawa puas, lalu melangkah mundur, membiarkan jalan terbuka untuk mereka. Dengan wajah masam, Radit dan Nindi berjalan cepat memasuki gang sempit yang dipenuhi aroma tak sedap—bau kotoran ayam dan sampah basi yang menusuk hidung. Dengan langkah terseok karena membawa koper, tas besar, dan ransel di punggungnya, Nawang mengekor dari belakang. Sepanjang jalan, ia berusaha menahan napas karena bau yang menyengat. Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang tampak lebih lebar meski masih berada di lingkungan kumuh. Beberapa kandang ayam berjejer di halaman, dan tumpukan boks berisi ayam potong disusun di samping rumah. Pintu rumah terbuka sebelum Radit sempat mengetuk, memperlihatkan seorang wanita berusia akhir empat puluhan yang berdiri di ambang pintu. Wanita itu tampak tangguh, meski usia dan kerasnya hidup terpancar jelas dari garis-garis di wajahnya. Matanya tajam menatap Radit dan Nindi, lalu jatuh pada sosok gadis muda di belakang mereka. “Mas Radit... Mbak Nindi... dan ini... pasti Nawang?” suaranya berat, tapi ada rona yang tak bisa disembunyikan—antara keterkejutan dan ketegangan. Nawang menunduk pelan, merasa tubuhnya semakin kecil di hadapan bibinya yang selama ini hanya ia kenal dari cerita-cerita Radit. Wajah bibinya ini ternyata mirip sekali dengan ibunya. Wanita itu menarik napas panjang, mempersilakan mereka masuk. “Masuklah. Mari kita bicara.” Di ruang tamu sempit yang hanya seluas kamar tidur standar, mereka duduk di kursi-kursi plastik murahan yang berderit setiap kali bergeser. Dinding rumah penuh noda lembap dan bercak-bercak hitam, tampaknya jarang dicat ulang. Di sisi lain, kipas angin tua berdengung pelan di sudut ruangan, seolah kelelahan berputar. Laila duduk di bangku rotan pendek, menatap tamu-tamunya dengan mata waspada. Sesekali, matanya mencuri pandang pada Nawang yang duduk tertunduk, memeluk tasnya erat-erat—seolah itu satu-satunya hal yang bisa melindunginya dari dunia. Beberapa menit kemudian, muncul seorang gadis muda dari dapur. Rambutnya dikuncir asal-asalan, mengenakan daster pudar, dan membawa nampan plastik berisi tiga cangkir teh panas dalam gelas bening yang tampak berkerak di tepinya. Uap tipis mengepul dari permukaan teh. “Ini tehnya, Bu,” ucapnya singkat. Wajahnya cemberut. Jelas tidak menyukai tamu-tamunya. Laila mengangguk dan memperkenalkan, “Ini Anisa, anak saya. Yang bungsu.” Anisa meletakkan cangkir di meja asal-asalan. Nindi menoleh pada cangkir teh itu lalu spontan berjengit; wajahnya jelas menunjukkan ekspresi jijik. Ia buru-buru menghindar, bahkan tidak menyentuh cangkirnya. Radit sedikit lebih sopan, meski tatapannya menyapu gelas teh itu dengan enggan. Ia hanya mengangguk kecil dan tidak menyentuh minuman itu sama sekali. “Maaf, kami tidak bisa lama-lama,” ucap Radit cepat, berdiri. “Ini Nawang, seperti yang sudah kami bicarakan. Mulai hari ini, ia jadi tanggung jawab Bu Laila.” Laila mengangkat alis, menatap tajam. “Kalau soal tinggal, saya sudah setuju. Tapi bagaimana dengan biaya kuliah Nawang? Ini baru tahun keduanya kuliah bukan? Dia masih harus menyelesaikan pendidikannya beberapa tahun nanti." Radit menghela napas, terdengar malas. “Itu bukan urusan saya. Kami hanya membantu mencarikan tempat tinggal. Soal kuliah, dia bisa urus sendiri. Mungkin bisa sambil kerja. Atau kalau tidak sanggup, ya berhenti saja dulu.” Nawang menegang. Kata-kata itu seperti palu yang menghantam harapannya. Ia menggigit bibir bawah, menahan air mata. Jawaban Radit yang dingin dan tak berperasaan membuat Laila mendadak terdiam. Namun hanya sesaat. Dengan tenang, ia menyandarkan punggung ke kursi rotannya, menyilangkan tangan di d**a, dan menaikkan sudut bibirnya sedikit—sebuah senyum tipis yang tidak menyenangkan. “Begitu, ya?” ucap Laila datar. “Ya sudah, kalau kalian tidak mau bertanggung jawab, saya akan memanggil beberapa wartawan kenalan saya. Saya akan bilang kalau keluarga Kurniawan yang katanya terpandang itu ternyata menelantarkan adik tiri mereka, membuangnya seperti sampah. Padahal almarhumah ibunya membersamai ayah kalian selama tujuh belas tahun lamanya. Setia, penuh hormat, dan tak pernah menuntut dinikahi secara resmi.” Ia mengedip pelan. “Pasti berita itu menarik jika terpampang di media sosial. Saya jamin netizen akan menggoreng berita itu hingga viral.” Radit sontak menoleh cepat, melotot. “Apa maksud Bu Laila?” suaranya naik satu oktaf, tapi terdengar lebih gugup daripada galak. Laila tak bergeming. Ia menatap tajam Radit sambil bersedekap. “Saya kira Mas Radit cukup cerdas untuk paham. Saya tidak minta banyak. Kalian membuang tanggung jawab begitu saja pada saya—sebagai bibinya, oke, saya terima. Tapi setidaknya, kalian biayai kuliahnya sampai selesai. Kalau soal makan, saya bisa mengupayakannya,” tandas Laila datar. Radit terdiam. Rahangnya mengeras. Matanya melirik sekilas ke arah Nindi yang juga mulai kelihatan panik. Nama baik keluarga Kurniawan terlalu mahal untuk dipertaruhkan. Apalagi bisnis ayah mereka masih berjalan atas nama keluarga besar—publikasi buruk bisa berdampak langsung. “Baik,” desis Radit akhirnya, suaranya pelan tapi jelas. “Kami akan membiayai kuliah Nawang sampai selesai. Tapi hanya itu. Jangan minta macam-macam lagi.” Laila mengangguk, tampak puas. “Baik. Kita sudah setuju dengan tugas masing-masing. Kalau kalian ingkar, siap-siap saja nama besar kalian terpampang di berita online,” ancam Laila. Nindi bersuara, nadanya tajam. “Tapi jangan pikir kalian bisa bolak-balik minta uang. Kami sudah cukup bermurah hati.” Laila tertawa kecil. “Tenang saja. Saya bukan pengemis. Pantang bagi saya meminta sesuatu yang bukan hak saya.” Radit merapikan jasnya, masih terlihat kesal, namun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia berdiri, diikuti oleh Nindi yang menghentakkan kakinya kecil-kecil, tak senang. “Baiklah. Kami pergi,” kata Radit singkat. “Ingat, janji kalian. Jangan sampai media dan netizen yang menagihnya,” kata Laila mengingatkan dengan nada sarkastik. Tanpa menjawab, Radit dan Nindi melangkah keluar dari rumah itu, kembali menyusuri gang sempit yang mulai ramai. Beberapa orang menatap mereka dengan pandangan penasaran. Mobil mewah mereka masih terparkir di ujung jalan, dijaga oleh dua remaja yang kini duduk santai di pinggir trotoar sambil mengunyah permen karet. Setelah mobil mereka pergi, ruangan menjadi senyap. Nawang masih tertunduk, membeku. Laila berdecak pelan, lalu menatap Nawang yang masih duduk membisu seperti anak ayam kehilangan induk. “Kamu dengar sendiri, kan?” katanya akhirnya dengan suara yang lebih tenang. “Kuliahmu aman. Tapi sisanya, kamu harus berjuang. Kehidupan orang miskin itu berat. Hidupmu tidak akan sama seperti saat masih tinggal di rumah mewah itu lagi.” Nawang menatap bibinya, perlahan mengangguk. Laila menarik napas berat, menatap gadis yang kini resmi berada dalam tanggung jawabnya. Wajah kerasnya mulai melunak. “Ya sudah... sini, taruh tasmu dulu. Kamu istirahat. Kita bicara nanti.” Nawang mengangguk, suaranya hampir tak terdengar saat menjawab, “Iya, Bi.” Dan di rumah yang asing, berbau ayam dan kerasnya hidup, Nawang membuka lembaran hidup yang baru—dengan ketakutan, tapi juga setitik harapan bahwa mungkin... hanya mungkin... ada tempat untuknya di dunia ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN