26. Pupus.

1832 Kata

Nawang keluar dari kantin pengadilan dengan hati risau. Benaknya penuh dengan rangkaian percakapannya bersama Hilal tadi—identitasnya, pengakuannya, dan kalimat terakhirnya. Saat ia berdiri di bawah terik matahari siang dan membuka aplikasi ojek online, sebuah mobil berwarna gelap melambat di depannya. Kaca jendela diturunkan perlahan. “Nawang.” Suara itu membuatnya menoleh. Pak Gatot. Pakdenya Kenes. Dan… laki-laki yang kemungkinan besar adalah ayah kandungnya. Pak Gatot mengangkat tangan, memberi isyarat agar Nawang mendekat. “Kamu mau ke kampus, kan? Ayo, saya antar. Kebetulan sekali jalan dengan kantor baru saya.” Nawang tersenyum kecil—senyum sopan, bukan percaya. Tapi ia memang punya tujuan. “Terima kasih, Pak. Boleh.” Ia masuk ke mobil, duduk manis di kursi penumpang. Mobi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN