Nawang baru saja keluar dari ruang sidang bersama pengunjung lain ketika langkahnya terhenti. Di depan pintu, Bu Yani dan Pak Herman sudah menunggu. Wajah keduanya tegang, penuh amarah. Begitu melihat Nawang, Bu Yani langsung maju, memotong jalannya. “Kamu!” serunya sambil menuding. “Kamu puas sekarang? Anak saya dipermalukan di depan umum!” Pak Herman ikut maju selangkah, suaranya berat dan menggertak. “Harusnya kamu mencabut laporan itu. Kamu kan tidak rugi apa-apa! Untuk apa memperpanjang masalah?” Beberapa orang berhenti, menoleh. Nawang tetap diam, menahan diri agar tidak terpancing. Tidak ada gunanya menanggapi provokasi mereka. Melihat sikap masa bodoh Nawang, Bu Yani makin emosi. Ia mendekati Nawang dan menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. “Kamu itu ma

