Pak Bambang menatap kalung itu seolah sedang menatap potongan masa lalu yang terlepas dari kepalanya. Jarinya mengusap liontin Arjuna dengan gerakan lambat, berulang, seperti mencoba membangkitkan ingatan lewat sentuhan. “Kalung ini…” gumamnya pelan. “Bapak tahu siapa pemilik kalung ini?” tanya Nawang hati-hati. Jantungnya berdebar kencang. Jangan-jangan Pak Bambang ingat dan tahu bahwa kalung itu milik Pak Gatot—adik kandungnya sendiri—dan dari sana semua akan terbuka, termasuk fakta bahwa dirinya adalah keponakannya. Pak Bambang tidak langsung menjawab. Ia memejamkan mata, menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Rahangnya mengeras. Beberapa detik berlalu, lalu satu menit, dua menit. Tangannya mengepal, lalu dilepaskan lagi. Napasnya terdengar berat. "Saya rasanya pernah melihat kalung

