Nawang baru saja tiba di pasar sepulang dari toko Cik Aling. Tas ranselnya yang berisi uang tunai senilai seratus lima puluh juta ia sandang di d**a sebelum melangkah masuk ke area kios. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Beberapa pedagang mulai membereskan dagangan, sementara suara tawar-menawar masih bersahutan di lorong-lorong sempit pasar. Nawang masuk ke kios ayam. Ia akan menggantikan Bi Laila menjaga kios sekaligus menutupnya nanti. Namun, ia tidak menemukan bayangan Bi Laila. Hanya ada Anisa seorang. Begitu melihat Nawang datang, Anisa yang sejak tadi duduk di bangku kecil langsung berdiri dan meraih beberapa bungkusan. “Mbak udah datang, aku pulang ya. Ibu tadi tidak enak badan, makanya aku suruh pulang duluan. Ayam juga cuma sisa beberapa ekor lagi. Kata Ibu,

