Tubuh Nawang masih gemetar ketika Hilal memegang kedua bahunya. “Nawang… lihat saya sebentar.” Nawang mengangkat wajah perlahan. Mata beningnya penuh kebingungan dan sisa ketakutan. Hilal menghela napas berat, menahan emosi yang campur aduk—marah karena Nawang ceroboh, takut karena hampir terjadi sesuatu yang buruk, dan… lega karena ia masih sempat menariknya. “Ayo berdiri. Pelan-pelan,” katanya lembut. Ia meraih tangan Nawang dan membantunya bangkit. Namun begitu berdiri, Nawang meringis. Hilal langsung melirik ke sikunya. Darah. Siku kanannya tergores cukup dalam, dan lutut kiri yang tertutup jeans terlihat sobek—bercak merah merembes keluar dari lubangnya. “Seperti yang saya duga, kamu terluka,” gumam Hilal sembari memeriksa sekujur tubuh Nawang dengan tatapannya. Nawang mengge

