Sejak semalam, pikiran Nawang tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Percakapan yang ia dengar antara Oma Laras dan Pak Gatot terus menggema di dalam kepalanya — nama “Nur”, wajahnya yang dibilang mirip, dan nada canggung Pak Gatot saat menyebutkan nama itu. Apa benar yang mereka maksud adalah ibunya? Apa mungkin Pak Gatot… ayahnya? Namun setiap kali memikirkan itu, ketakutan lain ikut muncul. Bagaimana kalau bukan? Bagaimana kalau itu hanya kebetulan? Bagaimana kalau ia hanya menghubungkan satu kejadian dengan kejadian yang lain karena keinginannya mengetahui siapa ayah kandungnya? Terus melamun membuatnya hilang fokus. Ketika seorang pembeli ayam menyerahkan uang, Nawang salah menghitung kembalian. Selisih dua puluh tujuh ribu rupiah. Pembeli sudah pergi jauh sebelum ia menyadar

