Happy Reading "Kinan, sayang. Kamu kenapa, hm?" Valen menyentuh tangan Kinan dan menggenggam tangannya dengan lembut. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang mendalam. Kinan mengerjabkan matanya beberapa kali, pandangannya masih sedikit kabur. Ia mencoba memfokuskan penglihatannya pada sosok Valen yang ada di hadapannya. Barusan, ia merasa Valen meninggalkannya sendirian di kamar, berjalan menuju balkon dan mengangkat telepon dari Vanessa. Apakah itu hanya halusinasi semata? Pikirannya terasa melayang dan tubuhnya terasa lemas. "Kamu sakit?" tanya Valen lembut, mengusap rambut Kinan dengan penuh kasih sayang. Kinan menggeleng pelan, masih merasa bingung dengan apa yang baru saja dialaminya. Ia merasa seperti berada di antara mimpi dan kenyataan. Ponsel Valen berdering lagi, memeca