“Bro, lu bisa bantu gua gak?” ucap Heri saat dia ikut tiduran di sampingku. “Bantaun apa lagi, Her?” Balik tanyaku dengan nada sumbang dan malas-malasan. “Lu gak ngomong apa-apa kan sama Om Herman tentang gua dan Yanti?” Heri menurunkan intonasi suaranya namun serius. Dia bahkan mendekapku seolah meyakinkan dirnya jika aku memang ada di dekarnya. Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan-pelan. Sebenarnya sangat malas untuk membahas sesuatu yang sangat tidak bermutu ini. Namun ada sedikit rasa kasihan karena ternyata Heri sudah menungguku sejak tadi di kamar ini. Sementara Uwa sudah tidur pulas di kamarnya. Orang-orang yang tadi rame berkumpul pun sudah tidak ada yang tertinggal. “Sejauh ini, gua belum ngomong apa-apa tentang kalian. Tapi gua yakin cepat atau lambat, Om Her