Tidak butuh waktu terlalu lama, aku dan Om Herman sudah tiba di rumahnya Mbah Sueita. Rumah yang mungkin lebih layak disebut gubug itu berada di tengah sawah. Jauh dari para tetangga sehingga penerangannya pun hanya menggunakan lampu minyak. Darimana beliau membeli minyak tanah, sedangka aku sendiri sudah lama sekali tidak melihat atau mencium minyak tanah. "Man, sekalin bawa galas kosong juga!" ucap Mbah Suwita saat Om Herman minta ijin ke dapur mungkin untuk mengambil minum untukku dan dirinya. Aku duduk bersila di lantai yang terbuat dari bambu yang disasak. Kami orang Sunda menyebutkan talupuh. Tak berselang lama, Om Herman kembali dengan membawa nampak berisi empat gelas, tiga berisi air putih dan satunya lagi kosong. Setelah itu dia menyimpan masing-masing gelas berisi air puti