Bab 9. Perihal ibu tiri

1324 Kata
"Tuan, kamu mau membawaku ke mana?!" Antara takut dan penasaran, Dinda menatap lucian yang sejak tadi menggenggam tangannya. Ini tidak mungkin bentuk cinta, kan? Mereka baru bertemu beberapa kali. Ya meski sudah berhubungan badan tapi semua itu terjadi karena tidak sengaja dan konspirasi. Tak lama ponsel milik Lucian berbunyi. "Ya." Tak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh lawan bicara Lucian, Dinda hanya diam. "Bagus! Benturkan juga! Lakukan seratus kali lipat!" ucap Lucian dengan gigi tercekat. Dinda berusaha menenangkan, "Ada apa?". Langsung mematikan telpon, Lucian mengusap kepala Dinda lembut. "Tidak ada! Tidurlah, aku akan membangunkanmu jika sudah sampai nanti." Tak ada hal yang lebih baik selain menurut, Dinda memejamkan mata berusaha untuk tidur. Tapi semakin lama Dinda memejamkan mata, semakin lama ia ketakutan. Hujan dan petir yang sedang terjadi di luar membuatnya takut. "Kamu ketakutan! Tenanglah, ada aku di sini." Lucian menarik Dinda dan memeluknya. Tiba-tiba rasa aman dan nyaman itu kembali muncul. Di tengah hujan dan petir yang begitu besar, Dinda tidur di dalam pelukan Lucian. Sementara di tempat lain. Tangan kanan Sekertaris Roy sudah tiba di kediaman Blane, menyeret Nyonya Helen dan mendorongnya ketika sampai. "Ada apa ini?!" Baru saja hendak murka, Tuan Albertson blane langsung terdiam ketika melihat orang-orang Lucian. Ia tahu betul, tidak ada orang yang berani melakukan hal ini selain putranya sendiri. "Apa lagi yang dia lakukan?!" Pria tua berwajah tampan dan masih terlihat gagah itu mengerang murka, giginya tercekat. "Nyonya Helen mengganggu wanita milik Tuan Lucian, beliau bahkan membuat keributan dan menyakitinya," jelas pria itu langsung menatap Helen tajam. "Kamu?!" "Sayang! Dengar dulu penjelasanku, dia itu hanya seorang gadis miskin. Dia bahkan tak mampu membuat putra kita bahagia." "Tutup mulutmu!" Tuan Albertson mencengkram wajah istrinya. Murka sekali. Jika bukan karena anak yang ada di dalam kandungannya, mungkin dia sudah menendang wanita ini dari rumahnya. Jika dulu ia buta kini tidak lagi. Putranya yang selama ini ia abaikan kini telah menyadarkannya. Tapi sial, di saat semua kebusukannya terungkap Albert tidak bisa lepas dari wanita ini karena sebuah janin. "Albert!" Helen mencoba melepaskan cengkraman tapi tidak bisa. Sial, pria tua yang selalu ia beri obat pelemah ini ternyata masih kuat juga. "Putraku lebih bijak dan pintar daripada kamu. Dia pasti punya alasan tertentu untuk memilihnya. Jadi, jangan pernah mengganggunya!" Melepaskan cengkraman dan hendak pergi. "Albert, tapi aku sudah berjanji menjodohkan Bella dan Lucian!" Albertson tertawa sinis, "Itu janjimu, bukan aku." Kembali menghampiri Helen dan mengusap perutnya, "Jika kamu tahu tidak mampu melakukannya kenapa masih berani berjanji? Jangan sampai Lucian mengganti bayi ini dengan bayinya!" "Albert, aku ini istrimu." "Hukum apa saja sesukamu. Tapi jangan sampai bayinya mati." Tuan Albertson berucap sebelum akhirnya benar-benar pergi. Tangan kanan Sekertaris Roy melakukan tugasnya. Menghukum Nyonya Helen sesuai permintaan tuan muda mereka, membenturkan kepalanya sebanyak seratus kali, di kediamannya sendiri. Ditengah penyiksaan, Helen masih saja bisa tersenyum. Wanita itu tersenyum melihat perutnya sendiri. "Ngga sia-sia aku hamil, tidak bisa membuat semuanya kembali seperti semula. Setidaknya, aku tidak mati karena setiap perbuatanku!" katanya di dalam hati. Kembali lagi pada Lucian dan Dinda. Mereka sudah tiba di tempat tujuan. Lucian mengecup bibir Dinda singkat dan siapa sangka ternyata hal itu sukses membuat Dinda langsung bangun. "Kamu?!" Mendorong d**a Lucian dengan kikuk. "Tidur nyenyak hm?!" Tak menjawab, Dinda menatap sekitar. "Ini dimana?!" "Di rumah ibuku, ayo ikut. Aku perkenalkan kamu padanya." Dinda mencoba menghentikan Lucian yang mengajaknya keluar, "Ibumu?!" "Benar." Tak kunjung bergerak, Lucian mengangkat Dinda dan membopongnya. "Tuan, turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri." "Diam." Langsung diam seribu bahasa, Dinda hanya menatap sekitar. Cukup luas dan indah. Rumah yang Lucian maksud penuh dengan rumput hijau dan bunya tabur. "Pemakaman?" Tak menjawab dan hanya mengangguk, Lucian menurunkan Dinda dengan hati-hati. Kemudian mengajak wanita itu duduk bersama dengannya di atas marmar, tepat disamping pemakaman ibunya. "Ibu, calon menantumu sudah tiba." Tak berani protes, Dinda hanya diam. Bagaimana tidak, wajah dingin dan arogan yang biasa ia lihat dan orang lain lihat tiba-tiba sirna. Berganti dengan wajah sendu dan murung yang sangat menyedihkan. Dinda tidak melihat Lucian yang terkenal kejam itu saat ini. "Bagaimana kabarmu hari ini, Bu? Aku ...." Tak melanjutkan ucapannya, tubuh Lucian ambruk di pelukan Dinda. Pria itu tidak menangis, tapi keterdiaman dan pelukannya yang erat cukup membuktikan jika ia begitu kesakitan. Dinda sendiri merasa sesak di d**a, mungkinkah sebenarnya dia telah jatuh hati pada pria ini? Entahlah. Tapi yang jelas kehilangan sosok seorang ibu memang cukup menyayat hati, apalagi muncul seorang ibu tiri setelahnya. Tapi Dinda kira, Lucian yang menakutkan ini tidak memiliki perasaan. Apalagi bisa sampai sesedih ini. Cukup lama terdiam dan menatap lisan di depannya, Lucian akhirnya bangun dan mengajak Dinda pergi. "Apa kamu mau menemaniku berdiam diri sebentar di taman sebelah sana?!" Lucian menunjuk dengan matanya. Tak menjawab Dinda hanya tersenyum, kemudian menarik tangan Lucian dan berjalan lebih dulu. "Ayo!" "Apa ini juga milikmu?!" tanya Dinda saat mereka sudah tiba di sana. Dinda menatap taman indah dan besar di depannya. Pemakaman ini begitu luas tapi hanya ada beberapa makam di dalamnya. Jadi tidak menutup kemungkinan jika ini wilayah milik Lucian atau leluhurnya, kan? "Benar." Tak lagi bertanya, Dinda hanya diam menemani pria itu sesuai permintaannya. Angin sejuk dan hamparan taman yang begitu indah. Membuat Dinda betah berada di sana. Lucian dan Dinda hanya duduk terdiam di sana. Menikmati pemandangan itu bersamaan dengan isi kepala masing-masing. Tak lama Lucian memanggil, "Dinda?" "Ya?" Dinda menoleh, ia terkejut bukan main saat melihat Lucian berlulut di depannya sembari membuka sebuah kotak merah. Ya, Lucian melamar Dinda di kediaman ibunya. "Apakah kamu mau menikah denganku?!" Tenggorokan Dinda seakan terhenti. "Tuan, aku ...." Dinda berdehem, berusaha bicara senormal mungkin. "Tuan, apa kamu yakin? Kita baru bertemu beberapa kali. Dan aku belum yakin apa aku mencintaimu atau tidak." Dinda bicara seadanya. Ia tidak ingin Lucian kecewa padanya hanya karena sebuah harapan. "Tentu saja saya yakin. Dan jika kamu belum yakin apa kamu mencintaiku atau tidak, akan kupastikan kamu hanya akan mencintaiku selama seumur hidupmu!" Nah, kan. Suara baritonnya balik lagi. Dinda meneguk saliva kuat, ucapan Lucian lebih terdengar seperti ancaman, bukan bujukan. "Bagus! Kalau begitu buktikanlah!" ucap Dinda setenang dan seberani mungkin. Haha kamu cari mati ya, Dinda. Dinda merutuki dirinya sendiri. "Baik!" Tanpa basa-basi Lucian menjawab. Berdiri sembari menutup kembali kotaknya. Dinda sedikit merasa bersalah, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. "Tuan, tapi kamu tidak akan memecatku karena ini kan?!" tanya Dinda sembari mengejar Lucian yang hendak pergi. Lucian berbalik dan memojokan Dinda. "Kenapa berubah pikiran? Bukannya tadi ngotot ingin resign? Aku akan mengabulkannya." Dinda panik bukan main. "Ah, Tuan, aku hanya bercanda tolong jangan pecat aku, bagaimana bisa aku membayar tanggunganku kalau aku tidak bekerja." "Itu urusanmu." Pergi meninggalkan Dinda. "Ah, Lucian! Aku masih ingin bekerja di tempatmu," teriak Dinda. Tak disangka Lucian yang sejak tadi sudah berjalan jauh tiba-tiba kembali, mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Dinda. "Sudah berani sekarang, hm?!" Ah, mati aku! Mulut ini, ingin di sobek ya berani manggil namanya! Melihat Dinda berkerut panik Lucian semakin bersemangat. "Kenapa tidak sekalian panggil Lucian sayang aja, hm?!" Gilaaaaaa! Dinda berusaha menyingkirkan tangan Lucian yang sudah melilit di pinggangnya. "Ha ha, sepertinya anda kemasukan banyak angin makannya jadi ngelantur gini. Aku duluan, ya, Tuan. Kabuuuuurrrr!" "Gadis bodoh!" Sekertaris Roy hanya tersenyum saat Dinda tiba di hadapannya. "Kenapa ketawa?!" tanya Dinda cukup galak. Tak menjawab Sekertaris Roy hanya menggeleng kemudian mempersilahkan Dinda masuk ke dalam mobil. Tiba di kediamannya hari sudah mulai gelap. Dinda segera keluar dari mobil dan menutup pintu. Tak lupa juga ia menghadap Lucian untuk mengatakan terima kasih. "Terima kasih sudah mengantar saya pulang, Tuan." Tak menjawab Lucian langsung menutup kaca mobilnya kemudian pergi dari sana. "Apa itu tidak terlalu jahat padanya, Tuan?!" Tak menjawab, Lucian hanya menatap tajam. Seolah bilang jika dia lebih tahu dari pada dirinya. Lewat pantulan kaca Sekertaris Roy langsung menunduk malu. Ia sadar telah melewati batas ikut campur. Di tengah perjalanan Lucian terus terngiang-ngiang oleh ucapan Dinda tadi, kemudian menatap Sekertaris Roy untuk bertindak sesuatu. "Selidiki, tanggungan apa yang membuat dia harus terus bekerja," titah Lucian di tengah perjalan. "Baik, Tuan." Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN