"Sayang, kenapa kamu mau rujak yang ada di depan kantor itu? Kan masih banyak pedangan rujak lain yang pasti jauh lebih enak dan bersih." "Betul, Nona. Atau kita juga bisa suruh koki membuatnya," timpal Sekertaris Roy. Dinda menggeleng kuat. "Kenapa?" "Kalian para orang kaya tidak akan mengerti. Aku pernah hidup susah, jadi tahu betul bagaimana perasaan penjual itu klo ada yang beli dagangannya." "Maksudmu?" Tak menjawab, ucapan Dinda langsung terjawab oleh mata Lucian sendiri. Ya, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mereka baru tiba di kantor. Lucian melihat penjual yang sudah paruh baya itu berjualan sembari mendorong anaknya dikursi roda. Langsung turun, Lucian mengikuti Dinda yang sudah berdiri di depan gerobak. "Pak, rujaknya satu, ya!" ucap Dinda begitu bersemanga

