Melihat ayahnya datang, Sindi langsung berdiri dan menangis. "Ayah, lihatlah tidak hanya menamparku, dia bahkan merusak wajahku," adu Sindi menampakkan wajahnya. Ya, wajah wanita itu memang hampir tertutup oleh bekas tamparan Lucian. Mungkin saking kerasnya, bahkan ada sebagian yang lecet karena terkena cincin Lucian. Kasihan sekali! "k*****t!" Belum menatap orang yang menampar dan masih fokus pada putrinya. Sang Rektor langsung lemas saat mengalihkan pandangan. "Tuan muda Lucian?!" ucap Sang rektor hampir tidak terdengar. Sindi dan teman-temannya saling pandang, aneh dengan sikap Pak Bram yang ketakutan. Ada apa? Bukan hanya mereka, Dinda juga sebenarnya cukup terkejut dengan ekpresi wajah sang rektor yang biasa arogan itu kini begitu ketakutan. "Kamu memanggilku k*****t?" ucap Lu

