Keesokan harinya di depan mansion. Dinda celingak celingak mencari Daren yang sudah berjanji akan berangkat kerja bersamanya. "Cari anak sialan itu? Dia sudah aku kirim kuliah di luar negeri." Suara bariton muncul dari arah belakang, para pelayan membungkukan hormat sementara Dinda menatap tajam. "Kamu mengirimnya?!" "Ya, kenapa? Kamu pikir kamu bisa melawanku lewat bocah tengik itu, ck!" Sudah mengepal, ingin sekali Dinda menjambak rambut pria itu dan menggundulinya tapi ia tahan. Harus banyak rasa sabar menghadapi manusia kejam seperti Lucian ini. "Masih mau menunggunya sampai tua?" Lucian yang sudah duduk di kursi belakang mencoba menawarkan. Tapi Dinda yang masih marah tentu saja menolak. "Sekretaris Roy, katakan. Berapa jam waktu yang harus ditempuh jika jalan kaki dari sini a

