Tatapan Dana tak pernah teralihkan barang satu detik saja dari Elya. Semenjak dirinya mengamati Elya dari dalam toko, hingga kini berhadap-hadapan langsung dengannya, Dana masih diam membisu. Ia menunggu Elya mengucapkan satu-dua patah kata, selain memanggil namanya dengan suara bergetar seperti barusan. "Kok Mas Dana ada di sini?" tanya Elya mencoba sesantai mungkin. Ia tak ingin Dana mencurigai apa yang baru saja dilakukannya di depan sana, di sekitar mobil hitam yang enggan bergerak meninggalkan area rumah tiga tingkat ini. Dana hanya menaik-turunkan bahunya. Tanda ia sendiri tak mengerti bagaimana bisa tadi langkah kakinya kemari. Katakanlah, refleks. Karena sosok Elya tidak ditemuinya di dapur. "Sejak kapan dapur pindah ke depan sana?" "Emm? I--itu..tadi.." "Siapa pemilik mobi