Hamburg, Jerman Tia berdiri di depan dinding kaca apartemennya, matanya memandang langit biru. Tidak tampak sinar Mentari di sana. Tia mendekap lengannya sendiri, rasa dingin yang menusuk tulang membuatnya enggan ke luar. Lagi pula, hari ini mister Jhon masih mengizinkannya libur untuk menyesuaikan diri dengan cuaca. Tubuh Tia terbalut jaket tebal, tak ketinggalan sarung tangan dan kaus kaki terpasang rapi di jari jemarinya. Sebuah syal hitam melilit di lehernya. Walau penghangat ruangan sudah di nyalakan, tetap saja Tia masih merasa kedinginan. “Hei … sedang apa?” tanya mister Jhon masuk dari pintu konekting. Apartemen Jhon dan Tia bersebelahan. Jhon sengaja ikut tinggal di apartemen agar bisa dekat dengan Tia. Entah mengapa ia selalu ingin di samping wanita itu. Sehari saja tak bert

