Pagi ini Tia berangkat ke Bogor menemui bu Ratih. Ia merasa bersalah karena tidak bicara langsung. Berulang kali ia menarik napas dalam, keringat dingin merembes di kening dan punggungnya. Jujur saja, ia sediri tidak yakin dengan pilihannya saat ini. Ada kalanya ia menyesal memilih mister Jhon, tapi sesaat kemudian ia yakin dengan pilihannya. Dan, itu tidak hanya terjadi sekali, itu terjadi setiap kali mister Jhon menyelisih keinginannya. Setibanya di rumah bunda, Tia bergegas turun dari mobil. Langkahnya melambat melihat sosok lelaki yang sedang berdiri membelakanginya. Lelaki itu sedang sibuk dengan kameranya mengambil enggel yang tepat untuk hasil jepretannya. Darah Tia berdesir melirik pungung lelaki yang sepertinya tidak asing itu, ia berharap lelaki itu menoleh. Tapi hingga kakinya

