Malam ini Angin berhembus dingin, Tia duduk di balkon apartemennya memandang bintang di langit. Angin sejuk meniup wajah ayu yang sedang menghayal jauh. Tia menggeleng-gelengkan kepalanya saat mata jernih si pemilik suara merdu itu kembali mengganggunya. Ia berharap dengan bergeleng-geleng bayangan lelaki berjenggot tipis itu rontok dari ingatannya. “Astaghfirullah …” ujarnya memukul-mukul keningnya sendiri. Tia bergegas masuk lalu mengambil buku novelnya, tapi tak satu kalimat pun yang mampu ia baca, konsentrasinya buyar. Ditutupnya buku itu dan meletakkannya di meja, lalu meraih ponsel disebelahnya. Ia menggeser-geser layar pipih itu sekadar melihat postingan yang lewat di berand. Ia berharap postingan di ponselnya mampu menghapus wajah Gagah dari ingatannya. Tapi yang terjadi justru

