Bab 14

1135 Kata
Max menyusul Catherine dan bahkan mencegahnya untuk masuk ke dalam kamarnya. "Aku tidak mengusirmu, kau jangan salah paham, aku hanya tidak mau kau berlebihan dan menganggap kasih sayangku dengan maksut lain, kau keponakanku, dan aku menyayangimu sebagai keponakan pada umumnya, hubungan kita— "Aku hanya ingin ke kamar, tidak perlu berlebihan menjelaskannya, Paman! Aku bukan anak kecil yang harus kau jelaskan seperti itu." Ucap Catherine lalu mendekat. "Lagi pula kita tidak ada ikatan darah bukan? Jikapun lebih dari tadi bukankah tidak masalah? Jadi jangan berlebihan. Maxton Miller." Lanjutnya yang membuat Max jelas saja terkejut. Dia terdiam karena bagaimana Catherine bisa tau? "Apa Kak Evan yang memberitahunya?" Gumam Max. Namun rasanya tidak mungkin karena sedari dulu dia sangat tau bagaimana kakaknya. Bahkan Evan pernah menghajar orang ketika ada yang mengejeknya dan mengatakan jika dirinya adalah anak pungut dari keluarga Miller, meskipun memang itu adalah benar. Tapi Evan tidak pernah menganggapnya sebagai adik angkatnya. Max selalu di perlakukan dangat baik di keluarga Miller, bahkan Evan sendiri benar-benar menyayanginya seperti adik kandungnya sendiri. Maxton Miller, dia di adopsi oleh keluarga Miller saat dirinya kehilangan semua keluarganya. Saat itu dia sebenarnya adalah anak dari sahabat ayah Evan, yaitu Josep Miller. Saat berumur 7 tahun, keluarga Maxton mengalami kecelakaan dan hanya Max yang selamat dari kecelakaan maut itu. Josep yang kasihan memilih untuk mengadopsinya dan ternyata Evan sangat setuju, apalagi dia hanya anak tunggal dan menginginkan seorang adik. Namun Josep meninggal saat Max berumur 20 tahun, sedangkan Evan berumur 35 tahun, Max yang saat itu mendapatkan warisan menolak menerimanya dan hanya meminjam modal untuk usahanya, meskipun Evan memaksanya, tapi Max benar-benar tidak mau. namun tidak di sangka usaha yang dia bangun berkembang dan bahkan sukses dalam lima tahun, namun dia membangun perusahaan di negara lain, untuk itu dia berpisah selama sepuluh tahun ini dengan kakaknya dan semakin mengembangkan bisnisnya di sana. Max tidak sadar sedari tadi melamun di depam kamar Catherine namun dia memilih untuk pergi dari sana dan langsung pergi ke kantornya. Sedangkan di kamar, Catherine sendiri sudah bersiap untuk pergi dari mansion dan jelas saja ingin ke apartemen Viola. Mereka memiliki janji untuk pergi bersama sebelum Catherine nantinya akan ke kantor Max seperti biasanya. ***** "Jadi kau sudah pernah berciuman dengan Paman Max? Bahkan dua kali?" Viola terkejut saat kini mereka ada restoran dan sedang meminum kopi bersama. "Hm, hanya kecupan. Tidak masalah. Itu awal yang bagus. Aku sudah muak berpura-pura, waktunya untuk menggodanya terang-terangan. Aku tidak sabar untuk mendapatkannya." Ucap Catherine dengan santai. "Kau sangat yakin jika pamanmu akan menyukaimu?" "Filingku tidak akan pernah salah, Vio. Dia juga sebenarnya menyukaiku dia menyayangiku lebih dari sekedar hubungan antara keponakan dan paman, aku merasakan jantungnya berdetak sangat kencang saat menggendongku, aku juga merasakan dia menyukai kecupanku, hanya sedikit lagi menydarkannya. Aah sebenarnya aku berharap dia bahkan sadar tidak terlalu lama." Ucap Catherine. "Kau memang gila. Kau malah seperti terobsesi dengan pamanmu." "Hm, katakanlah memang begitu, aku memang sangat terobsesi dengannya dan sangat tergila-gila dengannya. Dia memang harus menjadi milikku secepatnya sebelum ada betina lain yang merebutnya dariku, Vio." Viola hanya bisa mendukung temannya yang memang sudah sangat mengagumi pamannya sedari dulu, dan saat dia dewasa, dia malah sangat terobsesi dengannya. Setelah mereka puas berbelanja dan makan bersama. Catherine pergi ke kantor pamannya. Saat di kantor, para karyawan yang kebanyakan sudah tau jika Catherine adalah keponakan dari bosnya akhirnya tersenyum kepadanya dan menghormatinya. "Hai, Paman." Catherine menyapa Daniel yang ternyata baru saja keluar dari ruangan Max. "Hai, Cantik. Mau menemui pamanmu?" Tanya Daniel yang di angguki oleh Catherine. "Hm, dia ada di dalam. Masuk saja." Ucap Daniel yang lagi-lagi di angguki Catherine. Dia masuk dan langsung membuat Max yang tadinya fokus dengan laptopnya akhirnya menoleh. Catherine terkekej dan berlari kecil ingin dusuk di pangkuan pamannya namun Max mencegahnya. "Duduk yang manis dan sopan di sana, Cath! Jangan macam-macam." Ucap Max yang membuat Catherine cemberut. "Aku ingin memberimu semangat, Paman!" "Jangan lakukan apapun dan duduk saja." Max harus tegas dengan Catherine karena sepertinya memang dia menyadari jika Catherine sengaja menggodanya. Dia tidak mau meladeninya karena menurutnya ini adalah hal yang salah meskipun dia dan Catherine memang benar-benar tidak memiliki hubungan darah. Namun menurutnya, Catherine terlalu muda baginya, bagaimana tidak, Catherine masih berumur 20 tahun, sedangkan Max sudah berumur 35 tahun. Umur mereka terpaut jauh 15 tahun. "Sebentar lagi paman akan pulang, kenap kau tidak pulang saja sekalian? Kenapa malah ke sini?" Tanya Max. "Aku tidak membawa mobil, tadi aku dijemput Viola, untuk itu aku meminta dia mengantarku ke sini agar bisa pulang bersamamu." Ucap Catherine yang akhirnya di angguki oleh Max tanda mengerti. Namun dia ternyata mendapatkan telefon dan kliennya meminta bertemu sekarang, pdahal seharusnya nanti malam jam 6. "Cath, paman harus bertemu dengan klien, apa kau mau di antar Sam saja?" Tanya Max namun Catherine menggeleng. "Kenapa bukan paman Sam saja yang bertemu dengan klien?" Tanya Catherine. "Besok pagi dia aku minta mewakiliku mering ke luar kota, tidak mungkin aku memintanya lembur, kasihan. Jika hanya mengantarmu, tentu saja tidak masalah." Ucap Max yang memang tidak mau menganggu Samuel. "Aku ikut saja, Paman. Aku akan menunggumu di meja lain nantinya." Catherine menolak dan akhirnya memilih untuk ikut karena dia tidak mau pulang bersama orang lain jika bukan dengan pamannya. "Kau yakin? Aku rasa mungkin aku akan lama." Max memang tidak tau dan tidak bisa memastikan dia akan bertemu dengan rekam kerjanya ini lama atau tidak, namun dia membujuk Catherine yang takut nantinya akan bosan menunggunya. "Tidak masalah, jika aku bosan, aku akan menunggumu di mobil. Aku sedang tidak ingin pulang bersama orang lain jika tidak denganmu." Ucap Catherine jujur yang akhirnya di angguki saja oleh Max. Mereka akhirnya pergi ke restoran di mana ternyata rekan kerja Max malah sudah berada di sana. "Jika ada apa-apa, jangan lupa hubungi paman." Ucap Max yang membuat Cahterine hanya mengangguk. Dia juga ikut keluar namun dia duduk di meja yang tidak jauh dari meja Max. Catherine tersenyum sendiri dan menggelengkan kepalanya pelan karena pamannya semakin tampan saat sikap dinginnya keluar dan menjadi berekspresi tegas. Dia menikmati minumannya dan sesekali melihat ke arah pamannya. Max sendiri yang merasa di awasi menghela nafas panjangnya karena tau siapa yang sedang mengawasinya saat ini. Namun saat lama kelamaan, dia yang memang tidak ada kerjaan jelas saja bosan. Catherine mengirimkan pesan kepada pamannya jika dia ingin menunggunya di mobil. Max yang memang saat itu tidak sengaja melihat ponselnya akhirnya menoleh ke arah keponakannya dan mengangguk. Namun saat Catherine berjalan ke parkiran, ternyata hujan tiba-tiba turun, dia tidak mungkin kembali karwna sudah sedikit jauh, dia akhirnya berlari kecil menuju mobil Max dan langsung masuk ke dalam mobil. "Aduh, basah jadinya." Catherine mengomel karena sudah pasti nanti dia akan kedinginan jika tidak langsung menggantinya. Max sendiri yang melihat kejauhan terkejut saat Catherine terkena hujan namun memaksa untuk menuju ke dalam mobilnya. Dia tidak bisa melakukan apapun dan harus meneruskan metingnya sampai selesai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN