Bab 13

1119 Kata
Kini Max menemani Catherine yang sedang makan malam, dia tadi jelas saja sudah makan lebih dulu. "Ck! Jangan melihatku seperti itu, Paman, kau melihatmu seperti mengintimidasiku, akan lebih baik jika kau melihatku dengan tatapan cinta." Ucap Catherine tersenyum yang membuat Max akhirnya tersenyum tipis. "Aku merasa ada yang kau rencanakan, Catherine! Jangan macam-macam selama di sini." Max memperingati keponakannya karena takut jika Catherine bertindak yang tidak-tidak. Meskipun dia tidak tau itu apa. "Tidak macam-macam. Hanya satu macam." Jawabnya tersenyum. "Cepatlah! Habiskan makananmu." Ucao Max yang akhirnya membuat Catnerine tersenyum miring. Sakit hatinya malah tiba-tiba hilang jika melihat Max seperti ini, cinta dan obsesinya mengalahkan semuanya dan akhirnya lukuh kembali jika melihat Max perhatian seperti ini padanya. "Wajar jika Paman Max memang sudah melakukannya, dia adalah pria dewasa, dan tidak mungkin jika menungguku yang bahkan baru dewasa ini." Batin Catherine. "Semoga rekaman vidio itu tidak akan pernah sampai terlihat di mataku, karena aku tidak tau jika andaikan aku melihat percintaan pria yang aku cintai dengan wanita lain, aku bisa menahan diriku atau tidak." "Ada apa, Cath? Jika kau tidak enak badan, bicaralah denganku." Ucap Max karena melihat Catherine melamun sedari tadi. "Tidak ada, Paman." Setelah menemani Catherine, Max masuk ke dalam ruangan kerjanya karena masih ada yang harus dia kerjakan, apalagi tadi Daniel menggantikannya meting dan dia belum tau apa hasilnya. Catherine yang jelas saja belum bisa tidur menghampiri Max yang ada di ruangan kerjanya dan membawakannya minuman. "Kau tidak tidur lagi, Cath?" Tanya Max namun tersenyum melihat keponakannya membawa sesuatu untuknya. "Aku baru bangun, mana bisa langsung tidur lagi." Ucap Catherine lalu memberikan minuman itu kepada pamannya. "Terima kasih." Ucap Max yang di tanggapi Craherine dengan senyuman. "Boleh aku menemanimu di sini, Paman? Aku bosan jika harus sendirian di kamar." Ucap Catherine yang di angguki olehnya. Selama ini memang sudah sering Catherine berada di ruangan kerjanya jika dia sedang bekerja, dan Max tidak pernah keberatan sama sekali karena dia sendiri tau jika Catherine juga butuh teman. Catherine tersenyum sendiri sambil memainkan ponselnya karena Viola mengumpatinya dan mengatakan jika dia labil karena kini bahkan sudah berubah menjadi biasa saja bersama Max. Padahal tadinya dia menangis dan merasa sakit hati dengan Max dan juga mantan kekasihnya. Max juga tiba-tiba ikut tersenyum tipis ketika melihat Catherine tersenyum sendiri seperti itu. "Cath, aku sudah selesai, kau masih tidak ingin tidur? Ini sudah tengah malam." Ucap Max karena memang ini sudah hampir jam 12 malam. Catherine yang tadinya melihat film di laptopnya akhirnya mematikannya dan menutupnya. Namun saat keluar dari ruang kerja Max, Catherine memegang kepalanya dan bahkan hampir terjatuh yanh membuat Max jelas saja terkejut dan reflek menangkapnya. "Cath! Ada apa?" "Entahlah, kepalaku tiba-tiba sakit, mungkin pengarjh alkoholnya masih terasa." Ucap Catherine. "Masih terasa? Tapi— Max kembali terkejut karena Catherine semakin hampir terjatuh dan akhirnya dia menggendongnya. "Jangan minum lagi, Cath! Atau aku akan mengadukanmu ke ayahmu." Ucap Max pada akhirnya mamun Catherine hanya mengangguk, dia melingkarkan tangannya di leher pamannya dan semakin memeluknya hingga dia bersamdar di dadanya. Dia tersenyum tipis karena sebenarnya dia hanya berpura-pura agar bisa di gendong dan di peluk pamannya seperti ini, Dia yakin tadi saat pamannya membawanya dari apartemen Viola, dia menggendongnya, hanya saja dia tidak mengingat apapun, untuk itu Catherine melakukan sandiwara ini agar dia bisa merasakannya dengan keadaan sadar. Sedangkan Max menahan nafasnya, dia merasakan hal aneh jika berdekatan terlalu lama dan intim seperti ini dengan Catherine. Apalagi jika dia mengingat kejadian tadi di mana Catherine menciumnya dan memintanya untuk menyentuhnya. "Dia benar-benar wangi, aku sangat menyukainya." Batin Catjerine yang bahkan sedari tadi tadi mendekatkan bibirnya di d**a Max agar bisa mencium baunya meskipun dari luar karena Max memakai kaos santai. Setelah sampai di kamar Catherine, Max langsung menurunkannya di atas ranjang namun Catherine tidak melepaskan tangannya yang ada di lehernya. "Lepaskan, Cath!" Max mencoba melepaskan tangannya namun Catherine terkekeh dan tidak mau melepaskannya, dia malah menariknya dan sengaja memberanikan diri mencium bibir Max namun lalu melepaskannya. Jelas saja Max terkejut dan langsung menegakkan tubuhnya. "Catherine!" Tegur Max. "Aku menyukainya, Paman." Ucap Catherine tersenyum tanpa adanya rasa bersalah. "Ini salah! Jangan mencoba mencium bibirku lagi." Max marah karena merasa Catherine sudah berlebihan kepadanya. Bukannya takut dengan teguran dan kemarahan Max, Catherine malah mengubah posisinya dengan terduduk. "Jantungmu berdetak dengan kencang. Paman, aku pikir kau menyukainya." Jawabnya dengan santai. "Aku adalah pamanmu, akan lebih baik jika kau berlaku sebagai seorang keponakan pada umumnya." Ucap Max lalu akhirnya pergi dari sana. Sedangkan Catherine cemberut dengan sikap Max karena jual mahal dengannya. "Kau pikir aku tidak tau, bahkan saat menggendongku tadi aku mendnegar detak jantungnya yang berdebar kencang, sama seperti saat aku berada di dekatnya." Gerutu Catherine yang mengomeli pamannya meskipun dia sudah tidak ada di kamarnya. "Kau akan terbiasa denganku, Paman. Aku hanya perlu menggodamu," Catherine benar-benar sudah kehilangan akal dan tidak peduli dengan apapun, dia sudah satu minggu berada di sini, dan sepertinya Max sudah terbiasa akan kehadirannya. Untuk itu dia akan menggodanya secara terang-terangan mulai saat ini. Sedangkan Max mengusap wajahnya dengan kasar, dia jelas saja marah dengan apa yang dilakukan Catherine tadi, jika tadi pagi mereka memang pernah berciuman namun itu karena tidak sengaja, dan mereka kembali berciuman bahkan Catherine mlumat bibirnya, namun mereka melakukannya juga tanpa sengaja karena Catherine dalam keadaan mabuk, sedangkan baru saja, Catherine benar-benar sadar dan dia juga mengakui jika dia menyukai mencium bibirnya. "Benar-benar gila!" Ucapnya. Memang benar yang dikatakan Catherine jika jantungnya bernar-benar berdetak dengan cepat, dan dia pun tidak tau kenapa bisa seperti itu, padahal seblumnya dia tidak oernah seperti ini. "Aku tidak mungkin menyukai keponakanku sendiri bukan?" Gumamnya lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Max memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh wajahnya agar menghilangkan rasa yang menurutnya sangat salah ini. ***** Keesokkan paginya, Catherine turun ke bawah dan bahkan menyapa Max seperti biasanya, dia juga mencium pipi Max yang membuat Max terkejut. "Aku hanya mencium pipimu, Paman! Kenapa kau seperti takut kepadaku." Ucap Catherine terkekeh sendiri. "Astaga, anak ini! Apa dia tidak tau jika kebiasannya ini benar-benar bahaya bagiku." gumamnya pelan. "Jangan aneh-aneh dan jangan lakukan hal seperti semalam, Cath! Ingat jika aku pamanmu. Kau seharusnya menghormatiku dan kau sudah cukup dewasa untuk mengerti ini semua," tegur Max namun Catherine malah mengangkat kedua bahunya. "Aku akan mengembalikanmu kepada orang tuamu jika kau tidak mendengarkanku, Catherine!" Max mengeluarkan juris andalannya untuh mengancam Catherine agar dia menurut padanya. "Aku akan tinggal bersama Viola jika kau terus mengusirku, Paman! Lagi pula aku merasa tidak melakukan hal yang salah, paman lah yang berlebihan karena selalu mengancamku seperti itu, menyebalkan sekali!" Ucap Catherine yang lama-lama kesal dengan ancaman pamannya yang lagi-lagi ingin mengusirnya dari mansionnya. "Bukan seperti itu, aku tidak mengusirmu, aku hanya— Catherine, tunggu! Kau mau ke mana?" Max terkejut karena Catherine pergi meninggalkan meja makan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN