"Ck! Anak ini." Viola menggerutu karena melihat Catherine sudah teler akibat mabuk.
Sebeanrnya dia sendiri merasa kasihan dengan Catherine, di mana dia sudah benar-benar cinta mati dengan pamannya sendiri,
Hubungan dan perjuangannya akan rumit meskipun pamannya tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Apalagi dia dan pamannya memang terpaut jauh, Catherine yang masih berumur 20 tahun, sedangkan pamannya sudah berumur 35 tahun, hanya saja memang Max sangat tampan dan bisa menjaga tubuhnya, untuk itu wajahnya memang terlihat masih sangat muda.
Viola sendiri tidak terkejut ketika paman dari Catherine ini tidak pernah menyentuh wanita sama sekali di usianya seperti sekarang, dia pasti juga pernah memiliki kekasih dan jelas saja pernah melakukannya karena Max adalah pria dewasa.
Hanya saja Viola tidak bisa membayangkan jika andaikan dirinya menjadi Catherine dan melihat percintaan pria yang di cintainya setengah mati ini dengan wanita lain.
Viola menghela nafas panjangnya dan berjalan ingin membuka pintu kamarnya karena ada yang memencet bel-nya,
"Cepat sekali. Perasaan aku baru sepuluh menit memesannya." Gumam Viola karena memang dia memesan makanan untuknya dan Catherine nanti jika dia sudah bangun.
Namun saat membuka pintu, Viola melotot karena bukan kurir pengantar makanan, melainkan Max, paman dari Catherine.
"Kau teman Catherine?" Tanya Max tanpa basa basi.
"Y-ya. Iya. Paman." Jawab Viola.
"Catherine ada di sini?" Tanyanya lagi yang membuat Viola mengangguk.
"Katakan padanya aku di sini, dan dia harus pulang." Ucap Max yang di angguki lagi Viola, namun sedetik kemudiam dia menggantinya dengan menggeleng.
"Catherine tidak bisa pulang, Paman." Ucapnya yang membuat Max mengerutkan dahinya.
"Dia— dia sedang teler, Paman." Ucap Viola yang membuat Max semakin tidak mengerti.
"Mabuk. Dia mabuk dan tertidur." Ucap Viola lagi yang membuat Max terkejut.
"Astaga!" Lirih Max.
"Boleh aku melihatnya?" Lanjutnya yang akhirnya di angguki oleh Viola.
Viola mempersilahkan Max untuk masuk ke dalam dan memperlihatkan Catherine yang tertidur pulas.
"Apa dia memiliki masalah?" Tanya Max namun Viola menggeleng.
"Aku tidak tau, Paman. Jikapun aku tau. Maafkan aku . Aku tidak bisa mengatakannya." Ucap Viola yang di mengerti oleh Max.
"Biar aku membawanya," ucap Max yang tidak tau kenapa Catherine bisa seperti ini.
Dia bahkan tidak bisa mencerna semuanya atau memang Catherine memang ingin mabuk.
Viola jelas saja tidak melarangnya karena Max adalah pamannya dan Catherine di sini adalah tanggung jawabnya.
Max menggendong rubuh Catherine di mana memang dia sudah tidak sadarkan diri, bau alkohol menyengat di dalam hidungnya yanh sepertinya memang Catherine mabuk berat.
"Bagaimana bisa seperti ini, Cath!" Gumam Max menghela nafas panjangnya, dia bahkan sedari tadi mengemudikan mobilnya sambil sesekali melihat Catherine yang masih tertidur pulas.
Catherine seperti marah, namun dia sepertinya marah karena di tampar oleh Lucy dan itu membuat dia benar-benar ingin sekali membuat perhitungan dengannya.
Karena kecemburuan Lucy yang mungkin mengira Catherine adalah kekasihnya membuat Catherine terkena imbasnya.
Setelah sampai di mansion. Max menggendongnya kembali untuk dibawa olehnya ke kamar. Namun Catherine terbangun dan malah tersenyum.
"Hai tampan." Catherine bahkan melingkarkan tangannya di leher Max namun dia hanya diam saja karena tau jika Catherine terpengaruh alkohol.
"Ooh, apa kau membawaku ke kamar? Ternyata kau sudah tidak sabar denganku." Catherine terkekeh dan mendekatkan wajah Max yang membuat dia terkejut.
"Catherine! Jangan aneh-aneh." Max jelas saja merasa tidak nyaman dengan perlakuan Catherine meskipun dia sedang mabuk.
"Aku sudah siap jika kau menginginkanku." Max terkejut karena Catherine malah membuka bajunya sedangkan dia masih menggendongnya.
"Sial! Catherine! Ini aku, pamanmu." Ucap Max namun Catherine tidak mendengarkan. Dia masih membuka kancing bajunya yang akhirnya bahkan sudah terlihat bra miliknya yang membuat Max semakin mengumpat.
Dia akhirnya semakin mempercepat langkahnya dan membaringkannya di atas ranjang.
Max ingin menutup baju Catherine yang dibuka olehnya tadi namun lalu dia melotot karena Catherine malah mengatahkan tangannya untuk menyentuh benda kenyalnya.
"Catherine, kau—
Max semakin melotot ketika Catherine menarik wajahnya dan bahkan di cium olehnya. Bukan hanya di cium, tapi kini Catherine malah melumat bibirnya yang membuat Max langsung mendorongnya dengan keras.
"Aargh, kau kasar sekali. Sedari pagi aku sudah mendapatkan kekerasan, apa sekarang kau juga berlaku kasar denganku." Ucap Catherine namun lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Max.
Jantung Max berdetak dengan kencang, dia memilih untuk langsung pergi dari sana untuk menjaga kewarasannya.
"Sial-sial!." Max sedari tadi mengumpat karena bagaimana bisa dia tadi berciuman dengan keponakannya dan bahkan menyentuh benda kenyalnya.
Meskipun semua itu karena ulah Catherine, namun jelas saja dia bisa merasakannya, bahkan ini bukan pertama kalinya Max merasakan bibir Catherine, tadi pagi mereka juga tidak sengaja berciuman meskipun hanya menempel,
Namun kini dia bukan hanya menempel, tapi Catherine bahkan merasakan bibirnya dan melumatnya, dia sendiri tadi bisa merasakan bibir Catjerine meskipun berbau alkohol yang menyengat.
"Dia benar-benar berbahaya. Aku pikir dia akan membahayakan jika di luar mansion, tapi sepertinya dia lebih berbahaya jika ada di mansion atau saat bersamaku." Gumam Max.
Max menghela nafas panjangnya dan memilih untuk menghilangkan rasa ini, dia tidak mau terbayang-bayang apa yang sudah dilakukan oleh Catherine padanya tadi.
Saat malam hari, bahkan sampai hampir larut malam, Catherine belum terbangun yang membuat Max terpaksa ingin membangunkannya.
"Astaga! Ini benar-benar godaan." Gumam Max karena baju Catherine sudah benar-benar tidak berbentuk. Bra-nya terlihat jelas karena memang Catherine tadi membukanya dengan lebar dan bahkan bajunya hampir terlepas.
"Bahkan saat berantakan seperti ini dia sangat cantik." Max jujur mengagumi kecantikan Catherine.
Dia tersenyum tipis dan akhirnya memilih untuk menutup kembali bajunya karena dia takut saat Catherine sadar malah mengira dia melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya.
Max menahan nafasnya karena jelas saja dia melihat benda kenyal Catherine yang terlihat besar, kulitnya benar-benar putih mulus yang membuat dia tanpa sadar melihat ke arah sana terus menerus.
Bahkan meskipun sampai bajunya sudah tertutup pun dia masih melihatnya namun akhirnya dia menegakkan tubuhnya.
"Catherine." Panggilnya namun jelas saja Catherine masih tidak mendengarnya.
"Catherine. Bangun! Kau belum makan malam." Max kini menyentuh tangannya dan membangunkannya yang membuat Catherine akhirnya menggerakkan tubuhnya.
Namun bukannya membuka matanya, Catherine hanya mengubah posisi tidurnya yang membuat Max mengerang.
"Astaga, anak ini." Gumamnya.
"Catherine, bangun!" Max kembali menggoyangkan tubuh Catherine yang akhirnya dijawab olehnya hanya dengan berdehem.
"Jangan mengangguku, Dad! Kepalaku sangat pusing." Ucap Catherine dengan suara seraknya.
"Aku akan mengembalikanmu kepada orang tuamu jika kau tidak bangun, Catherine." Ucap Max namun Catherine lagi-lagi hanya menanggapinya dengan deheman.
"Baiklah, aku akan benar-benar mengirimmu besok. Cath. Tidak ada bantahan." Ucap Max namun Catherine masih tidak sadar,
Tak lama kemudian Catherine tiba-tiba membuka matanya dan sepertinya tersadar jika yang mengobrol dengannya bukanlah ayahnya.
"Oh my god!" Catherine langsung terbangun.
"Paman. T-tidak. Aku tidak mau." Ucapnya yang akhirnya membuat Max menoleh dan tidak jadi keluar dari kamar Catherine.
"Aduh, kepalaku kenapa pusing sekali." Gumamnya.
"Kepalaku pusing, Paman! Aku tidak tau jika kau membangunkanku, kenapa cepat sekali marah dan ingin mengembalikanku." Omelnya sambil memegang kepalanya.
"Sudah tau tidak kuat minum alkohol kenapa malah meminumnya sampai mabuk." Kini akhirnya berganti Max yang mengomeli Catherine yang membuat dia akhirnya terkejut dan mengingatnya.
"Eh! Aku ada di kamar? Bukankah aku tadi ada di apartemen Viola?" Catherine bahkan baru menyadari jika diriny sudah berada di mansion pamannya.
Max menghela nafas panjangnya dan akhirnya menghampiri keponakannya.
"Ada apa denganmu, Cath? Kenapa kau mabuk? Apa kau memiliki masalah? Atau karwna tadi pagi Lucy menamparmu? Aku akan membuat perhitungan dengannya jika ini karenanya." Ucap Max namun Catherine hanya terdiam.
"Aku tidak apa, Paman. Maafkan aku. Aku hanya ingin minum saja tadi." Ucap Catherine yang jelas saja tidak mengatakan yang sebenarnya.