Bab 11

1126 Kata
Kehadiran keponakannya membuat ruangan Max yang biasanya sepi akhirnya kini seperti menjadi terisi, meskipun Catherine tidak mengganggunya dan hanya fokus dengan ponsel dan laptopnya, namun bau parfumnya bahkan membuat ruangannya seperti segar. Entah kenapa Max malah memandangi keponakannya yang sedang fokus melihat drama cinta kesukaannya, dia senang dan tidak sadar selalu memandanginya. Catherine yang merasa di perhatikan akhirnya menolek ke arah pamannya. Dia terkekeh dan akhirnya menghampiri pamannya dan lagi-lagi duduk di atas pangkuannya yang jelas saja membuat Max terkejut. "Tidak begitu kelihatan jika di kejauhan, jadi aku memoermudah paman untuk melihatku." Ucap Catherine tersenyum manis. "Turunlah, Cath!" Max bahkan melepaskan tangan Catherine yang berada di lehernya namun Catherine malah cemberut. "Paman aneh sekali." Ucap Catherine. Max membuang mukanya karena merasa aneh jika terlalu dekat seperti ini dengan Catherine. "Baiklah, aku akan turun." Ucap Catherine lalu mencium pipi Max, namun tidak di duga, Max malah menoleh sehingga ciuman Catherine malah berada di bibir Max. Jelas saja mereka berdua terkejut namun malah menyengir. "Aku tadi hanya ingin mencium pipimu, Paman." Ucap Catherine lalu turun dari pangkuan Max. "Aku akan berkeliling saja, Paman." Catherine yang sedikit malu memilih untuk menghilang sementara dari wajah pamannya. Dia bahkan buru-buru keluar dari ruangan pamannya. Sedangkan Max masih terbengong, dia tidak menyangka jika tadi dia dan keponakannya berciuman meskipun tanpa sengaja. "Itu tidak sengaja, Max. Jangan berlebihan dan anggap itu hanya kesalahan." Gumam Max lalu menetrakan dirinya dan lebih baik melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan di toilet, Catherine malah kegirangan dan sedari tadi tidak bisa menahan bahagianya. "Oh, astaga! Bibirnya— aku menyukainya.. aku benar-benar menyukainya." Ucap Catherine yang tersenyum lebar. "Jika tadi aku melumatnya, itu akan jauh menyenangkan," Catherine yang merasa malu sendiri akhirnya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Namun suatu saat bukan hanya bibir, bahkan tubuh Max sudah pasti akan menjadi miliknya. Saat berkeliling, Catherine malah bertemu Daniel, namun Catherine menatap tidak suka karena dia membawa perempuan yang waktu itu mengatakan jika dia hamil anak dari Max. "Kenapa kau membawanya, Paman?" Ucap Catherine. "Hei, Bocah! Lebih baik kau tidak ikut campur urusan orang dewasa, minggirlah!" Lucy bahkan hampir mendorong Catherine namun Daniel mencegahnya. "Aku akan menyeretmu keluar jika kau menyentuhnya, Lucy! Ingat tujuanmu datang ke sini, bukan untuk membuat keributan dengannya," ucap Daniel menatap tajam ke arah Lucy. "Dia adalah wanita kesayangan Max, jika dia tau kau menyentuhnya sedikit saja, mungkin tanganmu akan dipatahkan olehnya." Lanjutnya yang akhirnya membuat Lucy terdiam namun di hatinya dia benar-benar merasa kesal. "Ngomong-ngomong, apakah kau mengenalnya? Dari perkataanmu sepertinya kau pernah bertemu dengannya, Cath." Tanya Daniel penasaran. Lucy terkejut dan takut bocah ini mengatakan sesuatu kepada Daniel, dia ingin bertemu dengan Max terlebih dahulu dan mengatakan ingin meminta pertanggung jawaban darinya dengan bantuan Daniel. "Kita langsung saja bertemu dengan Max, Niel, kenapa malah mengobrol dengannya." Ucap Lucy yang langsung saja menarik Daniel ke ruangan Max. "Waktu itu aku sudah pernah bertemu dengannya, dia mengaku hamil anak Paman Max tapi nyatanya dia— Catherine terkejut karena Lucy menamparnya dengan keras yang membuat Catherine bahkan hampir terjatuh dan sudut bibirnya berdarah. "Lucy!" Daniel jelas saja marah dan bahkan menarik tubuh Lucy agar menjauh dari Catherine. "Dia sangat lancang, Niel!" Lucy marah namun membuat Catherine memiliki kesempatan untuk membalas tamparannya tadi. Daniel juga melotot ketika Catherine berani membalas tamparan Lucy. "Cath!" Max yang tadinya mendapatkan laporan dari Samuel jika ada Lucy dan sedang berdebat dengan Catherine akhirnya langsung menghampirinya. "Max, dia mendorong dan menamparku." Ucap Lucy menatap sedih ke arah Max. "Ya, dia benar, aku memang menamparnya, Paman. Karena dia menamparku lebih dulu." Ucap Catherine lalu menoleh ke arah Max yangbuat Max lebih terkejut karena pipi putih Catherine memerah dan bahkan sudut bibirnya berdarah. Max jelas saja langsung mengeraskan rahangnya, dia benar-benar marah karena keponakannya bisa seperti ini. "Maafkan aku, Max! Aku yang membawanya ke sini karena ada hal penting yang harus kalian bicarakan," ucap Daniel yang mengaku bersalah karena sepertinya membawa Lucy adalah sebuah kesalahan, apalagi di saat ada Catherine di sini. "Hal penting apa? Aku bahkan sudah tidak menganggapnya penting, bagaimana kau bisa membawanya dan percaya dengan kata-katanya!" Max jelas saja marah dengan Daniel karena telah membawa wanita ini dan akhirnya membuat keributan dan menampar Catherine. Daniel terdiam dan sepertinya dia memang salah membawanya. "Bicaralah dulu dengannya, dia hamil dan "Aku bahkan sudah bertemu dengannya, dia sudah mengakuinya, dia bukan anakku karena aku sudah tidak pernah menyentuhnya lagi." Ucap Max. "Dia memiliki rekaman kau bercinta dengannya dan akan mengancam menyebarkannya jika kau tidak mau berbicara dengannya." Ucap Daniel yang mengatakan alasan utamanya membantunya untuk bertemu dengan Max. Sedangkan Catherine mengepalkan tangannya. Dia awalnya saja sudah merasa sakit hati ketika ternyata pamannya sudah pernah tidur dengan wanita lain, tapi ternyata wanita ini memiliki rekaman vidionya. "Biarkan saja, jika rekaman itu tersebar, karirnya pun akan hancur, itu tidak membuktikan apapun jika di dalam perutnya adalah anakku krena aku bisa melakukan tes dna untuk membuktikannya, aku akan melaporkannya ke polisi dengan tindakan pencemaran nama baik dan lainnya jika berani mengusikku." Ucap Max lalu menarik tangan Catherine dan ingin membawanya masuk ke dalam ruangannya namun Catherine tidak mau dan memilih pergi dari sana. "Catherine." Panggil Max yang terkejut. "Bubar! Apa yang kalian lihat." Samuel meminta karyawan lainnya untuk bubar. "Tuan, setelah ini anda ada meting." Samuel terpaksa mencegah Max yang ingin pergi menyusul Catherine krena sebentar lagi dia ada meting penting. "Batalkan saja." Ucap Max lalu mengejar Catherine sampai ke parkiran namun mobilnya tidak ada. Lucy mengepalkan tangannya namun dia tidak bisa apapun lagi ketika Max tadi sudah mengatakan seperti itu, jelas saja dia tidak mau karirnya hancur dan keluarganya jelas saja semakin menyalahkannya, dia tadinya ingin mengancam Max yang mungkin saja mau bertanggung jawab atas dirinya dan menikahinya, namun ternyata dia malah mengancam balik dirinya dan akhirnya sepertinya harapannya sudah pupus. "Biar aku yang menggantikan Max, kau ikut denganku." Ucap Daniel yang membiarkan Max mencari keponakannya, dia merasa sikap Catjerine sedikit berbeda kepada Max dan malah seperti cemburu layaknya seorang pasangan, bukan cemburu sebagai keponakan kepada pamannya, namun dia tidak ingin berpikiran lebih jauh lagi karena ini masih satu minggu Catherine tinggal bersama Max. Sedangkan Catherine melajukan mobilnya menuju apartemen Viola, jelas saja dia pergi ke sana karena dia tidak ada tujuan lain. Viola yang tadinya enak-enak masih tidur jelas langsung terkejut ketika melihat Catherine datang kepadanya dalam keadaan menangis. "Ada apa. Cath?" "Paman Max, dia sudah pernah tidur dengan wanita lain, ahkan wanita itu memiliki rekaman percintaan mereka." Ucap Catherine yang masih menangis. "Bukankah kau sudah menceritakan ini padaku? Aku pikir kau tidak mempermasalahkannya." Ucap Viola. "Masalahnya dia memiliki rekaman percintaan mereka. Aku takut jika aku melihatnya dan akan terus terbayang di pikiranku." Ucap Catherine yang membuat Viola akhirnya mengelus punggung sahabatnya. Catherine melihat bagaimana Lucy tadi sepertinya ingin sekali mendapatkan Max, dan dia takut jika mungkin saja Lucy akan mengirimkan rekaman itu kepadanya seperti kasus pelakor pada umumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN