Hari-hari berlaku, Catherine terpaksa menunda rencananya untuk menggoda pamannya lebih awal karena saran Viola.
Dan kini sekarang dia sedang bersamanya karena dia baru saja sampai dan menempati apartemennya.
"Kenapa kau melarangku untuk menggoda pamanku? Harusnya lebih cepat lebih baik." Omelnya.
Entah kenapa Catherine juga menurut saja perkataan dan saran sahabatnya ini.
"Sebenarnya tidak apa, hanya saja tunggu aku sampai di sini, agar aku tau prosesnya." Ucap Viola yang membuat Catherine melotot.
"Sialan sekali kau ini!" Catherine semakin mengomel dan jelas saja Viola semakin tertawa.
"Kau harus bersabar, buat pamanmu terbiasa dulu denganmu, lalu kau bisa melancarkan aksimu, jika saja kau langsung menggodanya tanpa membuat pamanmu terbiasa denganmu, usahamu akan sia-sia, karena kau dan dia sudah sangat lama tidak bertemu." Ucap Viola sebagai saran.
Catherine terdiam sebentar dan memang mengakui jika yang dikatakan oleh sahabatnya ini adalah benar.
"Paman Max sekarang sudah aktif bekerja lagi, dia lumayan sibuk, aku hanya bertemu dengannya saat pagi dan malam saja." Ucap Catherine cemberut.
"Kau bisa pergi ke kantornya kan? Kenapa kau jadi bodoh begini." Omelnya yang membuat Catherine baru menyadarinya.
"Betul juga, astaga! Aku kenapa menjadi lemot begini." Gumamnya.
"Setelah ini aku akan pergi ke kantornya, sebenarnya aku belum begitu tau kantor Paman Max, tapi aku nanti aku akan lihat ponsel saja." Ucap Catherine.
Dia masih mengobrol lama dengan Viola krena memang banyak yang dia bahas dengannya.
Saat pukul 2 siang, barulah Catherine pamit ingin pergi ke kantor pamannya.
Dia membawa mobil sendiri karena dia bahkan di belikan oleh pamannya, hanya saja jika keluar dari mansion, Catherine harus tetap izin kepdanya.
"Waah, besar juga. Pantas saja kemaren aku belanja banyak tapi Paman Max tidak marah, uangnya pasti lebih banyak dari Daddy nih." Gumam Catherine saat melihat perusahaan pamannya sangat besar.
Karena Catherine tidak tau di mana ruangan pamannya, dia jelas saja bertanya dengan resepsionis yang ada di sana.
"Maaf, di mana ruangan Paman Max?" Tanya Catherine dengan sopan yang membuat kedua pegawai Max yang ada di sana saling pandang.
"Paman?" Beonya.
"Aku keponakannya." Ucap Catherine yang membuat keduanya malah menahan tawa.
"Jika kau keponakannya, itu berarti aku putrinya." Jawab salah satu dari mereka yang jelas saja Catherine tidak suka.
"Apa maksutmu?"
"Apa kau tidak mengenal Tuan Maxton? Dia masih muda dan tidak mungkin memiliki keponakan yang sudah memiliki tubuh besar sepertimu,"
"Jika Tuan Maxton memiliki keponakan, sudah pasti keponakannya masih kecil dan lucu."
Catherine benar-benar malas meladeni mereka,
"Aku akan memaafkan kalian jika kalian memberitahuku di mana ruangan, Max." Ucap Catherine.
"Qkhirnya kau mengaku juga, bagaimana bisa kau mengatakan jika kau adalah keponakannya jika kau saja memanggilnya hanya dengan nama, perempuan sepertimu sudah sering aku temui, jadi aku tidak akan tertipu."
"Ck! Menyebalkan. Aku akan mencarinya sendiri." Ucap Catherine namun membuat mereka berdua melotot dan langsung memanggil keamanan.
Catherine yang ingin di kejar oleh keamanan akhirnay berlari.
"Sam!" Panggil Catjerine yang kebetulan bertemu dengan asisten pamannya.
Samuel sendiri terkejut ketika ada keponakan bosnya dan bahkan berlari dari kejaran security dan para resepsionis yang berjaga di depan.
"Berhenti, apa yang kalian lakukan!" Samuel jelas saja mengomei mereka.
"Maaf, Tuan. Wanita ini—
"Dia adalah wanita kesayangan Tuan Max, keponakannya, jika dia tau kalian mengejarnya seperti ini, maka kalian akan tamat." Ucaonya bahkan menatap tajam ke arah mereka.
Perkataan Samuel jelas saja membuat mereka terkejut, bahkan mereka yang tdinya mengolok Catherine menjadi ketakutan.
"Nona, maafkan kami. Kami tidak tau jika—
"Ck! Kalian menyebalkan karena sudah mengolokku, " omel Catherine.
"T-tolong maafkan kami, jangan katakan kepada Tuan Max, Nona. Kami mohon." Mereka berdua bahkan memohon dan tidak peduli kryawan lain ihat ke arah mereka.
Catherine menghela nafas panjangnya.
"Saya antar ke ruangan Tuan Max, Nona." Samuel lebih memilih untuk mengajak Catherine langsung ke ruangan bosnya agar drama ini tidak terlalu panjanh.
"Nanti aku akan mengurusnya." Lanjutnya namun Catherine menggeleng.
"Tidak perlu, biarkan saja, aku memaafkan mereka, meskipun mereka menyebalkan, mereka bisa berguna agar jika ada wanita yang mengaku memiliki hubungan dengan Paman Max tidak akan bisa masuk dengan mudah." Ucap Catherine.
"Tapi jaga bicara kalian, setidaknya kalian sopan dengan tamu yang datang." Lanjutnya yang membuat semua yang terlibat benar-benar lega.
"Terima kasih, Nona."
Catherine akhirnya masuk ke dalam lift bersama Samuel.
"Ngomong-ngomong, maafkan aku. Aku tadi memanggilmu hanya dengan nama," ucap Catherine terkekeh.
"Tidak apa, Nona."
"Jadi, aku harus memanggilmu apa? Apa aku huga memanggilmu, Paman?" Tanya Catherine yang membuat Samuel menggaruk dahinya karena memang dia dan Max hanya berbeda dua tahun, tapi dia merasa terlalu tua jika di panggil paman.
"Anda bisa memanggilku nama saja, Nona." Ucap Samuel.
"Itu namanya tidak sopan." Catherine menolak yang membuat Samuel sendiri menjadi bingung,
Catherine terkekeh karena melihat asisten pamannya ini terlihay bingung.
"Baiklah bagaimana dengan Kakak? Aku rasa itu tengah-tengah." Jawabnya yang di senyumi oleh Samuel.
"Terserah anda, Nona."
Catjerine tersenyum dampai akhirnya dia melihat ruangan pamannya karena di sana ada tulisan ruangannya.
Catjerine langaung masuk yang membuat Max tadinya terkejut dan ingin mengomel, namun tidak jadi karena ternyata Catherine yang masuk.
"Cath? Bagaimana kau bisa ada di sini?" Tanya Max.
Catherine terkekeh lalu berlari kecil menuju pamannya dan bahkan duduk di atas pangkuannya yang membuat Max jelas saja terkejut.
"Ck! Aku hanya ingin bermanja denganmu." Catherine membuka suara ketika pamannya ingin protes dengan apa yang dia lakukan.
"Tapi— kau bukan anak kecil lagi, Catherine, turunlah." Ucap Max yang jelas saja meminta Catherine untuk turun dan menjaga kewarasannya,
Meskipun Catherine adalah keponakannya, namun dia sudah termasuk wanita dewasa. Dan jelas saja Max mungkin tidak akan berasa nyaman ketika Catherine berada di atas pangkuannya seperti ini.
Catherine cemberut namun akhirnya turun dari pangkuan pamannya.
"Tadi aku dari apartemen Viola, karena aku rindu denganmu, aku datang ke sini, kau selalu lembur dan hanya bertemu denganku saat malam, jadi aku merasa kesepian." Ucap Catherine yang membuat Max terdiam sebentar.
"Maaf, Cath. Paman benar-benar sibuk akhir-akhir ini, apalagi paman kemaren cuti hampir satu minggu." Jawabnya yang membuat Catherine mengangguk mengerti, ia juga tidak mau egois dan meminta semua waktu Max untuknya,
"Aku tau, untuk itu aku berinisiatif datang ke sini saja, jika kau memerlukan bantuanku, aku bisa, Paman." Ucap Catherine.
Max sendiri terkekeh karena perkataan keponakannya.
"Kau bisa apa?" Tanya Max
"Memberimu semangat." Jawabnya yang akhinya membuat Max tertawa.