Bab 9

1013 Kata
Max bukannya terkejut dengan perkataan Lucy, namun dia malah semakin jijik dengannya. Namun dia terkejut ketika Catherine pergi dari sana. "Catherine!" Panggilan Max tidak di hiraukan oleh Catjerine dan pergi dari sana. Max jelas saja mengejarnya karena takut jika Catherine tersedat mengingat dia baru di sini. "Paman selesaikan dulu saja, aku tidak mau ikut campur." Catherine manahan tangisnya karena dia tidak mau menangis di depan Max dan menunjukkan rasa kecewa dan marahnya. "Jangan ke mana-mana, kau masih baru di sini dan— "Max! Jangan lari dari tanggung jawabmu, kita sudah beberapa kali melakukannya, dan ini adalah anakmu!" Lucy juga terpaksa mengejar Max karena dia sangat susah jika harus bertemu dengannya. Dia tidak sengaja tadi melihat Max, meskipun dia bersama perempuan lain, tapi dia tidak mau melewatkan kesempatan ini. "Dan kau— lebih baik kau tidak menganggu kami, aku adalah mantan kekasih Max, tapi aku mengandung anaknya." Lucy memperingati Catherine karena mengira jika Catherine adalah kekasih Max saat ini. "Menjijikkan! Kau pikir aku bodoh dengan kau mengaku hamil lalu aku percaya denganmu." Ucap Max yang snagat marah dengan Lucy. "Aku memang hamil anakmu, kita terakhir melakukannya saat kita mabuk. Kejadiannya empat bulan yang lalu dan aku sekarang sedang hamil tiga bulan." Ucap Lucy. "Aku bahkan tidak menyentuhmu sama sekali setelah kau pergi ke negara lain untuk oekerjaanmu enam bulan yang lalu, bagaimana mungkin kau mengatakan iru adalah anakku." Max mengeraskan rahangnya dan benar-benar muak dengan wanita yang di depannya. "Empat bulan yang lalu, aku memutuskan hubungan kita, kau harus mengingatnya lagi, Lucy. Saat itu bukan kita yang mabuk, tapi hanya kau. Dan saat itu ada kekasihmu yang lain menjemputmu dan membawamu, apakah kau tidak ingat!" Lanjutnya yang membuat Lucy menegang. "Kau tidak memiliki hubunagn denganku saja, kau memiliki kekasih lain selain diriku dan juga tidur dengannya, seharusnya kau meminta pertanggung jawaban darinya, bukan denganmu." "A-apa? Tidak mungkin! Ini adalah anakmu, aku sangat ingat jika aku tidak tidur dengan dia karena saat itu dia sedang berada di negara lain." Ucap Lucy yang membuat Max tertawa. "Waah, berapa banyak pria yang sudah memasukimu sampai kau saja lupa ayah dari janinmu," ucap Max yang akhirnya membuat Lucy terdiam. "Akan lebih baik kau melihat cctv club di mana kau mabuk, di sana akan terbukti siapa yang sudah menikmati tubuhmu. Yang terpenting bukan aku, karena aku tidak mau dengan wanita yang sudah membohongiku dan bahkan menjajahkan tubuhnya dengan banyak pria." Max menarik tangan Catherine yang sedari tadi terbengong dengan pertengkarannya dengan Lucy, dia bahkan langsung mengajaknya masuk ke dalam mobil. "Kau jadi mendengar pertengkaranku dengan wanita tidak jelas itu, maafkan aku." Ucap Max yang membuat Catherine masih terdiam. "Paman yakin tidak menghamilinya?" Catherine kembali memastikan kepada Max. "Ya, tentu saja. Aku memang berniat ingin hidup dengannya dulu, tapi tidak berniat menghamilinya sebelum pernikahan. Beruntung sekali aku tau dia yang sebenarnya. Sangat di sayangkan. Dia adalah seorang model dan anak pengusaha, hanya saja dia tidak cukup memiliki satu kekasih saja." Ucap Max pada akhirnya bercerita karena merasa kesal dengan Lucy. Catherine mengembangkan senyumnya, meskipun dia sedikit sakit hati karena ternyata pamannya sudah pernah berhubungan dengan wanita lain, namun dia tidak masalah karena pada akhirnya nantinya dia yang akan menjadi terakhir baginya. "Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Ucap Max yang heran melihat keponakannya. "Jelas aku senang." Jawabnya yang membuat Max semakin tidak mengerti. "Kau tidak akan tau, Paman! Nanti akan aku beritahu jika sudah waktunya." Lanjutnya lalu terkekeh. Max akhirnya juga tersenyum, Max tadinya memikirkan Catherine yang mungkin saja marah dengannya akan suatu hal karena dia melihat wajah marah Catherine saat ada Lucy, namun ternyata dia salah ketika melihat wajah Catherine kembali ceria. Setelah sampai, Catherine mengambil es krim yang ada di lemari pendingin yang membuat Max terkekeh. "Apa kau tidak kenyang?" Tanyanya. "Ini hanya es krim, Paman." Jawabnya. "Jangan berisik ya, paman mau meting sebentar." Ucap Max yang di angguki oleh Catherine. Catherine tersenyum miring melihat pamannya yang sudah mengubah raut wajahnya menjadi berbeda jika di depannya. Dia bahkan benar-benar dingin dan tegas. Tidak saat didepannya yang selalu tersenyum dan berkata lembut dengannya. Catherine memainkan ponselnya namun sambil menjilati es krimnya. Pandangan Max sendiri tiba-tiba mengarah kepada keponakannya, dia sedikit melotot ketika Catherine memakan es krimnya tidak biasa. Dia mencoba mengabaikannya namun gaya makan Catherine membuat dia merasa gelisah. "Catherine!" Tegur Max setelah mematikan suaranya dan menutup setengah laptopnya sebentar agar karyawannya tidak bisa mendengar dan melihatnya. Catherine langsung menoleh begitu pamannya manggilnya. "Bisakah kau ke kamar saja. Paman tidak bisa fokus jika kau di sini." Ucap Max yang membuat Catherine mengerutkan dahinya. "Aku tidak menganggu. Bukankah aku sedari tadi diam." Ucap Catherine. Max sendiri bingung harus mengatakan apa karena alasannya tidak fokus adalah cara makan Catherine dan saat menjilati es krim yang dia pegang. "Karena kau— maksutku, akan lebih baik kau istorahat, bukanlah hari ini sangat melelahkan," ucap Max membujuk Catherine agar dia mau pergi dari sini. Catherine terdiam sebentar lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah." Jawabnya namun ketika dia ingin berdiri, es krim yang ada di tangan Catherine malah terjatuh di atas dadanya. "Ooh, Sial!" Catherine mengelapnya dengan tangannya, bukannya mengambil tidu, tanpa dia duga, Catherine malah menjilati tangannya dan bahkan sambil melihat ke arah Max dengan tersenyum. "Selamat bekerja, Paman." Ucap Catherine yang berdiri dan bahkan mengelus pelan d**a Max lalu pergi dari sana. Max jelas saja terkejut dengan apa yang dilakukan oleh keponakannya. "Sial! Dia sengaja atau bagaimana." Max tadinya Catherine tidak sangaja memakan es krim dengan seperti itu karena dia tadi sambil memainkan ponselnya. Namun saat es krimnya terjatuh di dadanya dan menjilati tangannya dengan melihat ke arahnya, dia seperti sengaja melakukannya. "Dia tidak mungkin sengaja." Max menjauhkan pikirannya terhadap keponakannya. Bahkan apa yang dilakukan Catherine membuat dia berfikiran yang tidak-tidak terhadapnya. Dia lebih baik fokus dan melanjutkan metingnya. Sedangkan di kamar, Catherine tersenyum. "Sepertinya aku harus melakukannya lebih awal," Catherine memang sengaja tadi melakukannya karena ingin melihat apa reaksi pamannya ketika dia menggodanya, "Aku akan meminta pendapat Viola, dia pakarnya." Gumam Catherine sambil terkekeh dan akhirnya menghubungi Viola namun dia tidak memgangkatnya. "Ck! Ke mana dia? Biasanya selalu mengangkat telefon dariku." Omelnya. Bahkan sampai beberapa kali, Viola tetap tidak mengangkatnya yang membuat Catherine lama-kelamaan menjadi tertidur
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN