Bab 8

1034 Kata
Untuk menjaga kewarasannya, Catherine memilih untuk pergi ke dapur dan melihat para pelayan yang sedang memasak. "Anda membutuhkan sesuatu, Nona?" Pelayan jelas saja bertanya karena Catherine menghampiri mereka. "Tidak, aku hanya melihat. Apa ada yang bisa aku bantu?" Tanya Catherine. "Seperti bisa masak saja." Max menyauti karena memang dia sudah selesai dengan sesi renangnya, dia tadinya ingin langsung ke kamarnya namun melihat keponakannya ke dapur akhirnya dia menghampirinya. "Bisa, kalau masak mie instan." Ucap Catherine terkekeh. "Sudah! Jangan mengganggu mereka sedang memasak, kau akan mengacaukannya dan malah membuat makanan menjadi racun," "Ck! Paman." Catherine cemberut namun Max hanya tertawa, dia langsung pergi ke atas untuk mengganti pakaiannya. Barulah dia menyusul Catherine yang menunggunya di meja makan. "Kau tidak bekerja hari ini, Paman?" Catherine bertanya karena melihat pamannya pergi ke bawah namun tidak memakai baju formal dan malah memakai baju santai. "Tidak, mungkin besok. Aku masih malas." Jawab Max "Mau pergi jalan-jalan?" Tawarnya yang jelas saja di angguki oleh Catherine. "Apa di sini ada tempat berkuda? Aku suka olahraga itu." Ucap Catherine yang dimengerti oleh Max. "Tentu saja, aku memiliki beberapa kuda, akan aku kenalkan nanti dengan mereka." Mereka melakukan sarapan terlebih dahulu barulah Catherine dan Max akhirnya berganti baju untuk pergi ke tempat tujuan mereka. "Paman ke sini bersama siapa? Bukan dengan wanita lain bukan?" Tanya Catherine karena Max memperkenalkan dia dengan kuda miliknya namun tidak satu kuda, melainkan tiga kuda. "Kau cemburu." Godanya. "Tentu saja, kau milikku." Catherine bahkan dengan tegas mengatakan jika Max adalah miliknya. Sedangkan Max tidak terlalu mengambil hati perkataan keponakannya dan mengira jika itu karena kecemburuan Catherine terjadapnya hanya karena Max selama ini tidak pernah memanjakannya dan Catjerine belum puas di manja olehnya. "Saat ini kau boleh memiliki pamanmu, tapi saat aku sudah menikah, aku akan menjadi istriku nantinya." "Istrimu adalah aku, Paman. Dan aku akan memastikan itu." Batin Catherine. Dia hanya diam saja dan tidak menjawab perkataan pamannya, Catherine memilih untuk memulai menaiki kuda kesayangan pamannya. Beruntungnya kuda itu menurut dengan Catherine karena memang dia sudah sering bermain kuda seperti ini. "Kapan aku bisa menaiki tuanmu," ucap Catherine kepada kuda milik Max. Catherine tersenyum dan merasa tidak sabar menjerat pamannya. Max yang tadinya hanya melihat Catherine akhirnya menyusulnya dengan kuda lain miliknya. Dia menghampiri Catherine namun membuat dia tersenyum mirinf. Catherine mempercepat kudanya yang membuat Max menggelengkan kepalanya pelan. "Mengesankan." Max jelas saja tidak mau kalah dan mengusul Catherine. Kini mereka malah seperti berlomba karena mereka sama-sama mempercepat kuda mereka. "Aku menang." Catherine bersorak karena dia bisa mengalahkan pamannya. "Aku hanya mengalah." Ucap Max namun dia mengagumi kepintaran dan keahlian keponakannya dalah berkuda. "Jamgan mengelak, Paman, aku memang sudah sangat jago berkuda. Bahkan Daddy juga kalah denganku." Catherine menyombongkan dirinya karena dia pintar berkuda. "Baiklah, aku mengakuinya, kau memang hebat." Ucap Max pada akhirnya. Mereka berkuda lumayan lama, karena ternyata Catherine bisa melakukannya berjam-jam lamanya. Tapi tentu saja dengan istirahat. "Aku mencarimu di mansion, pelayanmu mengatakan jika kau ada di sini." Daniel menghampiri Max yang ternyata benar jika ada di sini. "Aku sedang menemani, Catherine." Jawabnya bahkan hanya menoleh sebentar ke arah Daniel. Daniel melihat ke arah Catherine yang sudah terlihat lihay bermain kuda. "Kau seperti menemani kekasihmu." Godanya yang membuat Max menatap tajam ke arah Daniel. Dia akhirnya terkekeh sendiri karena melihat tatapan tajam sahabatnya ini ke arahnya. "Aku hanya bercanda. Begitu saja marah." "Aku melihat tatapan Catherine yang sangat mengagumimu, dia bahkan sepertinya sangat menyayangimu dan lengket kepadamu." "Jelas saja, aku juga sangat menyayanginya. Selama 10 tahun aku menjauh dari semuanya, aku bahkan tidak pernah mengunjunginya, wajar saja jika dia sekarang merindukan kasih sayangku dan selalu ingin dekat denganku." Max juga merasakannya jika memang Catherine sangat merindukan dan menyayanginya, Daniel tersenyum dan akhirnya mengangguk. "Lucy tadi datang ke kantorku, dia mencarimu." Ucap Daniel memberitahu. "Cih! Aku tidah peduli. Kau masih saja menerimanya di kantormu. Jangan-jangan kau menyukainya." "Enak saja, aku tidak mau bekasmu." Omel Daniel yang membuat Max tersenyum miring. "Jika dia bukan anak Paman Andrew, aku juga ingin mengusirnya, dia memanfaatkanku karena kau sahabatku, sial sekali." Lanjutnya. "Abaikan saja, aku tidak peduli dengannya. Dia tidak akan berani ke kantorku." Ucap Max. "Karena kau mengancam karirnya." Saut Daniel. "Dia memang bodoh! Mencintai wanita adalah hal yang langka bagimu, sudah bersyukur kau memilihnya, tapi dia malah aneh-aneh sajaa." Lanjutnya namun Max tidak menjawabnya. Sekalinya dia kecewa dengan seseorang. Max memang sangat susah untuk memaafkannya dan bahkan tidak mau lagi berhubungan dengannya. Max memiliki mantan kekasih yang dulu sangat dicintai olehnya, dia seorang model terkenal, Lucyana Joy. namun sayangnya dia ketahuan menjalin hubungan juga dengan teman modelnya, entah mereka sudah melakukan hal lain atau tidak, tapi dia sudah tidak mau dengan wanita yang sudah membohonginya. "Waah, ada Paman Daniel." Sapa Catherine yang sudah selesai berkuda. "Ck! Sudah ku katakan jangan memanggilku paman. Panggil sayang saja bagaimana?" Godanya yang membuat Catherine terkekeh. "Panggilan sayangku hanya untuk paman Max." Ucap Catherine yang membuat Max terkekeh dan mengejek sahabatnya. "Kau tidak akan bisa menggoda keponakanku, jika pria lain yang menjadi kekasihnya besok pun harus lolos seleksiku." Ucap Max namun Catherine hanya tersenyum. Tidak akan ada lagi yang bisa mendekatinya jika dia saja sudah menjatuhkan hatinya dan dirinya kepada pamannya. "Kenalkan aku dengan temanmu yang cantik sepertimu, Cath." Ucap Daniel. "Ada. Sahabatku. Dia sangat cantik." "Jangan kenalkan kepadanya, Cath. Dia berbahaya." "Sialan!" Perkataan Max malah membuat Daniel kesal namun Catherine hanya tertawa. Mereka mengobrol cukup lama sampai akhirnya siang hari dan Catherine merasakan lapar. Catherine yang ingin makan di luar jelas saja langsung di turuti oleh Max. Apapun yang di inginkan oleh keponakannya, sebisa mungkin dia menurutinya. Saat mereka asik mengobrol di restoran setelah makan, ada wanita cantik yang menghampiri Max dan menyapanya. "Max, siapa dia?" Catherine yang tidak tau siapa wanita di depannya mengerutkan dahinya. "Bukan urusanmu, lebih baik kau pergi, kau sangat mengangguku." Max benar-benar malas dengan wanita di depannya yang adalah Lucy, mantan kekasihnya dulu. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Max. Kita harus bicara." Lucy memaksa untuk berbicara dengan Max namun Catherine menggandeng lengan Max. Jelas saja membuat Lucy marah. "Aku hamil, Max! Dan itu adalah anakmu." Perkataan Lucy membuat Catherine terkejut, bahkan jantungnya berdetak dengan cepat. Dia menatap ke arah Max dengan tatapan kecewa, Belum dia memperjuangkan dan memulai cintanya, tapi dia sudah di jatuhkan lebih dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN