Bab 7

1100 Kata
Max dengan cepat kembali ke kamarnya, entah kenapa melihat keponakannya dia malah menjadi resah, padahal pandangan seperti ini sudah sangat sering dia lihat, apalagi ada juga yang berusaha telanjang di depannya, namun dia tidak pernah tertarik dan malah jijik dengan mereka. Namun melihat Catherine, dia malah menjadi canggung sendiri dan menjadi gelisah "Itu mungkin karena dia keponakanku," gumamnya menenangkan dirinya. Dia menghela nafas panjangnya dan akhirnya melihat berkas yang akan dia bawa nanti malam bertemu dengan klien-nya. Malam harinya. Max bersiap untuk pergi namun karena tidak tega meninggalkan Catherine sendirian, dia akhirnya mengajaknya. Namun Catherine tidak mau ikut mendengarkan meting pamannya karena menurutnya itu sangat membosankan. "Jangan jauh-jauh, Cath. Tetap berada di kawasan sini. Dan jangan aneh-aneh." Max memperingati keponakannya agar tidak pergi jauh dari pusat pembelanjaan yang dia inginkan Catherine. "Aku mengerti, Paman. Jika jauh pun ke mana! Aku tetap di negara ini. Aku bisa menghubungimu, aku bukan anak kecil." "Kau masih kecil bagiku." Ucap Max yang membuat Catherine terkekeh. "Kecil begini bisa menghasilkan anak kecil juga, Paman." "Catherine!" Tegur Max namun Catherine terkekeh dan akhirnya kabur dari sana sebelum pamannya mengomelinya. "Astaga! Sepertinya anak itu sangat bahaya jika di biarkan keluar seperti ini." Max menjadi khawatir sendiri karena sepertinya Catherine tidak sepolos yang dia pikirkan, dia bukan hanya ceria dan cerewet, tapi juga berbahaya dan takut ada lelaki yang juga memanfaatkannya. Max melihat jam tangannya dan ternyata sudah tidak bisa untuk menyusul Catherine. "Sam, tolong kau pergi ke pusat pembelanjaam yang ada di sebelah restoran kita mering nanti, tugasmu memantau Catherine ke manapun sampai aku selesi meting." Ucap Max kepada asistennya yang di mengerti olehnya. Max akhirnya terpaksa meting sendirian yang sebenarnya tadinya harusnya bersama Samuel, asistennya. Max memarkirakn mobilnya dan berjalan menuju restoran yang memang letaknya ada di sebelah pusat pembelanjaan di mana Max menurunkan Catherine tadi. Sedangkan di tempat lain, Catherine sibuk berbelanja karena memang dia tidak banyak membawa baju dari rumahnya. Catherine masuk ke dalam toko dalaman karena dia juga ingin membelinya. Dia terkekeh sendiri ketika melihat banyak lingerie di sana. "Sepertinya aku harus membelinya, aku yakin jika suatu hari aku pasti akan memakainya." Dia benar-benar terkekeh dan akhirnya membeli dua lingerie yang menurutnya sangat sek-si. "Kau sangat liar, Cath. Pamanmu pasti tidak akan bisa menolakmu suatu hari nanti." Gumamnya. Sedangkan Samuel, asisten dari Max hanya menunggu di luar toko karena dia tidak mungkin ikut masuk ke dalam toko dalaman wanita seperti itu. "Kau di mana?" Tanya Max yang tiba-tiba saja menghubunginya. "Saya di luar, Tuan. Nona Catherine sedang masuk ke dalam toko dalaman." Ucap Samuel. "Lalu kenapa kau tidak masuk?" "Eh! Aku— "Aku menyuruhmu mengikuti Catherine ke manapun, pergi susuk dia ke manapun kecuali ke toilet." Max langsung mematikan sambungan telefonnya yang membuat Samuel sebenarnya ingin sekali mengumpat. Samuel terpaksa ingin masuk ke dalam namun tidak jadi ketika ternyata dia melihat Catherine yang ingin keluar, Samuel jelas saja bernafas lega. Setelah selesai berbelanja, ternyata Max belum juga kembali dan akhirnya dia pergi ke restoran untuk membeli minuman sambil menunggu pamannya. Saat dia di restoran, ternyata dia melihat pamannya sedang meting di sana, "Astaga! Dia memang benar-benar tampan." Catherine bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari pamannya. Dia benar-benar mengaguminya dan sudah jatuh dalam cintanya. Sedangkan Samuel yang melihatnya malah mengerutkan dahinya ketika melihat Catherine mamndangi bosnya seperti itu. "Itu bukan seperti tatapan keponakan dengan pamannya." Gumam Samuel namun dia tidak bernai berkomentar banyak. Catherine memang snagat cantik, apalagi umurnya yang masih mudaz bahkan Samuel sendiri juga mengagumi kecantikannya hanya saja dia tidak berani memiliki perasaan lebih mengingat dia adalah kesayangan keluarga Miller. Max yang seperti merasa di awasi tidak sengaja melihat ke arah Catherine yang melihat ke arahnya dan tersenyum kepadanya, Max tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan krena keponakannya melihatnya bahakn tanpa berkedip. Tak lama, Max yang sudah selesai dari metingnya akhirnya menghampiri keponakannya yang sedari tadi tersenyum kepadanya. "Kau bosan?" Tanya Max. "Hm, Sedikit. Tapi saat melihatmu tadi, aku jadi tidak bosan, Paman sangat keren" Catherine tersenyum bahkan memberikan jempolnya yang membuat Max menggelengkan kepalanya pelan, "Ayo kita pulang." Ajaknya yang di angguki oleh Catherine. Sebenarnya ini sudah lumayan larut karena Max memang meting cukup lama dengan kliennya. Catherine sendiri bercerita di dalam mobil dengan apa yang dia beli tadi, Max hanya tersenyum dan mendengarkannya. Saat ingin sampai, Max melihat ke arah Catherine yang ternyata sudah tertidur. "Dia kelelahan bercerita atau kelelhan berbelanja." Gumam Max tersenyum. Dia yang tidak tega melihat Catherine sepertinya sudah tidur pulas akhirnya mencoba menggendongnya tanpa membangunkannya. Max menurunkan tubuh Catherine secara perlahan di atas ranjangnya, namun saat dia menarik dirinya, Catherine malah menarik tangannya sehingga dia terjatuh dan berada tepat di depan wajah Catherine. "Di sini saja, Mom!" Catherine ternyata mengigau dan bahkan langsung tertidur kembali. Sedangkan Max menafas nafasnya ketika wajah mereka sangat dekat, Max bisa mencium bau tubuh Catherine yang begitu wangi. Namun Max yang tersadar menjauhkannya dan melepaskan tangannya dengan perlahan karena Catherine tidak mau melepaskannya. ***** Keesokkan paginya, Catherine terbangun sedikit kesiangan, dia bahkan terkejut dan langsung memposisikan dirinya untuk duduk. "Astaga! Aku kesiangan, apa Paman Max sudah pergi ke kantor?" Gumam Catherine. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelahnya barulah dia pergi dari kamarnya dan tadinya ingin masuk ke dalam kamar pamannya namun pamannya sudah tidak ada di sana. Dia akhirnya turun ke bawah di mana di sana sudah ada banyak pelayan yang sibuk dengan aktifitasnya. Di mansion Max sangat persis dengan mansion ayahnya, di mana pelayan hanya boleh bekerja pagi sampai sore, saat malam pelayan tidak di perbolehkan masuk ke mansion utama apapun alasannya. "Apa paman Max sudah pergi bekerja, Bi?" Tanyanya dengan sopan. "Tuan Max sedang berenang, Nona. Jika pagi Tuan Max selalu rutin berenang atau olahraga." Jawabnya yanh membuat Catherine mengerti dan manggut-manggut. "Di mana kolamya?" Catherine yang memang belum tau di mana letak kolam renang akhirnya bertanya dan bahkan pelayan itu langsung mengantarkannya. "Terima kasih, Bi." Catherine tersenyum yang membuat pelayan itu tersenyum juga. Mereka berayukur karena keponakan tuannya ini ternyata sangat baik dengan semuanya. "Oh my god! Bagaimana bisa tubuhnya sangat bagus seperti itu." Catherine lagi-lagi rasanya ingin mengeluarkan air liurnya, bahkan saat berpakaian saja Max sudah terlihat sangat tampan. Apalagi seperti ini. Tubuhnya benar-benar kekar, bahkan ketika tubuhnya basa oleh air, dia semakin menjadi sangat sek-si. "Tau begini tadi aku tidak mandi dulu dan menyusulnya berenang. Bukankah akan menyenangkan jika kita berdua sedang berada di kolam yang sama." "Aarghh— dia benar-benar menggemaskan, membayangkannya saja sudah membuatku basah." Catherine terkekeh sendiri krena pemikirannya malah berbeda saat melihat pamannya yang hanya memakai celana ketat seperti ini. Pemikiran liarnya malah menyelimutinya, untuk itu dia memukul dahinya sendiri karena merasa pemikirannya sangat mesumm jika sudah melihat pamannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN