Benalu yang Terus Menggerogoti

1265 Kata
* * * "Tahan sebentar. Kita tidak punya waktu untuk berhenti," Ia kembali menginjak pedal gas, melajukan mobilnya lebih kencang dari sebelumnya. Sekar hanya bisa memejamkan mata, menahan rasa sakit di kepalanya yang kini bersahutan dengan rasa sakit di hatinya. Begitu mobil berhenti di drop-off keberangkatan internasional, Sekar tidak menunggu Adrian membukakan pintu. Ia langsung melompat keluar, mengabaikan denyut di keningnya yang kini mulai membiru. "Pak Adrian, saya masuk duluan!" seru Sekar sambil berlari menuju pintu otomatis. Di dalam terminal yang luas dan megah itu, ribuan orang berlalu-lalang. Sekar melihat jam tangannya, tinggal delapan menit sebelum Mr. Tanaka melewati gerbang imigrasi. Ia berlari dengan sepatu hak tingginya, matanya menyapu setiap sudut barisan check-in delegasi Jepang. "Mr. Tanaka! Tanaka-san!" teriak Sekar, suaranya parau. Langkah kaki Adrian yang lebar menyusul di belakangnya. "Sekar! Ke arah sana, gerbang D!" Mereka berlari bersisian. Sekar dengan memar di keningnya yang mulai terlihat membengkak, dan Adrian yang melepaskan jasnya demi bisa bergerak lebih cepat. Pemandangan itu sungguh luar biasa, seorang CEO dan Manajernya, yang seharusnya berada di atas pelaminan atau di ruang rapat mewah, kini berlari seperti pelari maraton demi sebuah kesempatan kedua. Tepat di depan garis antrean imigrasi, Sekar melihat rombongan pria berpakaian gelap. Pria di tengahnya, seorang pria tua dengan wajah kaku dan koper perak, sudah memegang paspor. "Mr. Tanaka! Tunggu!" Sekar berteriak sekuat tenaga, mengabaikan tatapan heran orang-orang di sekitarnya. Langkah pria itu terhenti. Ia berbalik, menatap Sekar yang terengah-engah dengan wajah berantakan dan luka memar di keningnya. Mr. Tanaka mengerutkan kening, menatap Sekar dari kepala hingga kaki. "Sekar-san? Apa yang terjadi dengan wajahmu?" Sekar mencoba mengatur napasnya, ia membungkuk hormat sedalam mungkin di depan pria Jepang itu. "Maafkan saya, Tanaka-san. Kejadian semalam adalah murni kesalahan saya. Saya mengalami kecelakaan keluarga yang tidak terduga, dan baru saja... saya mengalami kecelakaan di jalan saat berusaha mengejar Anda," Sekar mendongak, menunjukkan memar merah di keningnya sebagai bukti bisu perjuangannya. "Saya tidak meminta Anda memaafkan ketidaksopanan saya semalam. Saya hanya meminta lima menit waktu Anda untuk melihat analisis efisiensi 15% ini. Jika setelah lima menit Anda tetap ingin pergi, saya sendiri yang akan mengantar Anda ke pintu pesawat," Adrian berdiri di samping Sekar, ia memberikan anggukan hormat pada Tanaka. "Dia mempertaruhkan nyawanya dan karirnya untuk sampai di sini, Tanaka-san. Di perusahaan saya, kami tidak hanya menghargai waktu, tapi kami menghargai kegigihan yang berdarah-darah seperti ini," Mr. Tanaka menatap memar di kening Sekar cukup lama. Di budaya Jepang, luka dan kegigihan sering kali dipandang sebagai bentuk keseriusan yang paling dalam. "Lima menit," ucap Tanaka sambil menyimpan kembali paspornya ke dalam saku jas. "Tunjukkan padaku kenapa aku harus membatalkan kepulanganku," Sekar segera mengarahkan Mr. Tanaka menuju lounge VIP yang berada tak jauh dari gerbang imigrasi. Adrian memberikan kode kepada petugas keamanan untuk memberi mereka privasi. Suasana mendadak menjadi sangat formal dan tegang, hanya suara denting cangkir kopi yang disediakan pelayan yang memecah keheningan. Sekar membuka tabletnya dengan tangan yang sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang masih memompa di pembuluh darahnya. Memar di keningnya kini terasa berdenyut panas, namun ia seolah mati rasa. "Tanaka-san, saya tahu Anda sangat menjunjung tinggi integritas dan waktu," buka Sekar dengan suara yang kini sangat stabil dan profesional. "Kesalahan saya semalam tidak bisa dimaafkan dengan alasan apa pun. Namun, silakan lihat grafik di halaman tiga," Mr. Tanaka memakai kacamata bacanya, memperhatikan layar tablet Sekar dengan saksama. "Ini adalah restrukturisasi rantai pasok yang saya kerjakan selama saya di London," lanjut Sekar. "Jika kita menggunakan vendor lokal yang saya kurasi secara pribadi, kita bisa memangkas biaya logistik sebesar 15%. Tapi bukan itu poin utamanya. Poin utamanya adalah fleksibilitas. Dengan model ini, perusahaan Anda tidak akan lumpuh jika terjadi krisis global seperti yang terjadi tahun lalu," Mr. Tanaka terdiam cukup lama. Ia melirik Adrian, lalu kembali menatap Sekar, terutama pada memar merah yang semakin jelas di kening wanita itu. "Sekar-san," ucap Tanaka dalam bahasa Inggris dengan aksen Jepang yang kental. "Angka ini sangat impresif. Tapi, apa yang menjamin Anda akan tetap fokus? Wajah Anda... Anda terlihat sedang dalam masalah besar," Adrian tiba-tiba menyahut, suaranya berat dan penuh dukungan yang tidak terduga. "Tanaka-san, memar di keningnya adalah bukti bahwa dia lebih memilih mengejar tanggung jawabnya daripada berdiam diri meratapi masalah pribadinya. Dia baru saja membatalkan rencana besarnya hari ini hanya untuk memastikan proyek Anda berjalan. Jika seseorang berani mengorbankan segalanya demi satu kontrak, bukankah itu mitra yang paling bisa Anda percayai?" "Gila... Dalam banget nih bahasa pak Adrian. Mana pake bawa - bawa masalah pribadiku lagi," Mr. Tanaka menatap Sekar dalam-dalam, lalu perlahan sebuah senyum tipis muncul di wajahnya yang kaku. Ia menutup tablet Sekar dan menjabat tangan wanita itu dengan erat. "Kegigihan adalah bahasa universal, Sekar-san. Saya menghargai orang yang mau 'berdarah' untuk pekerjaannya. Batalkan tiket saya ke Tokyo," Tanaka menoleh ke asistennya. "Kita kembali ke kantor Dirgantara Global. Saya akan menandatangani kontraknya sore ini," * * * Perjalanan kembali ke kantor terasa jauh lebih panjang daripada saat mereka berangkat. Atmosfer di dalam mobil mewah itu kembali sunyi, namun kali ini kesunyiannya terasa lebih pekat. Sekar menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin, mencoba meredam denyut di keningnya yang kian menjadi. Setiap kali mobil melewati guncangan kecil, rasa nyeri itu menjalar hingga ke pangkal sarafnya. Tangan kanannya tak berhenti memijat pelan memar merah yang kini mulai membiru di keningnya. Drrtt... Drrtt... Ponsel di pangkuan Sekar terus bergetar tanpa henti. Layarnya menyala berkali-kali, menampilkan rentetan pesan dari Zaki. (Sekar, tolong angkat. Aku menyesal. Aku khilaf, Kar. Ranti yang menjebakku malam itu.) (Aku baru sadar, aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Aku masih sangat mencintaimu, Kar. Pernikahan tadi... itu cuma status di atas kertas.) (Tolong temui aku sekali saja. Aku akan batalkan semuanya kalau kamu mau kita mulai lagi dari awal. Aku rela tinggalkan Ranti demi kamu.) Sekar membaca pesan-pesan itu dengan rasa mual yang mengaduk perutnya. Kata "cinta" yang keluar dari mulut Zaki sekarang terdengar seperti hinaan baginya. Bagaimana mungkin pria itu bicara soal cinta setelah membiarkan ibunya menghina Sekar dan menghamili kakaknya sendiri? "Kita mampir ke rumah sakit sebentar," ujar Adrian. "Tidak, Pak," ucap Sekar tegas, mengabaikan denyut di kepalanya yang semakin menggila. "Keningmu itu butuh kompres medis dan mungkin rontgen kecil. Kamu menghantam dasbor cukup keras tadi," "Saya baik-baik saja, Pak. Hanya memar," Sekar menggeleng, meski rasa pening membuatnya sedikit mual. "Mr. Tanaka sudah dalam perjalanan ke kantor. Beliau tipe orang yang tidak akan memberi kesempatan ketiga jika kita terlambat lagi. Saya tidak mau mempertaruhkan kontrak milyaran ini hanya karena luka kecil." Adrian menghela napas berat, namun ia kembali mengarahkan mobil ke jalur menuju kantor pusat. "Apa gunanya uang milyaran itu kalau kamu pingsan di tengah rapat?" "Saya tidak akan pingsan, Pak. Saya sudah terbiasa menahan sakit yang jauh lebih hebat dari sekadar hantaman dasbor," balas Sekar dengan nada getir yang tersamar. Adrian merogoh kotak P3K di dashboard mobilnya dengan tangan kiri sambil tetap menyetir. Ia melemparkan sebuah botol kecil berisi minyak esensial dan plester kompres dingin ke pangkuan Sekar. "Gunakan itu untuk meredam denyutnya. Saya tidak mau mitra bisnis saya mengira saya mempekerjakan korban kekerasan," Sekar mengambil botol itu. "Terima kasih, Pak. Dan... terima kasih karena tetap membawa saya ke kantor," "Saya hanya tidak ingin membuang waktu mengurusi hal sepele jika kamu pingsan nanti. Jika kamu merasa sangat pening, katakan saja. Jangan memaksakan diri menjadi pahlawan di depan saya," Begitu SUV mewah Adrian berhenti tepat di depan lobi, jantung Sekar seakan berhenti berdetak sesaat. Di sana, berdiri Zaki dengan sisa-sisa kemeja akadnya yang tampak sangat kontras dengan suasana profesional gedung perkantoran tersebut. Wajahnya yang memelas dan buket bunga layu di tangannya membuat Sekar merasa muak hingga ke ulu hati. "Bapak duluan saja, saya mau ke toilet sebentar,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN