Kejutan di Hari Kepulangan
"Dekorasi? Untuk minggu depan?" gumamnya bingung.
"Zaki bilang dia ingin kejutan, tapi ini terlalu dini,"
Sekar masuk ke dalam rumah yang riuh. Di tengah ruang tamu, ibunya sedang merapikan kebaya putih brokat di tubuh seorang wanita yang membelakanginya. Di samping wanita itu, berdiri seorang pria yang sangat ida kenal. Zaki.
Pria itu sedang mengelus lembut perut sang wanita yang tampak sedikit membuncit di balik kain jarik.
"Zaki?" suara Sekar bergetar, nyaris tertelan bisingnya suara orang-orang yang mendekorasi ruangan.
Sekar melepaskan pegangan pada koper mahalnya. Bunyi denting logam koper yang jatuh ke lantai marmer bergema, membungkam tawa kecil yang tadi sempat terdengar dari arah meja makan.
"Sekar?" Ibu adalah yang pertama bersuara.
Beliau berdiri kaku, tangannya masih memegang jarum pentul untuk merapikan kebaya Ranti.
"Kamu... kenapa tidak kabar-kabar kalau sampai hari ini?"
Sekar tidak menjawab Ibunya. Matanya terkunci pada tangan Zaki yang masih berada di pinggang Ranti. Zaki menarik tangannya dengan canggung, seolah telapak tangannya baru saja menyentuh bara api.
"Bagus sekali," suara Sekar rendah, namun bergetar hebat.
"Aku pulang lebih awal untuk memberikan kejutan, tapi sepertinya aku yang mendapat kejutan besar di sini. Apa-apaan semua dekorasi ini, Bu?"
"Maafkan Kakak, Sekar. Aku bersalah padamu. Aku minta maaf," isak Ranti.
"Kami tidak punya pilihan. Bayi ini... dia butuh ayahnya sekarang. Akad nikahnya dimajukan jadi besok pagi. Anak ini adalah anaknya Zaki. Kami akan menikah, Sekar,"
Sekar merasa dunianya runtuh. Oksigen di paru-parunya seolah dicuri paksa. Selama tiga bulan dia pergi karena mengikuti tender di luar negeri, sementara di rumah ini, pengkhianatan sedang tumbuh di dalam rahim kakaknya sendiri.
Sekar mundur selangkah, menatap ibunya yang hanya tertunduk membisu, tak berani menatap matanya.
Ia lalu menatap Zaki, mencari sisa-sisa pria yang berjanji akan menjaganya di pelaminan minggu depan.
"Jadi," suara Sekar dingin, setajam silet.
"Ganti rugi untuk tiga tahun hubunganku adalah... menjadi tamu undangan di pernikahan kalian? Padahal Minggu depan kami sudah merencanakan pernikahan kami?"
Zaki melangkah maju, hendak menyentuh lengan Sekar.
"Sekar, dengar dulu..."
"Jangan sentuh aku," desis Sekar. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah amplop tebal berisi dokumen yang seharusnya menjadi kejutan hadiah pernikahan mereka, Tiket bulan madu dan sertifikat rumah baru atas nama mereka berdua.
Sekar merobek amplop itu perlahan di depan wajah mereka, lalu menjatuhkan serpihannya seperti salju busuk ke lantai.
"Aku sudah menyiapkan semuanya, Zaki. Aku ingin memberikan kejutan ini padamu. Ini sertifikat rumah kita uang baru yang akan kita tempati setelah kita menikah nanti. Dn ini juga tiket untuk bulan madu kita. Tapi apa - apa an ini Zaki? Menjijikkan sekali... Kamu tidur dengan kakakku sendiri di saat kamu tidak bisa tidur denganku, begitu? Murahan sekali,"
"Apa memang ini yang selama ini kalian rahasiakan dariku? Sudah berapa lama hubungan ini? Atau mungkin ini sudah terjadi sebelum kita merencanakan pernikahan?
"Nikmati pestanya," ucap Sekar dengan senyum paling mengerikan yang pernah mereka lihat.
"Karena aku baru saja memutuskan, aku tidak akan pergi dari rumah ini sampai aku mengambil kembali semua yang seharusnya menjadi milikku,"
Sekar pun bergegas akan beranjak menuju kamarnya, namun saat akan menaiki anak tangga, tangan Ranti mencekalnya dengan kuat.
Ranti melangkah maju, matanya sembab.
"Sekar, ini bukan seperti yang kamu lihat..."
"Lalu apa?" potong Sekar cepat, matanya menatap tajam ke arah perut Ranti.
"Apa perut itu juga hanya halusinasiku, Kak? Apa janur kuning di depan itu hanya properti syuting?"
Zaki memberanikan diri mendekat.
"Sekar, maafkan aku. Aku khilaf. Saat kamu di luar negeri, aku kesepian, dan Ranti selalu ada untuk mendengarkan keluh kesahku. Kami tidak berencana sampai sejauh ini, tapi..."
"Khilaf?" Sekar tertawa sumbang, tawa yang terdengar lebih seperti rintihan.
"Tiga bulan, Zaki. Hanya tiga bulan aku pergi mencari uang karena tugas dari kantor, dan kamu khilaf sampai membuat Ranti hamil? Dia itu kakakku Zaki. Orang yang seharusnya menjadi kakak iparmu. Apa kamu lupa siapa yang membayar cicilan mobil yang kamu pakai untuk menjemput Ranti check-up ke dokter?"
"Jaga bicaramu, Sekar!" Ibu menyela dengan nada membela.
"Ini musibah. Ibu juga kecewa, tapi Ranti kakakmu. Dia sedang mengandung. Kita tidak mungkin membiarkan anak ini lahir tanpa ayah. Zaki harus bertanggung jawab sekarang juga."
Sekar menatap Ibunya dengan tatapan tidak percaya.
"Lalu siapa yang bertanggung jawab atas perasaanku, Bu? Siapa yang bertanggung jawab atas tiga tahun pengabdianku pada pria ini? Apa Ibu hanya memikirkan perasaan kak Ranti saja tanpa memikirkan perasaanku? Aku juga anak Ibu, kan?"
Sekar berjalan mendekati Ranti, membuat kakaknya itu mundur ketakutan. Sekar berhenti tepat di depan Ranti, menatap kebaya putih yang melekat di tubuh kakaknya.
"Kebaya itu..." Sekar menyentuh kain brokat di bahu Ranti dengan ujung jari.
"Itu model yang aku tunjukkan padamu di majalah bulan lalu, kan? Aku bilang aku ingin memakai model ini untuk akadku. Dan sekarang kamu memakai model yang sama untuk pernikahanmu? Sangat menakjubkan... drama di keluarga ini benar - benar menakjubkan. Kalian semua berharap mendapatkan jempol,"
Ranti menunduk, air matanya jatuh ke lantai.
"Maaf, Sekar... Zaki bilang aku terlihat cantik memakainya,"
Sekar menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan. Ia menatap Zaki dan Ranti bergantian dengan tatapan dingin yang mematikan.
"Kalian berdua benar-benar pasangan yang serasi," bisik Sekar.
"Satu pengkhianat, satu pencuri. Dan Ibu... Ibu adalah hakim yang paling tidak adil yang pernah aku kenal,"
Sekar menyambar koper kabinnya dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Ia tidak peduli lagi dengan martabat manajer yang selalu ia jaga.
Dia hanya ingin mengunci diri dan menghilang. Namun, saat tangannya baru saja menyentuh knop pintu, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangannya.
"Sekar, tunggu! Tolong, dengarkan aku dulu!" Zaki terengah-engah, wajahnya memohon.
Sekar menyentak tangannya dengan jijik.
"Apalagi, Zaki? Mau menjelaskan posisi seks mana yang membuat kakakku hamil? Mau menceritakan kamu atau Ranti yang berada di atas? Atau mau bilang kalau ini semua salahku karena aku terlalu sibuk bekerja? Kamu kurang perhatian gitu sampai kamu mencari perhatian dari calon kakak iparmu sendiri? Hah?"
"Bukan begitu!" Zaki memblokir pintu kamar Sekar dengan tubuhnya.
"Aku mengaku salah. Aku pecundang, aku lemah. Tapi Sekar... aku mencintaimu. Hanya kamu."
Sekar tertawa sinis, air mata kemarahan mengalir di pipinya.
"Kamu mencintaiku, tapi besok kamu akan mengucapkan janji suci di depan penghulu untuk kakakku? Logika macam apa itu, Zaki?"
Zaki meraih kedua bahu Sekar, matanya menatap tajam, mencoba mencari sisa-sisa cinta di sana.
"Pernikahan besok itu hanya formalitas, Kar! Hanya untuk status anak itu di akta kelahiran. Aku sudah bicara dengan Ibu dan Ranti. Setelah anak itu lahir, aku akan menceraikannya."
Sekar tertegun, lidahnya kelu karena ngeri mendengar rencana gila itu.
"Dan rencana kita?" Zaki melanjutkan dengan nada mendesak yang aneh.
"Minggu depan kita tetap menikah. Sesuai jadwal. Kita akan pindah ke rumah baru kita, dan kita anggap Ranti tidak pernah ada. Aku akan tetap menjadi suamimu, Sekar. Aku tetap milikmu."
Sekar menatap pria di depannya seolah-olah Zaki adalah monster yang baru saja berganti kulit.
"Kamu... kamu benar-benar sakit, Zaki. Kamu mau menikahi kakak-adik sekaligus? Kamu pikir aku ini apa? Koleksi?"
"Ini solusinya, Sekar! Aku bertanggung jawab pada Ranti karena bayi itu, tapi hatiku tetap untukmu. Kamu wanita hebat, kamu manajer sukses, aku yakin kamu pasti bisa mengerti situasi darurat ini, kan?" Zaki mencoba mengelus pipi Sekar, suaranya merendah, memanipulasi ego Sekar.
Sekar terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan menurunkan tangan Zaki dari wajahnya. Untuk sesaat, Zaki mengira ia telah menang.
"Kamu benar, Zaki," ucap Sekar dengan suara yang sangat tenang — ketenangan yang justru berbahaya.
"Aku adalah manajer sukses. Aku terbiasa membuang aset yang sudah busuk dan merugikan perusahaan."
Sekar mendekatkan wajahnya ke telinga Zaki, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk pria itu berdiri.
"Kamu pikir aku akan sudi berbagi tempat tidur dengan pria yang bekas kakaknya sendiri? Kamu bukan hanya kehilangan aku, Zaki. Kamu baru saja membangunkan sisi diriku yang tidak ingin kamu lihat."
Sekar mendorong Zaki dengan sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung ke belakang. Ia membuka pintu kamarnya, namun sebelum menutupnya rapat, ia menoleh ke arah Ranti yang rupanya sudah berdiri di bawah tangga, mendengarkan semuanya dengan wajah hancur.
"Kak Ranti, dengar itu?" seru Sekar lantang.
"Calon suamimu baru saja berjanji akan menceraikanmu setelah bayimu lahir demi menikahiku. Selamat atas pernikahan impianmu besok, Kak."
BRAKK!
Pintu kamar terbanting dan terkunci rapat. Dari dalam kamar, tidak terdengar suara tangisan. Justru terdengar suara mesin penghancur kertas yang menyala, menghancurkan semua kenangan mereka, sementara di luar, pertengkaran hebat baru saja pecah antara Ranti dan Zaki.
Di tengah kegelapan kamarnya, Sekar menyalakan ponselnya. Ia menekan satu nama di kontaknya: "Pengacara Perusahaan."
"Halo? Saya ingin membatalkan semua aset atas nama Zaki Pratama. Detik ini juga."