Mengemis Cinta yang Hilang

1601 Kata
"Kenapa kamu tega mengkhianati cinta kita, Zaki," bathin Sekar. Setelah bunyi dentum pintu yang memekakkan telinga, keheningan mencekam langsung menyergap kamar itu. Sekar bersandar di balik pintu, tubuhnya perlahan merosot hingga ia terduduk di lantai yang dingin. Ketegaran yang tadi ia tunjukkan di depan Zaki dan Ranti menguap begitu saja, berganti dengan isak tangis yang menyesakkan d**a. Ia merangkak menuju ranjangnya, tempat di mana biasanya ia bermimpi tentang masa depan bersama Zaki. Di atas nakas, masih ada foto mereka berdua saat liburan setahun lalu, Zaki tersenyum lebar, dan Sekar terlihat sangat bahagia. "Kenapa, Zak?" bisiknya di sela tangis yang pecah. "Apa yang kurang dariku?" Sekar membenamkan wajahnya di bantal, meredam teriakan frustrasinya. Pikirannya melayang pada tiga tahun terakhir. Dia bukan sekadar pacar, dia adalah penopang hidup Zaki. Dia yang membayar cicilan mobil Zaki agar pria itu tidak malu saat bertemu klien. Dia yang melunasi utang keluarga Zaki saat ayahnya sakit. Bahkan jas yang dikenakan Zaki di bawah tadi, Sekar yang membelikannya sebagai hadiah ulang tahun bulan lalu. Dia mengingat bagaimana ia memaksakan diri bekerja lembur di London, menahan rindu dan lelah, hanya agar tabungan pernikahan mereka cukup untuk pesta mewah yang diinginkan Zaki. Ternyata, selama dia berjuang di negeri orang, pria itu justru menikmati fasilitas dan kasih sayang dari kakaknya sendiri di rumah ini. Setiap sen yang dia keluarkan terasa seperti peluru yang sekarang balik menembus jantungnya. Pengkhianatan ini bukan hanya soal cinta yang hilang, tapi tentang ketulusan yang diinjak-injak oleh orang-orang yang ia anggap sebagai rumah. Tangis Sekar perlahan mereda, menyisakan mata sembab yang kini memerah karena amarah yang mulai mengkristal. Dia bangkit dari ranjang dan berjalan menuju meja riasnya. Dia menatap pantulan dirinya di cermin hancur, tapi belum mati. Dia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ada sebuah notifikasi dari m-banking miliknya. Sebuah laporan transaksi otomatis: Pembayaran Sewa Gedung Pernikahan - LUNAS. Sekar tertawa getir. Dia baru saja membayar biaya pernikahan untuk pria yang menghamili kakaknya. Jemari Sekar bergetar saat dia membuka sebuah folder rahasia di laptopnya. Di sana tersimpan semua bukti transfer, bukti cicilan, dan aset-asat yang dia beli atas nama Zaki yang sebenarnya menggunakan uang pribadinya sebagai manajer. Ia menghapus air matanya dengan kasar, lalu mengetikkan sebuah pesan singkat kepada asisten pribadinya di kantor. (Batalkan semua akses kartu kredit tambahan atas nama Zaki Pratama. Sekarang. Dan siapkan berkas penarikan aset kendaraan plat B 1234 SKR besok pagi jam 8 tepat, saat acara akad dimulai) Sekar menatap ke arah jendela, di mana para pekerja di bawah masih sibuk memasang tenda janur. "Kalian ingin pesta?" gumam Sekar dengan suara dingin yang menusuk. "Aku akan berikan pesta yang tidak akan pernah kalian lupakan seumur hidup." "Jadi itu rencanamu, Mas?" suara Ranti memecah keheningan, tajam dan penuh luka. "Menikahi ku besok hanya untuk status, lalu minggu depan tetap menikahi Sekar seolah aku tidak pernah ada?" Ranti berdiri dengan tangan gemetar, menatap Zaki yang tampak gelisah sambil merapikan kemejanya yang kusut. Zaki tersentak, dia menoleh dan mendapati Ranti menatapnya dengan kebencian murni. "Ranti, ini demi kebaikan kita semua. Kamu dapat status, anak itu punya ayah, dan aku... aku tidak kehilangan Sekar," "Aku bukan anak kecil, Zaki! Aku dengar semuanya!" Ranti berteriak, tidak peduli lagi jika suaranya terdengar sampai ke lantai atas. "Kamu bilang kamu hanya mencintainya! Terus aku apa? Apa artinya malam-malam yang kita habiskan saat dia tidak ada? Apa artinya bayi ini bagimu?" Zaki melangkah mendekat, wajahnya berubah dingin, tidak ada lagi sisa-sisa kelembutan yang biasanya ia tunjukkan pada Ranti. "Kamu mau tahu kejujurannya?" desis Zaki pelan namun menusuk. "Iya, aku mencintai Sekar. Sangat mencintainya. Kamu tahu kenapa? Karena Sekar punya segalanya untuk membuatku bertahan hidup! Dia punya jabatan, dia punya uang, dia yang membayar semua cicilanku, dan dia yang memastikan aku tetap terlihat terhormat di depan orang lain!" Ranti ternganga, air mata jatuh membasahi pipinya. "Jadi kamu hanya memanfaatkannya? Dan sekarang kamu ingin menjadikanku istri simpanan yang hanya punya status di atas kertas?" "Jangan naif, Ranti! Kita berdua sama-sama tahu siapa yang memulai ini!" Zaki menunjuk perut Ranti. "Kamu yang datang padaku saat aku kesepian, kan? Kamu yang menggoda pacar adikmu sendiri! Sekarang nikmati hasilnya. Aku akan memberimu nama belakangku besok, tapi jangan harap aku akan memberikan hatiku atau hartaku padamu. Semua itu milik Sekar. Karena tanpanya, aku bukan siapa-siapa," Ranti terhuyung, memegang pinggiran meja makan untuk menopang tubuhnya. Rasa sakit dikhianati oleh adik sendiri mungkin berat, tapi disadari bahwa pria yang ia perjuangkan hanya memandangnya sebagai beban adalah kehancuran mutlak. "Kamu jahat, Zaki..." isak Ranti. "Kamu menggunakan aku untuk kesenanganmu, dan kamu menggunakan Sekar untuk ambisimu. Tega sekali kamu, Zaki. Laki - laki macam apa kamu sebenarnya? Berengsek kamu," "Sebut aku apa saja," sahut Zaki acuh tak acuh sambil memeriksa jam tangannya. "Tapi pastikan besok pagi kamu tampil cantik. Jangan buat aku malu di depan penghulu. Setelah akad selesai, aku harus segera mengurus Sekar agar dia tidak membatalkan rencana pernikahan kami minggu depan," "Disaat seperti ini kamu masih bisa bicara soal pernikahan kamu dengan Sekar? Dimana hati nurani kamu, Zaki? Setidaknya kamu pikirkan sedikit saja tentang perasaanku," "Untuk apa aku memikirkan perasaanmu? Sejak awal kita tahu siapa yang sedang bermain hati di sini? Siapa dan perasaan siapa yang sedang kita mainkan di sini? Dan untuk perasaanmu, itu bukan urusanku," "Aku memang yang memulai semuanya. Memang aku yang lebih dulu menggoda mu sehingga kamu tergoda denganku. Tapi Aku melakukan semua itu Karena aku memang tulus mencintaimu, Zaki. Aku... Aku menyayangimu... sangat menyayangimu. Bahkan rasa sayang dan cintaku jauh lebih besar dari rasa sayang dan cinta Sekar padamu. Itu sebabnya aku memanfaatkan waktu saat Sekar pergi dinas ke luar negeri. Aku memang sengaja menggoda mu, agar aku bisa mendapatkan hatimu dan kita bisa menikah. Dan Kamu lihat sendiri kan? Aku aku mendapatkannya. Aku akhirnya hamil dan kita akan segera menikah. Itu artinya kamu harus mulai belajar mencintaiku dan melupakan Sekar," "Kamu itu tidak lebih dari seorang w************n. Sejak awal kamu tahu jika aku tidak memiliki rasa apapun padamu. Dan jika malam itu kita telah melakukannya hingga kamu hamil anakku, itu hanya untuk kepuasanku saja, tidak lebih. Aku tidak pernah menggunakan perasaan saat melakukannya padamu. Saat itu aku hanya sedang butuh pelampiasan hasratku saja. Jadi jangan salahkan aku ataupun Sekar, Kalau setelah kita menikah nanti aku tetap tidak akan bisa mencintaimu. Karena hanya ada nama Sekar di hatiku," "Sepertinya mulai sekarang kamu harus mulai terbiasa dengan sikapku ini. Jangan pernah berharap lebih dariku apalagi sampai aku mencintai dan menyayangimu. Ingat, Ranti. Pernikahan ini hanya untuk status, untuk melindungi kamu dan keluargamu dari aib yang sudah kita lakukan. Melindungi anak yang ada di dalam kandunganmu itu, agar dia tetap lahir tanpa kehilangan seorang ayah, Itu saja," Zaki berjalan pergi menuju teras, meninggalkan Ranti yang sendirian di tengah kemewahan dekorasi yang terasa hambar. "Bajing** kamu, Zaki. Aku Tidka pernah menyangka bisa jatuh ke tangan laki - laki bereng**k sepertimu," Ranti menyeka air matanya dengan kasar. Matanya tertuju pada ponsel Zaki yang tertinggal di atas meja. Sebuah pesan baru muncul di layar kunci, sebuah notifikasi dari bank bahwa kartu kredit utama Zaki baru saja dinonaktifkan. Ranti tersenyum getir, sebuah ide gelap mulai muncul di kepalanya. Jika Zaki tidak bisa mencintainya, maka Zaki juga tidak boleh memiliki Sekar atau harta Sekar sekalipun. "Kamu pikir Sekar akan menerimamu setelah ini?" bisik Ranti pada kesunyian. "Kalau aku harus hancur, kita semua harus hancur bersama," Tepat saat itu, Ningrum berjalan cepat menghampiri Ranti. Wajahnya tampak panik, tangannya memegang beberapa lembar catatan biaya pernikahan yang belum terbayar. "Ranti! Di mana Zaki?" tanya Ningrum dengan suara melengking kecil. Ranti hanya menunjuk ke arah teras dengan mata sembab. Ningrum tidak peduli pada air mata anaknya, dia justru menarik lengan Ranti agar fokus padanya. "Dengar, Ibu baru saja cek ke meja rias dan kotak uang. Zaki bilang dia sudah menyiapkan mahar untukmu, tapi sampai detik ini Ibu tidak melihat ada emas atau uang tunai di sana!" Ningrum menoleh ke arah teras dengan tatapan menuntut. "Besok jam delapan pagi penghulu datang, Ranti! Keluarga besar kita akan melihat. Masa iya, kakak seorang manager besar menikah dengan mahar yang belum siap? Mana mahar dari Zaki? Mana uang yang dia janjikan?" Ranti tertawa getir, suaranya terdengar kosong. "Tanyakan saja pada calon menantu kesayangan Ibu itu, Bu. Apakah dia punya uang, atau selama ini dia hanya hidup dari ketiak Sekar?" "Kenapa kamu bicara seperti itu, Ranti? Apa kamu dan Zaki sedang bertengkar? Kalian bertengkar karena suka telah mengetahui semuanya?" tanya Ningrum. "Menurut Ibu? Apa ada hal lain yang bisa membuat kami bertengkar selain kehadiran Sekar? Seharusnya sekalian saja wanita itu tidak pernah kembali," "Jaga bicaramu Ranti. Bukan saatnya memikirkan soal Sekar. Lagi pula sekarang kan Sekar sudah menerima kamu akan menikah dengan Zaki. Lalu apalagi yang kamu permasalahkan. Sekarang tinggal kamu yang berusaha mencari simpati dari Zaki dan membuat laki-laki itu bertekuk lutut padamu. Berhenti bersikap bodoh, Ranti," "Sekarang ibu harus bicara dengan Zaki. Dia harus segera memberikan uang mahar dan perhiasan itu sebelum besok," ucap Ningrum. Ningrum tertegun, lalu dengan langkah lebar dia menuju pintu teras, siap melabrak Zaki. "Zaki! Jelaskan pada Ibu! Kamu mau menikahi anakku besok, tapi kenapa maharnya belum ada di tangan Ibu?!" "Kamu sudah berjanji pada ibu dan Ranti akan memberikan mahar yang besar. Kamu juga mengatakan pada ibu jika kamu akan memberikan satu set perhiasan kepada Ranti. Sekarang mana uang mahar dan perhiasan yang kamu janjikan itu? Seharusnya kamu memberikannya malam ini kepada ibu, jangan sampai menunggu besok. Agar Ibu bisa menyiapkannya malam ini. Takutnya besok malah jadi buru-buru dan lupa," Di lantai atas, dari balik celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka, Sekar memperhatikan kepanikan di bawah sana dengan tatapan sedingin es. Di tangannya, dia memegang smartphone yang baru saja instruksi terakhir, Pemblokiran seluruh rekening bersama atas nama Zaki Pratama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN