BRAK!
BRAK!
BRAK!
Pintu kayu jati itu bergetar hebat. Ningrum menggedor seolah-olah rumah sedang terbakar, suaranya melengking memenuhi koridor lantai dua.
"Sekar! Buka pintunya! Ibu tahu kamu di dalam! Jangan jadi anak durhaka yang membiarkan keluarganya malu!"
Sekar menarik napas panjang, merapikan rambutnya di depan cermin, lalu berjalan perlahan. Saat pintu terbuka, Ningrum hampir terjatuh ke depan. Wajah ibunya merah padam, keringat dingin membasahi dahinya.
"Mana perhiasanmu?" todong Ningrum tanpa basa-basi, tangannya terulur seperti penagih hutang.
Sekar menaikkan sebelah alisnya.
"Perhiasanku? Untuk apa, Bu?"
"Untuk mahar Ranti besok pagi! Zaki ternyata tidak punya uang sepeser pun! Dia bilang semua hartanya kamu yang pegang. Besok jam delapan penghulu datang, Sekar. Kamu mau keluarga kita ditaruh di mana mukanya kalau kakakmu menikah tanpa mahar? Kamu punya banyak emas batang dan kalung berlian di lemari, kan? Kasih satu saja untuk kakakmu!" pintu Ningrum dengan nada memaksa.
Sekar bersandar di kosen pintu, menatap ibunya dengan tatapan kosong yang membuat Ningrum merinding.
"Ibu sadar apa yang Ibu minta? Ibu minta aku membiayai pernikahan pria yang mengkhianatiku dengan wanita yang mengkhianatiku?"
"Ini darurat, Sekar! Ranti itu kakakmu, dia sedang hamil! Kalau kamu tidak mau bantu, bayinya mau dikasih makan apa nanti? Kamu kan kaya, manajer besar, uang segitu tidak ada artinya buatmu!"
Ningrum mulai terisak paksa, mencoba taktik manipulasi lama.
"Tolonglah... sekali ini saja. Anggap saja ini sedekah untuk keponakanmu."
"Tidak, Bu. Tidak akan ada satu gram emas pun yang keluar dari kamar ini untuk mahar mereka."
Suara Sekar begitu tenang, namun kata-katanya menghantam wajah Ningrum seperti tamparan. Ningrum tertegun, matanya membelalak tidak percaya.
"Apa kamu bilang? Kamu tega melihat keluarga kita dipermalukan?" teriak Ningrum, suaranya naik satu oktav.
"Kamu itu sudah sukses, Sekar! Kamu punya segalanya! Apa susahnya membantu kakakmu sendiri? Jangan jadi anak kikir yang tidak punya hati!"
"Hati?" Sekar tertawa sumbang.
"Hatiku sudah mati saat aku melihat Zaki mengelus perut Kak Ranti di bawah tadi. Ibu meminta bantuan pada orang yang baru saja kalian hancurkan hidupnya? Di mana logika Ibu?"
Ningrum yang sudah gelap mata karena panik membayangkan malu besok pagi, kehilangan kendali diri.
"Anak tidak tahu diuntung! Berani kamu menceramahi Ibu?!"
Ningrum mengangkat tangannya tinggi-tinggi, telapak tangannya terbuka, siap mendarat keras di pipi Sekar. Sekar tidak bergerak, ia tidak menghindar, ia hanya menatap ibunya dengan tatapan menantang yang tajam.
"Hentikan, Bu!"
Sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangan Ningrum di udara.
Zaki berdiri di sana, terengah-engah. Ia baru saja naik ke lantai atas setelah mendengar keributan itu.
"Jangan lakukan itu, Bu. Jangan pukul Sekar," ucap Zaki dengan nada memohon, namun matanya tetap melirik ke arah Sekar dengan penuh rasa bersalah dan ketakutan.
Ningrum menyentak tangannya dari genggaman Zaki.
"Dia keterlaluan, Zaki! Dia tidak mau memberikan perhiasannya untuk maharmu besok! Kamu mau kita semua malu?"
Zaki menatap Sekar, mencoba mencari celah untuk kembali memanipulasi keadaan.
"Sekar... tolonglah. Aku tahu aku salah. Tapi ini demi nama baik kita semua. Kalau besok tidak ada mahar, orang-orang akan bertanya. Kamu juga akan malu kalau pernikahan ini jadi bahan gunjingan satu kota."
Sekar melipat tangannya di d**a, bibirnya membentuk senyum meremehkan.
"Oh, jadi sekarang kamu khawatir soal rasa maluku? Bukankah rasa malu itu sudah habis saat kamu menghamili kakak kandungku sendiri, Zaki?"
"Aku akan mencicilnya padamu, Kar! Aku janji!" Zaki mendekat, suaranya merendah.
"Beri aku satu saja kalungmu. Aku akan bekerja keras untuk menggantinya setelah aku resmi jadi suami Ranti. Aku melakukan ini juga agar Ibu tidak stres dan jatuh sakit."
"Gunakan uangmu sendiri, Zaki," jawab Sekar dingin. "Atau jual saja mobil yang aku belikan untukmu. Itu cukup untuk membeli mahar paling mewah untuk Ranti."
Wajah Zaki memucat.
"Mobil itu... mobil itu sudah aku jaminkan untuk menutupi hutang keluargaku bulan lalu, Kar. Aku benar-benar tidak punya apa-apa lagi."
Sekar tertegun sejenak mendengar pengakuan Zaki, lalu ia tertawa lepas, tawa yang membuat Ningrum dan Zaki bergidik ngeri.
"Luar biasa. Jadi pria yang besok akan menikahi kakakku adalah seorang pengangguran yang terlilit hutang dan tidak punya harga diri?" Sekar menatap ibunya.
"Itu menantu idaman Ibu? Selamat, Bu. Ibu baru saja menukar anak yang berbakti dengan seorang parasit."
Sekar mundur satu langkah dan mulai menutup pintunya.
BRAKK!
Pintu terkunci rapat. Di luar, Ningrum jatuh terduduk sambil menangis histeris karena frustrasi. Sementara Zaki berdiri mematung, ponselnya bergetar di saku celana. Sebuah pesan singkat masuk dari sekretaris kantor Sekar:
"Bapak Zaki Pratama, dengan ini kami sampaikan bahwa fasilitas apartemen dan tunjangan operasional Anda telah dicabut per jam ini atas perintah Ibu Sekar Armani. Silakan kosongkan unit dalam 24 jam."
Bahkan Zaki baru membaca pesan singkat atas pemblokiran kartu kreditnya.
Di luar pintu, dunia Zaki runtuh secepat notifikasi yang masuk ke ponselnya. Suara gedoran pintunya kini lebih brutal daripada gedoran Ningrum sebelumnya.
"Sekar! Buka! Apa maksudnya ini?!" teriak Zaki parau. "Apartemen? Tunjangan? Kamu tidak bisa melakukan ini secara sepihak! Aku butuh tempat itu, Sekar! Ranti butuh tempat itu setelah kami menikah besok!"
BAM! BAM! BAM!
"Sekar Armani! Jawab aku! Kamu mau aku tinggal di jalanan bersama kakakmu yang sedang hamil? Mana hatimu?! Kamu juga sudah memblokir kartu kredit ku! Sekar!"
Di dalam kamar, Sekar tidak bergeming. Ia duduk di kursi kerjanya dengan punggung tegak.
Ia perlahan mengenakan noise-cancelling headphones miliknya. Begitu musik klasik mengalun lembut di telinganya, suara teriakan Zaki yang memuakkan itu berubah menjadi gumaman samar yang tak berarti.
"Sekar... tolong," bisik Zaki, suaranya kini pecah menjadi isakan kecil. "Jangan hancurkan aku sekarang. Besok aku harus menikah. Aku harus punya muka di depan orang-orang..."
Di dalam kamar, Sekar melepas headphone-nya sejenak. Ia mendengar rintihan payah Zaki di balik pintu.
Namun, alih-alih merasa kasihan, Sekar justru mengambil sebuah koper besar dari atas lemari. Ia mulai memasukkan pakaian-pakaian kantornya yang paling mahal, perhiasan dan beberapa buku tabungannya.
Ia tidak akan melarikan diri. Ia hanya sedang bersiap untuk pindah setelah pertunjukan besok selesai.
"Sudah, Zaki! Percuma kamu memohon pada batu!" desis Ningrum. "Sekar sudah keras hati. Sekarang dengarkan Ibu. Kamu masih punya simpanan, kan? Pakai sisa uang di rekeningmu. Belikan apa saja yang terlihat mahal untuk mahar besok pagi. Entah itu emas, atau jam tangan mewah. Kita harus punya sesuatu untuk ditunjukkan saat penghulu bertanya!"
Zaki menatap mertuanya dengan pandangan kosong. Tangannya gemetar saat merogoh saku dan mengeluarkan dompet kulit yang juga merupakan hadiah dari Sekar.
"Uang apa, Bu?" suara Zaki hampir hilang.
"Ibu tahu sendiri, gaji saya bulan ini sudah habis untuk membayar DP gedung yang sempat kita pesan atas nama Sekar. Semua aset saya... semuanya terikat dengan kartu kredit Sekar."
"Jangan bercanda!" Ningrum mengguncang lengan Zaki.
"Pasti ada sisa! Masa laki-laki tidak punya simpanan sama sekali?"
Zaki membuka aplikasi perbankan di ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menunjukkan layarnya pada Ningrum. Angka yang tertera di sana sangat menyedihkan, hanya tersisa beberapa ratus ribu rupiah, tidak cukup bahkan untuk membeli satu gram emas pun.
"Kartu kreditku sudah diblokir Sekar lima menit yang lalu, Bu," bisik Zaki.
"Aku... aku benar-benar tidak punya apa-apa tanpa dia."
Ningrum terperangah. Ia menatap layar ponsel itu seolah-olah melihat surat kematian.
"Lalu bagaimana besok pagi? Tamu-tamu akan datang! Keluarga besar kita akan melihat! Apa kamu mau memberikan mahar uang tunai seratus ribu rupiah?!"