*****
Sekitar pukul sebelas malam, udara di dalam kamar terasa begitu menyesakkan bagi Sekar. Suara isak tangis ibunya di lantai bawah dan gumaman panik Zaki membuatnya muak. Ia butuh oksigen. Dengan langkah gontai, ia keluar melalui pintu belakang, menghindari kerumunan pekerja dekorasi yang masih sibuk di halaman depan.
Sekar berjalan menyusuri trotoar kompleks yang sepi, namun langkahnya terhenti saat ia mendekati pos ronda dan deretan bangku di depan minimarket yang masih buka.
Di sana, sekelompok ibu-ibu kompleks yang biasanya menjadi teman pengajian ibunya sedang berkumpul sambil berbisik intens.
"Eh, kalian sudah dengar belum? Itu loh, rumah Bu Ningrum," suara Bu RT terdengar paling nyaring.
Sekar mematung di balik bayangan pohon besar, jantungnya berdegup kencang.
"Iya, keterlaluan ya! Padahal Sekar itu yang banting tulang kerja, eh malah kakaknya yang hamil duluan sama pacar adiknya," sahut Ibu yang lain dengan nada menghakimi.
"Tadi saya lewat, janur kuningnya sudah dipasang. Besok akadnya. Katanya sih dimajukan karena perut si Ranti sudah mulai kelihatan."
"Kasihan ya si Sekar. Manajer hebat, cantik, tapi dikhianati orang sedarah sendiri. Mana si Zaki itu katanya cuma numpang hidup sama Sekar. Eh, malah numpang di perut kakaknya juga!"
"Tapi denger-denger, Bu Ningrum malah bela Ranti loh. Katanya daripada malu punya cucu tanpa bapak, mending korbankan perasaan anak yang satu lagi. Memang ya, kalau sudah urusan perut, urusan moral nomor dua."
Sekar berdiri mematung di balik bayangan pohon kamboja besar. Jantungnya serasa dihantam palu saat mendengar namanya terus disebut.
"Tapi kasihan juga si Sekar ya, Jeng," suara Bu RT terdengar sok prihatin, padahal matanya berbinar penuh gairah gosip.
"Tiga hari kerja bagai kuda siang malam, kirim uang tiap bulan, eh malah kecolongan di kandang sendiri. Memang benar pepatah, pagar makan tanaman. Ini mah kakaknya sendiri yang makan pacar adiknya!"
"Halah, Bu RT jangan terlalu kasihan juga," sahut Bu Anwar sambil mengipasi wajahnya dengan daster.
"Lagian Sekar itu juga salah. Terlalu ambisius jadi manajer, laki-lakinya ditinggal-tinggal. Ya jelas si Zaki nyari yang anget di rumah. Si Ranti kan pengangguran, waktunya banyak buat melayani Zaki."
"Eh, tapi beneran hamil, Jeng?" tanya Ibu yang lain, mendekatkan kursi plastiknya agar lebih rapat.
"Beneran! Saya lihat sendiri tadi sore Bu Ningrum beli s**u hamil di minimarket depan. Wajahnya ditekuk kayak cucian belum kering. Terus tadi kurir dekorasi nanya ke saya, 'Bu, ini buat nikahan Mbak Sekar ya?', saya jawab aja, 'Bukan mas, ini buat nikahan Mbak Ranti yang dapet lungsuran pacar adiknya'. Hahaha!"
Suara tawa pecah di tengah malam yang sunyi itu.
"Duh, kalau saya jadi Sekar sih, saya sudah pindah rumah. Malu! Calon suaminya dipake kakak sendiri sampai jadi bayi. Mana denger-dengar si Zaki itu selama ini cuma modal tampang doang, hidupnya dibayarin Sekar semua. Eh, sekarang malah mau jadi kakak iparnya. Apa nggak geli itu nanti kalau lebaran sungkeman?"
Sekar memejamkan mata kuat-kuat. Setiap kata yang mereka ucapkan terasa seperti silet yang mengiris harga dirinya. Selama ini dia merasa bangga bisa menghidupi keluarga dan Zaki, tapi di mata orang lain, dia hanyalah wanita bodoh yang bisa dibeli kesetiaannya.
Ia merapikan rambutnya, menarik napas panjang, dan keluar dari kegelapan. Langkah kakinya yang menggunakan selop rumahan terdengar tegas di atas aspal.
"Selamat malam, Ibu-ibu. Sepertinya obrolannya seru sekali sampai nama saya dibawa-bawa."
Grup gosip itu mendadak kaku. Bu RT hampir tersedak ludahnya sendiri, sementara Bu Anwar pura-pura sibuk membetulkan letak sandalnya.
"Eh... Sekar... Anu, ini lagi bahas... persiapan besok," jawab Bu RT gugap.
Sekar tersenyum, tapi matanya sedingin es.
"Persiapan besok sudah matang, Bu. Dan karena Ibu-ibu sangat peduli dengan kasih sayang yang dibutuhkan Zaki, saya harap besok datang tepat waktu jam 8 pagi. Jangan cuma nonton dari jauh."
Sekar mendekat ke arah Bu RT, membisikkan sesuatu yang cukup keras untuk didengar yang lain.
"Besok bukan hanya akad nikah yang akan Ibu lihat, tapi juga bagaimana cara saya membuang sampah dari rumah saya sendiri. Sampai jumpa di barisan depan ya, Bu."
Sekar berlalu tanpa menoleh lagi, meninggalkan ibu-ibu itu dalam keheningan yang mencekam.
***
Setelah meninggalkan kerumunan ibu-ibu penggosip, Sekar merasa tenggorokannya terbakar. Ia butuh sesuatu yang dingin untuk memadamkan amarahnya. Ia melangkah masuk ke minimarket, mengambil sebotol air mineral dingin, dan menempelkannya sejenak ke pipinya yang terasa panas.
Saat ia keluar dan membuka tutup botol, suara tangisan melengking seorang anak kecil memecah kesunyian malam di area parkir.
Di sudut teras minimarket, seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun dengan kaos bergambar pahlawan super sedang sesenggukan.
Wajahnya merah padam, air matanya membasahi pipi yang gembul. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya yang tampak lelah, sang babysitter berusaha membujuknya dengan cemas.
"Cup, cup, Sayang... sebentar lagi Papa datang. Tadi Papa bilang kejebak macet ada perbaikan jalan," bujuk sang suster sambil mengusap punggung anak itu.
"Nggak mau! Papa bohong! Papa selalu telat!" tangis anak itu semakin pecah. "Aku ngantuk, Suster... aku mau bobo sama Papa!"
Sekar tertegun. Melihat anak kecil itu, ia teringat pada dirinya sendiri. Anak yang selalu menunggu, anak yang selalu merasa ditinggalkan demi kepentingan orang lain.
Bedanya, anak ini menangis karena rindu, sementara Sekar menangis karena dikhianati.
Sekar mendekat perlahan. Ia merogoh kantong plastiknya dan mengeluarkan sekotak s**u cokelat yang tadi sempat ia beli secara impulsif.
"Hai, Jagoan," panggil Sekar lembut, menurunkan nada suaranya yang tadinya tajam.
Anak itu berhenti menangis sesaat, menatap Sekar dengan mata bulat yang basah. Suster itu menatap Sekar dengan raut lega sekaligus sungkan.
"Ini untukmu. Pahlawan super tidak boleh menangis kelamaan, nanti kekuatannya hilang," ucap Sekar sambil menyodorkan s**u cokelat itu.
Anak itu ragu sejenak, menatap susternya, lalu menerima s**u itu dengan tangan mungilnya.
"Terima kasih, Tante..." bisiknya serak.
"Sama-sama. Siapa namamu?"
"Arka..."
"Arka, Papamu pasti datang. Dia mungkin sedang berjuang menembus macet hanya untuk memelukmu. Tunggu sebentar lagi, ya?"
Sekar tersenyum tipis, senyum tulus pertama yang ia keluarkan sejak menginjakkan kaki di tanah air.
Tepat saat Arka mulai tenang, sebuah mobil SUV hitam mewah berhenti dengan decitan halus di depan mereka. Pintu pengemudi terbuka dengan cepat, dan seorang pria berjas rapi namun tampak kacau balau keluar dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Sekar! Sekar, tunggu!" teriak Zaki yang rupanya mengikuti Sekar dengan motor matic tuanya.
Sekar terperanjat. Suara cempreng dan penuh kepanikan milik Zaki membelah kesunyian area parkir minimarket tersebut.
Sekar merasa mual hanya dengan mendengar suara itu. Ia tidak sudi terlihat sedang bersedih atau lemah di depan pria yang telah mengkhianatinya. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Adrian yang baru saja membuka pintu mobil SUV mewahnya, Sekar mempercepat langkah.
Saat Adrian melangkah keluar, tubuh Sekar bersisihan sangat dekat dengannya. Aroma parfum kayu manis dan maskulin yang mahal dari tubuh Adrian sempat terhirup oleh Sekar, memberikan kontras tajam dengan bau keringat dan kepanikan yang terpancar dari Zaki yang baru saja sampai.
Sekar meluncur pergi begitu saja, melewati Adrian tanpa pamit, seolah pria itu hanya tiang lampu di parkiran tersebut. Ia hanya ingin menghilang dari sana.
Adrian Dirgantara berdiri mematung di samping pintu mobilnya. Matanya yang tajam sempat menangkap raut wajah Sekar yang mengeras seperti batu saat bersisihan dengannya tadi. Ia melihat wanita itu setengah berlari menuju kegelapan jalan kompleks, meninggalkan botol air mineral yang baru dibuka di atas tempat sampah.