Bab 4. Ego yang Terluka

1231 Kata
"Tadi ... mereka bilang apa?" Ica mencoba mengalihkan perhatian dari rasa panas yang membakar tubuhnya. "Mereka cuma membicarakan gosip murah," jawab Denis pelan. Matanya kini terkunci pada manik mata Ica. "Sama murahnya dengan ketakutan kamu sekarang. Kenapa kamu gemetar, Ca? Takut ketahuan ... atau takut sama saya?" Ica tidak bisa menjawab. Lidahnya kelu. Ia hanya bisa merasakan betapa dominannya sosok pria di depannya ini. Denis yang biasanya dingin dan profesional di kantor, sekarang terasa begitu predator. Sentuhan Ica nanti malam memang direncanakan sebagai candu, tapi berada di dalam ruang sempit ini bersamanya membuat Denis merasa dialah yang sudah mulai kecanduan. Ia bisa melihat rona merah yang menjalar dari pipi hingga ke leher Ica. Setiap embusan napas Ica yang pendek-pendek seolah-olah menjadi musik yang paling indah yang pernah ia dengar di tengah kesunyian hatinya. "Dengar, Ca," bisik Denis lagi, suaranya kini lebih berat. "Mulai sekarang, biasakan tubuh kamu dengan kehadiran saya. Karena nanti malam, saya akan menyentuh kamu lebih dari ini di depan semua orang." Denis sengaja semakin menekan tubuhnya, membiarkan Ica merasakan setiap lekuk tubuhnya yang tegap. Ica memejamkan mata, tangannya tanpa sadar meremas lengan jas Denis. Ia merasa berdosa, ia merasa salah, tapi anehnya, ia merasa hidup. Jauh lebih hidup daripada saat ia hanya menjadi admin yang duduk di belakang komputer. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, suara tawa di luar perlahan menjauh dan hilang. Denis tidak langsung membuka pintu. Ia masih betah di sana, menikmati aroma peach dan debaran jantung Ica yang tak beraturan di dadanya. "Mereka sudah pergi," bisik Denis. Namun, ia tidak menjauhkan tubuhnya. Ica mendongak, matanya bertemu dengan mata Denis yang gelap dan penuh rahasia. "Boleh ... boleh saya ganti baju sekarang, Denis?" Denis tersenyum miring, lalu perlahan mundur, memberikan sedikit ruang bagi Ica untuk bernapas. "Ganti bajunya. Saya tunggu di depan. Dan pastikan gaun itu muat, kalau tidak ... saya sendiri yang akan masuk untuk membetulkannya." Denis keluar dari ruang pas, meninggalkan Ica yang bersandar lemas pada cermin dengan napas yang memburu. Di sini, Denis sedang memainkan drama di ruang ganti yang sempit, sementara di luar sana, Manda masih sibuk dengan makan siangnya yang terlambat. Denis merasa dia sudah menang satu langkah dalam permainan ini, tanpa sadar bahwa ruang pas itu barusan menjadi saksi bisu runtuhnya tembok pertahanannya sendiri. *** ​Denis berdiri di depan deretan cermin besar, mencoba mengatur napasnya yang masih sedikit memburu akibat kejadian di dalam ruang pas tadi. Ia merapikan jasnya, berusaha kembali ke mode Manajer HRD yang dingin dan terkendali. Namun, aroma peach yang sempat ia hirup dalam jarak nol sentimeter tadi seolah sudah menempel di paru-parunya, menolak untuk pergi. ​Beberapa menit berlalu. Pintu bilik kayu itu perlahan terbuka. ​"Denis ...." suara Ica terdengar ragu, hampir berbisik. ​Denis berbalik. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, jantung pria itu berhenti berdetak selama satu detik penuh. ​Ica berdiri di sana. Gaun merah marun itu membalut tubuh mungilnya dengan sempurna. Potongan off-shoulder itu mengekspos bahunya yang putih bersih dan tulang selangka yang tampak elegan. Warna merahnya kontras dengan kulit Ica yang kuning langsat, memberikan kesan berani sekaligus rapuh secara bersamaan. Gaun itu memeluk lekuk pinggang Ica yang kecil, lalu jatuh menjuntai di atas lutut, memperlihatkan kaki jenjang yang selama ini tersembunyi di balik rok span kantor yang kaku. ​"Apa ... ini aneh?" Ica menarik-narik ujung bawah gaunnya, merasa bagian dadanya terlalu rendah hingga ia terus-menerus mencoba menutupi belahan dadanya yang sedikit terlihat dengan tangan. ​Denis tidak menjawab. Kakinya melangkah mendekat, matanya menelusuri setiap inci penampilan baru Ica. ​Di mata Denis, Ica bukan lagi staf admin yang mengeluh soal laporan lembur. Dia bertransformasi menjadi mahakarya yang ia ciptakan sendiri. Denis merasakan tenggorokannya kering. Ada dorongan aneh untuk menyentuh kulit bahu Ica yang terbuka itu, untuk memastikan bahwa kelembutan yang ia lihat bukanlah halusinasi akibat stres kerja. ​"Sini," kata Denis, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. ​Ica mendekat dengan langkah kaku karena ia juga mengenakan sepatu hak tinggi warna perak yang dipilihkan pramuniaga tadi. Denis berdiri di belakang Ica, menghadap cermin. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Ica yang polos. ​Sentuhan tangan Denis yang besar dan hangat di kulit bahunya membuat Ica berjengit kecil. Ia bisa melihat di cermin bagaimana tangan Denis yang kuat tampak begitu kontras di atas kulitnya yang halus. ​"Jangan ditutupi," Denis menarik pelan tangan Ica yang sedari tadi menutupi bagian dadanya. "Kamu cantik, Ca. Dan nanti malam, maksud saya, besok malam, semua mata pria di ruangan itu harus tahu kalau kamu adalah alasan kenapa saya tidak pernah melirik wanita lain." ​"Tapi ini ... terlalu terbuka, Denis. Saya tidak terbiasa," bisik Ica, matanya menatap pantulan mata Denis di cermin. ​"Kamu akan terbiasa dengan kemewahan ini, Ica. Dan kamu akan terbiasa dengan saya," Denis merunduk, membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Ica, aroma maskulin dari parfumnya kini bergantian menyerang indra penciuman Ica. ​Setelah membayar semua belanjaan yang totalnya setara dengan gaji manajer menengah, Denis mengantar Ica pulang. Denis melajukan mobilnya membelah kemacetan Jakarta yang mulai mencair. Di kursi penumpang, Ica tampak tak berdaya melawan kantuk setelah seharian bekerja dan "bertempur" dengan emosi di dalam butik tadi. Kepalanya miring ke arah jendela, napasnya halus dan teratur. Suasana di dalam mobil hening, hanya ada suara radio yang memutar lagu jazz lambat. ​Denis fokus menyetir, tapi sesekali matanya melirik ke arah kiri. Dalam keremangan lampu jalan yang sesekali masuk ke dalam kabin mobil, wajah Ica terlihat sangat tenang. Rambutnya yang sedikit berantakan karena kuncir kuda yang mulai longgar membingkai wajahnya yang mungil. Tanpa pulasan makeup tebal, Ica terlihat begitu polos, dan juga menggairahkan dalam kesederhanaannya. ​Denis menatap bibir Ica yang sedikit terbuka. Pikiran pria itu kembali ke ruang pas. Ia teringat bagaimana sensasi d**a Ica yang terhimpit di kemejanya, bagaimana hangat tubuh gadis itu merambat ke kulitnya. Tiba-tiba, udara di dalam mobil yang sejuk karena AC terasa panas dan mencekik. ​Denis memutar setir ke arah bahu jalan yang agak sepi di bawah pohon mahoni besar. Ia menginjak rem perlahan hingga mobil itu berhenti sempurna. Ia hanya diam, menatap lurus ke depan sambil meremas kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Ia kembali melirik Ica. Jemari Denis bergerak ragu, ingin menyentuh helai rambut yang menutupi pipi Ica, namun ia segera menariknya kembali. ​PLAK! ​Denis menampar pipinya sendiri cukup keras. Rasa panas menjalar di wajahnya, mencoba mengusir kabut gairah yang mulai menguasai kewarasannya. ​"Sadar, Den. Dia cuma staf admin. Dia cuma senjata bayaran," gumamnya pada diri sendiri, suaranya parau. Pria itu meraih ponselnya, berharap ada sesuatu dari Manda yang bisa menariknya kembali ke jalan yang 'benar'. Ia membuka riwayat obrolan mereka. ​Denis: Aku sudah sampai rumah, tadi meeting-nya lancar. (Dibalas 5 jam kemudian) Manda: Ok. Aku masih di site. ​Denis: Besok aku bawakan sarapan ke kantormu ya sebelum ke bandara? Manda: Gak usah, aku sarapan di jalan aja biar cepet. Don't waste your time. ​Denis membaca pesan-pesan itu satu per satu. Semuanya terasa seperti balasan dari operator layanan pelanggan. Dingin, praktis, dan tanpa nyawa. Tidak ada "Hati-hati di jalan", tidak ada "Aku kangen kamu, Sayang". Hanya ada instruksi dan laporan progres. ​Denis mendengus sinis. Ia menoleh lagi ke arah Ica yang masih terlelap. Ica tidak pernah menyuruhnya untuk tidak 'membuang waktu'. Ica justru memberikan waktunya, memberikan rasa takutnya, dan memberikan kepatuhannya hanya dengan satu tawaran lembur. ​Denis kembali menjalankan mobilnya, kali ini dengan kecepatan yang lebih tinggi dan tekad yang lebih gelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN