Bab 5. Penawaran Terlarang

1356 Kata
Sesampainya di apartemennya sendiri, Denis melempar kunci mobil ke atas meja marmer. Kesunyian apartemen mewah itu mendadak terasa mencekik. Ia meraih ponselnya. Satu harapan terakhir. Satu kesempatan untuk Manda sebelum ia benar-benar melangkah terlalu jauh ke dalam 'bimbingan terlarang' ini. Jempolnya menekan nomor Manda. Panggilan diangkat pada nada kelima. ​"Den, aku baru mau makan siang—eh, makan sore. Ada apa lagi?" Suara Manda terdengar letih dan terganggu. ​"Manda, besok malam. Aku mohon sekali ini saja. Aku jemput kamu ke Surabaya sekarang kalau kamu bilang 'iya'. Aku batalkan semua jadwalku besok. Aku cuma ingin kamu ada di sampingku saat reuni itu." ​Hening sejenak. Lalu terdengar suara denting sendok di seberang sana. ​"Denis, kita sudah bahas ini. Kamu tahu vendor di sini bermasalah. Kalau aku tinggal, perusahaan rugi miliaran. Kamu pikir reuni rekan bisnismu itu lebih penting dari nasib proyek ini? Tolonglah, jangan egois. Kamu kan bisa datang sendiri, biasanya juga begitu. Jangan kekanakan." ​Egois, kekanakan. Kata itu menghantam telinga Denis seperti tamparan. ​"Biasanya aku datang sendiri karena aku pikir kamu akan punya waktu di acara berikutnya, Manda. Tapi ini sudah dua tahun. Teman-temanku menertawakanku. Rendy bilang aku penyuka sesama jenis karena tunanganku tidak pernah terlihat. Kamu tidak peduli dengan harga diriku?" ​"Itu cuma omongan orang, Den! Masa Manajer HRD baperan sama omongan Rendy? Sudahlah, aku ada telepon masuk dari bos. Jangan ganggu aku dulu ya. Bye." ​Tut... tut... tut... ​Denis perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ego yang selama ini ia coba jaga demi masa depan bersama Manda, kini hancur berkeping-keping di lantai apartemennya yang dingin. Pria yang membangun menara kesetiaan setinggi langit, hanya untuk diruntuhkan oleh satu kalimat 'jangan ganggu' dari wanita yang ia perjuangkan. Manda tidak sadar, bahwa dengan menutup telepon itu, dia baru saja membuka pintu kamar apartemen Denis lebar-lebar untuk wanita lain. ​Denis duduk di sofa, menatap kegelapan di luar jendela. Ia meraih ponselnya lagi, tapi kali ini jarinya mengetik pesan untuk Ica. ​Denis: Sudah sampai kosan? ​Tak butuh waktu lama, balasan masuk. ​Ica: Sudah, Denis. Ini lagi coba lepas sepatunya, susah banget talinya, hehe. Makasih ya buat bajunya. ​Denis membayangkan Ica di kosannya yang sempit, mungkin sedang duduk di pinggir kasur, berjuang dengan tali sepatu hak tinggi itu. Pikirannya melayang kembali ke ruang pas tadi. Bagaimana tubuh Ica yang hangat dan empuk tertekan di dadanya. ​Ia mulai mengetik instruksi. ​Denis: Besok pagi jam 10, supir akan jemput kamu ke salon. Alamatnya sudah saya kirim. Bilang saja reservasi atas nama Denis. ​Ica: Siap, Boss! Eh ... Denis. ​Denis: Satu lagi, Ca. Besok jangan pakai pakaian dalam yang bertali atau berwarna gelap di balik gaun itu. Aku tidak ingin bahu indahmu terlihat berantakan karena tali bra yang mengintip. Paham? ​Di seberang sana, Ica menahan napas membaca pesan itu. Wajahnya memananas. Pesan itu terasa sangat intim dan personal, melampaui batas antara atasan dan bawahan. Tapi tetap saja ia tidak bisa menolak. ​Ica: I-iya, Denis. Paham. ​Denis meletakkan ponselnya dengan senyum miring. ​Di bawah temaram lampu kamar, Denis mulai membayangkan hari esok. Jika Manda memilih proyek daripada dirinya, maka Denis memilih obsesi daripada kesetiaan. Tinta hitam itu sudah siap di ujung pena, dan Ica adalah kertas polos yang akan ia tuliskan dengan noda-noda gairah yang tak terverifikasi oleh aturan mana pun. *** Sabtu pagi di Jakarta biasanya dimulai dengan kemacetan orang-orang yang mengejar liburan singkat. Namun bagi Ica berbeda, Sabtu ini ia akan menjalankan misi rahasia dari atasannya. Sebuah mobil sedan hitam mengilat sudah terparkir di depan gerbang kosannya yang sempit tepat pukul sepuluh pagi. Supir pribadi kiriman Denis turun dengan sikap formal yang membuat tetangga kos Ica mengintip dari balik gorden dengan tatapan penuh gosip. "Mbak Ica? Saya diutus Pak Denis untuk mengantar Mbak ke salon," ucap supir itu sopan. Ica hanya bisa mengangguk kaku. Ia masuk ke dalam mobil mewah itu, merasakan kulit kursinya yang dingin dan wangi parfum mobil yang mahal. Tidak seperti kosannya yang pakai stela jeruk dengan aroma detergen dan asap penggorengan. Selama tiga jam berikutnya, Ica menyerahkan dirinya pada tangan-tangan profesional di sebuah salon eksklusif di kawasan Dharmawangsa. Rambutnya dicuci, dipijat, dan ditata menjadi gelombang lembut yang jatuh di bahunya. Wajahnya dipulas dengan riasan yang begitu tipis namun sanggup menonjolkan tulang pipi dan binar matanya. Saat ia berkaca, Ica nyaris tidak mengenali wanita di depannya. Di balik pantulan cermin itu, Ica melihat sosok asing yang cantik namun rapuh. Riasan itu seperti topeng emas yang menutupi jati dirinya sebagai admin rendahan. Ia merasa seperti sebuah vas bunga kristal yang diletakkan di tengah meja perjamuan; indah untuk dipandang, namun sekali retak, harganya akan jatuh tak bersisa. Pukul tujuh malam. Ica sudah kembali ke kosannya untuk mengenakan gaun merah marun yang dibelikan Denis. Sesuai instruksi Denis semalam—instruksi yang membuatnya tidak bisa tidur karena jantung yang terus berpacu—ia tidak mengenakan bra bertali. Ia memilih strapless bra yang memastikan bahunya polos tanpa noda garis apa pun. Tiba-tiba sebuah pesan masuk. Denis: Saya ada di depan. Keluar sekarang. Ica menarik napas panjang, merapikan gaunnya sekali lagi, dan melangkah keluar. Di depan gerbang, Denis sudah berdiri bersandar pada kap mobil BMW putihnya yang sporty. Malam ini, Denis tidak memakai jas kantor yang kaku. Ia mengenakan kemeja hitam satin yang lengannya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana bahan yang pas di kakinya yang panjang. Rambutnya ditata ke belakang, mempertegas rahangnya yang tajam. Denis sedang menatap layar ponselnya saat Ica keluar, namun begitu mendengar suara tepakkan sepatu hak tinggi di aspal, ia mendongak. Dan waktu seolah berhenti berputar di jalanan sempit itu. Denis terdiam. Matanya yang tajam menelusuri sosok Ica dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gaun merah itu tampak jauh lebih mematikan setelah Ica dipulas riasan salon. Bahunya yang putih bersih berkilau tertimpa lampu jalan, dan lehernya yang jenjang seolah-olah mengundang Denis untuk memberikan sebuah tanda di sana. "Denis?" panggil Ica pelan. Suaranya bergetar karena ditatap begitu intens. Denis melepaskan sandarannya pada mobil. Ia melangkah mendekati Ica, langkahnya pelan dan berat. Aroma parfum maskulin yang elegan segera mengepung indra penciuman Ica, mengalahkan aroma sabun kosannya. "Kamu ... sudah melakukan instruksi saya semalam?" tanya Denis, suaranya rendah dan serak, hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Ica menunduk, wajahnya memanas. "I-iya. Saya tidak pakai ... tali bra." Denis tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengulurkan tangannya yang besar ke arah bahu Ica. Jari telunjuknya yang kasar karena sering memegang pulpen dengan kuat, kini merayap pelan di atas kulit bahu Ica yang terbuka. Ia menelusuri garis tulang selangka Ica, lalu jempolnya berhenti tepat di pangkal leher gadis itu. Sentuhan itu membuat Ica meremang. Ia bisa merasakan aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya. "Bagus," bisik Denis. "Kulit kamu sangat bersih, Ica. Akan sangat disayangkan kalau ada garis karet murahan yang merusaknya." Sang Manajer HRD yang biasanya sibuk mengaudit absensi, malam ini sedang mengaudit luas permukaan kulit bawahannya sendiri. Dia merasa seperti seorang kolektor seni yang baru saja mendapatkan lukisan langka, padahal dia hanyalah pria kesepian yang sedang mencoba menambal lubang di hatinya dengan keindahan yang ia sewa. "Ayo masuk," Denis membukakan pintu mobil untuk Ica. Di dalam mobil, suasana terasa jauh lebih intim. Ruangan yang sempit itu membuat aroma peach dari tubuh Ica dan parfum Denis bercampur menjadi satu aroma yang memabukkan. Denis menyalakan mesin, namun ia tidak segera menjalankan mobilnya. Ia menoleh ke arah Ica. "Ica, dengar. Di pesta nanti, mereka akan mencoba menguji kita. Hati-hati dengan Randy, Bagas ... mereka punya lidah setajam silet. Mereka akan bertanya bagaimana kita bertemu, sejak kapan kita bertunangan, dan kenapa kamu mau dengan pria seperti saya." Ica menatap Denis balik. "Lalu saya harus jawab apa?" Denis meraih tangan Ica, menggenggamnya erat. Jari-jari Ica yang mungil tenggelam dalam genggaman Denis. "Jawab dengan tindakan. Kalau saya merangkul pinggang kamu, kamu harus bersandar pada saya. Kalau saya mencium tangan kamu, kamu harus menatap mata saya seolah saya adalah satu-satunya oksigen yang kamu punya." Ica menelan ludah. "Apa ... apa kita harus berciuman juga?" Denis tersenyum miring, senyum yang terlihat berbahaya di bawah lampu remang kabin mobil. "Tergantung seberapa keras mereka memancing saya. Tapi, kalaupun itu terjadi, anggap saja itu bagian dari bimbingan profesional."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN