"Bimbingan macam apa yang sampai ciuman segala, Denis?" Ica protes kecil, meski hatinya sebenarnya melonjak kegirangan.
"Bimbingan cara menyelamatkan harga diri atasan kamu, Ca. Jangan lupa, lima kali lipat gaji lembur. Kamu sudah setuju, kan?"
Ica terdiam. Ya, uang. Alasan yang membuatnya berada di sini. Tapi entah kenapa, saat tangan Denis mengelus punggung tangannya dengan lembut menggunakan jempolnya, alasan soal uang itu mulai terasa memudar, digantikan oleh rasa haus akan perhatian yang selama ini tidak pernah ia dapatkan di kota besar ini.
Denis menjalankan mobilnya menuju sebuah hotel mewah di kawasan SCBD. Selama perjalanan, ponsel Denis bergetar berkali-kali di dasbor. Sebuah nama muncul di layar: Manda.
Denis melirik ponsel itu, tapi ia tidak menyentuhnya. Ia membiarkan panggilan itu mati sendiri. Tak lama kemudian, sebuah chat masuk.
Manda: Den, aku baru selesai meeting. Ternyata proyeknya lancar. Aku bisa pulang besok pagi lebih awal. Kamu jadi kan reuni malam ini? Maaf ya aku nggak bisa nemenin.
Denis mendengus sinis. "Terlambat, Manda," gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Kata-kata maaf dari Manda terasa seperti air hujan yang jatuh di atas tanah yang sudah terlanjur membatu. Tidak ada lagi ruang untuk meresap. Baginya, Manda adalah masa lalu yang kaku, sementara Ica yang duduk di sampingnya adalah masa depan yang penuh dengan risiko namun menawarkan kehangatan yang tak terbeli.
"Siapa, Denis? Kak Manda?" tanya Ica hati-hati.
"Bukan siapa-siapa. Cuma gangguan sinyal," jawab Denis dingin. Ia menoleh ke arah Ica, matanya melunak. "Ca, sebelum kita sampai, ada satu hal lagi. Di tas belanja kemarin, ada kotak kecil hitam. Kamu sudah pakai isinya?"
Ica merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian kecil yang berkilauan. "Ini anu ... saya takut memakainya. Ini terlalu mahal."
"Pakai," perintah Denis. Ia menepikan mobil sejenak di lobi hotel yang megah, namun belum keluar. "Biar saya pasangkan."
Ica memutar tubuhnya, memunggungi Denis. Ia menyibakkan rambut gelombangnya ke satu sisi, menyingkap leher bagian belakangnya yang mulus. Denis mengambil kalung itu, jari-jarinya yang besar kini menyentuh tengkuk Ica.
Sentuhan kalung itu terasa dingin, namun panas dari ujung jari Denis. Denis sengaja melambatkan gerakannya saat memasang pengait kalung itu. Ia membiarkan napasnya menyentuh kulit leher Ica, membuat gadis itu memejamkan mata rapat-rapat.
"Sudah," bisik Denis. Namun tangannya tidak langsung menjauh. Ia justru membelai rambut Ica yang jatuh ke bahu, merapikannya dengan perlahan. "Sempurna. Kamu terlihat seperti milik saya seutuhnya malam ini."
Di bawah temaram lampu lobi hotel, Denis merasa dia bukan lagi sedang bersandiwara. Ica adalah pelariannya, tapi juga sekaligus penjara barunya. Dan Denis tidak keberatan terkunci di sana selamanya, asalkan kuncinya ada di tangan gadis mungil yang sekarang sedang gemetar di bawah sentuhannya.
Denis keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Ica. Ia mengulurkan tangannya, dan Ica menyambutnya. Mereka berjalan masuk ke lobi hotel dengan Ica yang merangkul lengan Denis erat-erat. Denis bisa merasakan kenyamanan dari tubuh Ica yang menempel padanya, dan ia sengaja mempererat rangkulan itu di pinggang Ica saat mereka masuk ke dalam lift menuju ballroom.
"Siap, Sayang?" tanya Denis dengan nada menggoda saat pintu lift terbuka.
Ica menatap Denis, mencoba mengumpulkan seluruh keberaniannya. "Siap ... Sayang."
Tinta hitam itu kini benar-benar sudah menyentuh kertas putihnya. Noda itu mulai menyebar, membentuk pola-pola gairah yang tak tercatat. Dan malam ini, di depan semua rekan bisnisnya, Denis siap memamerkan noda terindah yang pernah ia miliki.
***
Pintu ballroom hotel terbuka, menyemburkan aroma cerutu mahal, parfum desainer yang saling bertabrakan, dan denting gelas kristal. Cahaya lampu gantung yang kuning keemasan memantul di setiap sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang intim namun penuh penghakiman. Di sinilah para petinggi perhotelan dan rekan bisnis berkumpul—tempat di mana jabatan adalah kartu nama dan pasangan adalah aksesori harga diri.
Denis merasakan tangan Ica yang melingkar di lengannya gemetar hebat. Ia bisa merasakan keringat dingin tipis merembes dari telapak tangan Ica ke kemeja satin hitamnya.
"Tenang, Ca. Anggap saja mereka semua ini cuma tumpukan map laporan yang belum selesai diaudit," bisik Denis tepat di samping kepala Ica. Ia sengaja merapatkan tubuh mereka, hingga pinggang Ica benar-benar menempel pada panggulnya.
"Tapi mereka ... mereka kelihatan galak banget, Denis," balas Ica dengan suara yang nyaris hilang ditelan musik piano di latar belakang.
"Mereka memang galak kalau melihat lawan yang lemah. Jadi, jangan beri mereka celah."
Baru saja mereka melangkah lima meter, suara tawa yang sangat dikenal Denis meledak dari meja bundar di sudut ruangan. Rendy, Bagas, dan beberapa pria lain sedang memegang gelas wisky. Begitu melihat Denis, Rendy langsung berdiri dengan seringai yang membuat Denis ingin meninju rahangnya.
"Woi! Panjang umur lu, Den! Baru aja mau gue pesenin penari stripper buat nemenin lu biar nggak bengong sendirian kayak taun lalu—"
Kalimat Rendy terputus di udara. Matanya yang merah karena alkohol kini melotot, menatap sosok wanita mungil yang berdiri di samping Denis. Tawa rekan-rekan yang lain pun mendadak senyap, berganti dengan keheningan yang penuh rasa penasaran.
"Sore, Ran. Gas," sapa Denis dengan suara yang sangat tenang dan berwibawa. "Kenalkan, ini Ica. Tunangan saya."
Rendy meletakkan gelasnya, berjalan memutari meja untuk mendekati mereka. Ia menatap Ica dari atas ke bawah, seolah-olah sedang memeriksa keaslian barang di etalase toko. "Bentar, bentar. Ini beneran tunangan lu? Yang katanya 'Manda' itu? Kok ... kok beda sama yang di foto profil lu, Den?"
Denis tidak panik. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung penghinaan halus. "Manda sudah jadi masa lalu, Ran. Perubahan data itu hal biasa dalam hidup, kan? Kadang kita butuh pembaruan untuk sistem yang sudah usang."
Denis menoleh ke arah Ica, tangannya berpindah dari pinggang ke punggung bawah Ica, mengelusnya dengan gerakan melingkar yang intim. "Sayang, ini Rendy. Teman saya yang paling berisik, dan paling sulit percaya kalau saya bisa punya wanita seindah kamu."
Ica menelan ludah. Ia ingat instruksi Denis: Tindakan.
Ica mengulas senyum paling manis yang pernah ia miliki, senyum yang biasanya ia simpan untuk menyapa tamu VIP hotel. Ia sedikit menyandarkan kepalanya di bahu bidang Denis. "Halo, Mas Rendy. Denis sering cerita soal Mas. Katanya, Mas Rendy ini orangnya sangat 'perhatian' ya sama status orang lain?"
Skakmat. Rendy tertegun sejenak. Sindiran halus Ica barusan membuatnya tersedak ludahnya sendiri.
Begitulah Ica, si anak baru yang dianggap remeh, ternyata punya bakat akting yang lebih alami daripada aktor papan atas. Di balik tubuhnya yang mungil, dia menyimpan keberanian yang dipicu oleh rasa sakit hati Denis. Dia merasa sedang menjadi pelindung bagi ego pria di sampingnya, meski dia sendiri tahu bahwa perisai yang dia pakai terbuat dari kebohongan yang sangat rapuh.
"Wah, wah ... pinter milih juga lu, Den! Pantesan lu sembunyiin terus. Kalau punya yang kayak gini sih, gue juga bakal taruh di brankas biar nggak dimaling orang," puji Bagas sambil mendekat dan menjabat tangan Ica.
Pesta berlanjut. Denis dan Ica terjebak dalam pembicaraan demi pembicaraan. Denis benar-benar memerankan perannya dengan sangat total. Ia tidak pernah melepaskan rangkulannya pada Ica. Sesekali, ia mengambilkan camilan dan menyuapkannya pada Ica, atau sekadar merapikan rambut Ica yang sebenarnya tidak berantakan.
Tensi semakin panas saat mereka duduk di meja makan malam. Rendy, yang mulai mabuk, kembali memancing.
"Eh, Den. Tapi jujur ya, Ica ini beda banget sama selera lu biasanya. Manda kan tinggi, tegas, dominan. Ica ini ... apa ya?" Rendy melirik gadis itu dari tempat duduknya, ekspresinya jelas sedang menilai berapa angka yang pantas Ica dapat. "Mungil, lembut. Apa ini yang namanya 'bimbingan' intens di kantor, Den? Sampai bisa dapet admin secantik ini?" cerocosnya lagi.
Beberapa orang di meja tertawa penuh arti. Ica merasa wajahnya panas, ia merasa seolah-olah semua orang tahu bahwa dia hanyalah staf yang "dibeli" malam ini.
Denis merasakan tubuh Ica menegang. Ia meletakkan garpunya, lalu perlahan ia meraih tangan Ica di atas meja. Ia mengecup lama dan penuh penekanan punggung tangan Ica di depan semua orang.
"Justru karena dia lembut, dia bisa melunakkan hati saya, Ran," ucap Denis sambil menatap mata Ica dengan intensitas yang seolah-olah bisa membakar pakaian gadis itu. "Ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan jabatan atau tinggi badan. Kenyamanan, misalnya. Dan Ica ... dia memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh wanita mana pun yang pernah saya kenal."
Denis merasakan napasnya sendiri mulai berat. Setiap kata pujian yang ia lontarkan untuk sandiwara ini, entah kenapa, mulai terasa jujur di lidahnya. Ia melihat binar di mata Ica yang tampak terharu, dan ia merasa ingin benar-benar memiliki wanita ini, bukan hanya untuk malam ini, tapi untuk mengisi kekosongan yang selama ini Manda tinggalkan.