Bab 7. Drama yang Keblabasan

1403 Kata
Pelayan hotel mulai menyajikan hidangan utama. Sebuah piring porselen putih dengan potongan wagyu steak yang tebal dan menggoda diletakkan di depan Ica. Ica menatap potongan daging itu dengan kening berkerut. Di apartemen kecilnya, paling mewah dia makan daging rendang di warung Padang, itu pun sudah dipotong kecil-kecil. ​Ica mencoba memegang pisau di tangan kanan dan garpu di tangan kiri, tapi pisau perak itu terasa licin. Saat ia mencoba menekan dagingnya, piringnya mengeluarkan suara 'nyit-nyit' yang cukup nyaring karena pisau yang beradu dengan piring. ​Rendy yang matanya setajam elang langsung menoleh. "Eh, Ica? Kesulitan sama dagingnya? Apa pisaunya kurang tajem? Atau biasanya ... pisaunya plastik ya kalau di tempat biasa kencan sama Denis?" Rendy tertawa kecil, memancing perhatian tamu lain. ​Wajah Ica memerah. Ia merasa seperti anak kecil yang tertangkap basah tidak tahu aturan. Baru saja ia mau menjawab, tangan Denis yang hangat sudah menutupi punggung tangannya yang sedang memegang pisau. ​"Tangan kamu terlalu lembut untuk pekerjaan kasar begini, Sayang," bisik Denis. Suaranya terdengar sangat protektif. ​Denis mengambil alih pisau dan garpu dari tangan Ica. Dengan gerakan yang terlatih, Denis memotong daging itu menjadi bagian-bagian kecil yang pas untuk sekali suap. Seluruh meja terdiam melihat sang Manajer HRD yang biasanya kaku itu kini begitu telaten melayani pasangannya. ​"Buka mulut kamu," perintah Denis pelan. ​Ica menurut, ia membuka bibirnya sedikit, dan Denis menyuapkan potongan daging itu dengan penuh kasih sayang semu yang terasa sangat nyata. "Enak?" tanya Denis sambil ibu jarinya mengusap sudut bibir Ica yang terkena sedikit saus. ​Ica hanya bisa mengangguk pelan, jantungnya hampir meledak karena diperlakukan seperti ratu di depan orang-orang sombong ini. ​Tepat saat suasana sedang manis-manisnya, ponsel Denis yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala terang, menampilkan foto seorang wanita cantik dengan balutan seragam rapih. ​Manda Calling .... ​Suasana di meja mendadak tegang. Rendy melirik layar itu, lalu melirik Ica, lalu kembali ke Denis dengan tatapan curiga yang mulai memuncak. "Loh, Den? Itu ... bukannya Manda? Kok dia telepon jam segini? Bukannya katanya udah jadi masa lalu?" ​Ica merasa dunianya seolah runtuh. Napasnya tercekat. Ia takut penyamarannya terbongkar di sini, di bawah sorotan lampu kristal ini. ​Denis menatap layar ponselnya dengan mata yang dingin. Ia berusaha keras agar tidak terlihat panik sedikit pun. Dengan gerakan santai dan tenang, jari tengahnya menggeser tombol merah dan membalikkan ponselnya hingga layarnya menghadap ke meja. ​"Ibarat kalau di kantor, sistem yang lama memang kadang suka error, Ran. Seringkali dia sulit menerima kalau kontraknya sudah saya putus secara sepihak," jawab Denis tanpa beban. Ia kembali menatap Ica, memberikan senyum yang seolah berkata, 'Tenang, saya di sini.' ​Di bawah meja, tangan Denis menggenggam paha Ica dengan kuat, seolah-olah memberikan jangkar agar gadis itu tidak hanyut dalam ketakutan. Denis merasa muak. Telepon Manda adalah pengingat akan penjara yang selama ini mengurungnya, sementara Ica di sampingnya adalah kunci pelarian yang tidak akan ia lepaskan malam ini. ​"Sudah, jangan bahas masa lalu. Malam ini cuma milik kita," lanjut Denis. ​"Bener. Kita nikmati makanan ini." Bagas turut setuju, aktivitas makannya mulai terganggu, lidahnya hanya ingin menikmati hidangan mewah itu tanpa keributan. Meja makan itu sempat hening sejenak saat Denis menyeka sudut bibir Ica. Namun, Rendy yang sudah mulai terpengaruh alkohol tidak membiarkan suasana tetap manis. Matanya yang merah menatap tajam ke arah gelas wine merah di depannya, lalu melirik ke arah gaun merah marun Ica yang tampak sangat mahal. ​"Aduh, sori, sori! Licin banget tangan gue!" ​Tiba-tiba, Rendy menyenggol gelas wiskinya dengan gerakan yang sangat disengaja untuk disebut kecelakaan. Cairan berwarna merah itu tumpah, menciprat ke arah meja dan sebagian besar mengenai lengan serta sisi perut gaun Ica. ​"A-ah!" Ica terpekik, reflek berdiri dari kursinya. ​"Ya ampun, Ca! Sori banget, gue beneran nggak sengaja. Tangan gue emang suka tremor kalau lihat yang bening-bening," ucap Rendy dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. Ia malah tertawa kecil sambil pura-pura meraih tisu. ​Wajah Ica memucat. Ia menatap bercak basah di gaunnya yang mahal. Ia merasa kecil, merasa dipermalukan, dan ia tahu Rendy sedang mencoba menunjukkan bahwa 'barang mahal' seperti Ica tetap saja mudah dikotori. ​Denis berdiri dengan tenang, tapi aura di sekitarnya mendadak berubah menjadi sangat mencekam. Ia menarik beberapa lembar serbet kain putih di atas meja, lalu dengan telaten ia sendiri yang membersihkan cipratan di gaun Ica, mengabaikan tatapan mata rekan-rekan bisnisnya yang lain. ​"Duduk, Ca," perintah Denis lembut tapi tegas. ​Denis kemudian menoleh ke arah Rendy. Tatapannya begitu tajam, seolah-olah bisa melubangi tengkorak pria itu. "Ran, kalau tangan lu tremor, mungkin itu tandanya lu butuh ke dokter saraf. Bukan ke pesta. Lu baru aja ngerusak sesuatu yang lu nggak bakal sanggup bayar gantinya." ​"Halah, Den! Cuma air doang, nanti juga kering. Masa manajer HRD baperan?" Rendy mencoba membela diri, meski ia mulai merasa terintimidasi. ​"Gue nggak baperan soal airnya," Denis maju selangkah, mencondongkan tubuhnya ke arah Rendy hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Gue baperan karena lu baru aja bikin tunangan gue nggak nyaman. Dan kalau lu sekali lagi ngetes kesabaran gue, gue pastikan lu pulang dari sini tanpa sisa harga diri." ​Rendy bungkam. Suasana di meja makan mendadak jadi sedingin es di kutub utara. Bagas dan yang lain pura-pura sibuk dengan ponsel mereka. Sang pawang konflik yang biasanya kalem, malam ini berubah jadi anjing penjaga yang siap menggigit siapa pun yang menyentuh 'miliknya'. Dia tahu Rendy hanya ingin membuktikan bahwa Ica bukan siapa-siapa, tapi Denis justru menggunakan momen itu untuk menunjukkan pada dunia bahwa Ica adalah segalanya bagi dia—setidaknya untuk malam ini. ​"Mau ke toilet sebentar buat bersihin ini?" tanya Denis pada Ica, suaranya kembali melembut drastis. ​"Nggak apa-apa, Denis. Cuma sedikit kok," bisik Ica yang masih gemetar karena terkejut melihat sisi gelap Denis barusan. ​Denis mengangguk, lalu ia duduk kembali dan merangkul pundak Ica dengan mesra, seolah-olah sedang memagari wilayah kekuasaannya. Tepat saat itulah, Rendy yang masih ingin menyelamatkan mukanya yang jatuh, melempar tantangan terakhir. ​"Oke, oke, gue minta maaf. Gue emang salah. Tapi ya elah, Den ... lu protektif banget kayak lagi jagain simpanan aja. Kalau emang dia tunangan lu beneran, tunjukin dong sesuatu yang lebih real. Cium gitu? Masa cuma suap-suapan kayak anak TK?" Bagas dan teman-teman lain mulai menahan tawa. ​"Cium dong! Masa tunangan cuma pegang tangan? Tunjukin kalau ini bukan settingan buat nutupin kalau lu penyuka batang, Den!" teriak Rendy provokatif. ​Meja itu menjadi riuh. "Cium! Cium! Cium!" ​Ica membeku. Ia menatap Denis dengan mata memohon, tapi Denis justru melihat ini sebagai kesempatan emas untuk benar-benar mengunci akting mereka—sekaligus memuaskan rasa haus yang sedari tadi ia tahan. ​Denis mendekatkan kursinya ke arah Ica. Ia menggunakan satu tangannya untuk menangkup pipi Ica, sementara ibu jarinya mengusap bibir bawah Ica yang gemetar. ​"Boleh?" bisik Denis, suaranya kini benar-benar hanya ditujukan untuk Ica. ​Ica tidak bisa menjawab. Dunianya seolah menyempit hanya pada wajah Denis yang kini memenuhi seluruh pandangannya. Di bawah pengaruh cahaya remang hotel dan tekanan sosial yang begitu besar, Ica perlahan memejamkan matanya dan sedikit mendongak. ​Denis tidak langsung mencium bibir Ica. Ia justru mendaratkan ciuman yang dalam di kening Ica, cukup lama hingga semua orang terdiam karena melihat kelembutan yang begitu nyata. Namun, tak berhenti di situ, Denis menggeser wajahnya, hidungnya bersentuhan dengan hidung Ica. ​"Terima kasih sudah menyelamatkan saya, Ca," bisik Denis. ​Lalu, di depan sorak-sorai yang kembali pecah, Denis menempelkan bibirnya di bibir Ica. Ciuman yang penuh kelembutan. Bibir Denis yang hangat dan sedikit beraroma wiski menekan bibir Ica yang kenyal. Ica merasa seluruh tenaganya tersedot habis. Ia mencengkeram lengan kemeja Denis, mencoba mencari pegangan agar tidak jatuh dari kursi. ​Dalam pikiran Denis, naskah sandiwara itu sudah terbakar habis. Ciuman itu adalah deklarasi perang terhadap masa lalunya dengan Manda. Ia merasakan bibir Ica yang gemetar menyambutnya, dan ia tahu, mulai detik ini, tidak akan ada lagi jalan pulang yang mulus. Tinta hitam itu tidak lagi hanya menetes, tapi sudah tumpah ruah, menutupi seluruh lembaran suci pertunangannya. "Ahh ...." Ica mendesah kecil. ​Setelah ciuman itu berakhir, Denis menjauhkan wajahnya dengan senyum puas. Ia melihat Ica yang terengah dengan wajah semerah gaunnya. ​"Gimana, Ran? Masih kurang bukti?" tanya Denis lantang pada Rendy yang kini hanya bisa melongo sambil bertepuk tangan. ​Malam itu, Denis memenangkan taruhannya. Ia berhasil menjaga harga dirinya. Namun, ia tidak sadar bahwa ia baru saja kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN