Bab 8. Pulang Larut Malam

1242 Kata
Suasana di dalam lift hotel yang berlapis cermin itu terasa jauh lebih sempit daripada ruang pas di butik kemarin. Denis berdiri tegap, menatap angka lantai yang bergerak turun, sementara Ica berdiri satu langkah di belakangnya, menunduk dalam-dalam seolah pola marmer di lantai lift adalah hal paling menarik di dunia. Tidak ada kata-kata. Hanya ada suara dengung mesin lift yang halus dan detak jantung Ica yang terasa sampai ke telinga. Ciuman di meja makan tadi masih menyisakan rasa hangat yang aneh di bibir Ica, rasa wiski mahal yang bercampur dengan d******i Denis yang tak terelakkan, membuat darahnya berdesir deras. Begitu pintu lift terbuka di lobi, Denis langsung melangkah lebar menuju parkiran valet, seolah ia sedang melarikan diri dari TKP sebuah kejahatan. Denis langsung memasuki mobilnya, menyandarkan punggungnya sebentar pada kursi, "Apa-apaan kamu, Denis?" gumamnya pada diri sendiri. Denis terjebak. Perasaannya gelisah, antara rasa bersalah pada wanita tunangannya, sekaligus rasa nyaman pada gadis magang yang diam-diam ia sembunyikan di balik wajah kakunya. "Oke ... ini memang keputusan gila, tapi aku harus tetap profesional." Denis menenangkan dirinya sendiri, setelah menepuk-nepuk keningnya di balik kemudi. "Masuk," kata Denis singkat saat mobil BMW hitamnya sudah berada di depan lobi. Ica masuk, duduk di kursi penumpang, dan langsung memasang sabuk pengaman dengan tangan gemetar. Mesin mobil menderu halus, lalu mereka membelah jalanan SCBD yang masih gemerlap oleh lampu-lampu gedung pencakar langit. Keheningan di dalam mobil itu bukan lagi sebuah ketenangan, melainkan hening yang "berisik". Ada ribuan pertanyaan yang menggantung di udara, tapi tak satu pun berani diucapkan. Di balik kemudi, Denis meremas setir kulit itu hingga buku jarinya memutih. Pikirannya seperti benang kusut yang disiram bensin. Ciuman tadi ... itu seharusnya hanya akting. Sebuah gerakan teknis untuk membungkam mulut sampah Rendy. Tapi kenapa saat bibirnya menyentuh bibir Ica, ia merasa seperti menemukan mata air di tengah padang pasir yang selama ini ia huni bersama Manda? Denis merasa seperti pengkhianat, tapi ironisnya, ia merasa lebih hidup sebagai pengkhianat daripada sebagai tunangan yang setia. Ica melirik Denis dari sudut matanya. Profil wajah Denis yang diterangi lampu jalan yang bergantian masuk ke dalam kabin mobil terlihat begitu keras. Rahangnya mengatup rapat. "Denis ..." panggil Ica pelan, suaranya hampir pecah. Tepat saat itu, ponsel Denis yang diletakkan di dasbor kembali menyala. Manda Calling .... Denis memejamkan mata sejenak, lalu menekan tombol hijau di kemudi, menyambungkannya ke speaker mobil. "Ya, Manda?" suara Denis terdengar datar, dan profesional seperti biasa. "Den, kamu di mana? Kok tadi aku telepon berkali-kali nggak diangkat? Aku sudah dapat tiket pesawat jam 6 pagi besok. Tolong jemput di bandara ya, ada beberapa berkas kantor pusat yang harus kamu tanda tangani segera sebelum aku balik ke Surabaya lagi minggu depan." Ica menahan napas. Suara Manda di speaker mobil terdengar jernih dan dingin. "Aku di jalan, Manda. Tadi reuni sedang ramai," jawab Denis. Matanya melirik ke arah Ica yang kini merapatkan tubuhnya ke pintu mobil, seolah ingin menghilang. "Oh, reuni yang nggak penting itu ya? Ya sudah, pokoknya jangan telat jemput aku besok. Aku capek banget, Den. Urusan vendor ini beneran nguras energi. Kita bicara besok di mobil. Bye." Klik. Panggilan berakhir begitu saja. Tanpa ucapan sayang, tanpa bertanya apakah Denis bersenang-senang, bahkan tanpa memberi kesempatan Denis untuk menjawab. Keheningan kembali menyergap, tapi kali ini terasa lebih pahit. Suara Manda barusan adalah realita yang menyakitkan. Manda adalah tuntutan. Sedangkan Ica? Ica adalah desahan kecil yang tertinggal di bibirnya, Ica adalah wanita yang barusan ia cium di depan semua orang seolah dialah pusat dunianya. Denis merasa muak pada dirinya sendiri yang terjepit di antara dua kutub ini. "Denis ... kamu harus jemput Kak Manda besok pagi?" tanya Ica hati-hati. "Bukan urusan kamu," jawab Denis sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan. Ia segera menyesal saat melihat Ica berjengit. "Maksud saya ... itu urusan saya. Kamu fokus saja pada tugas kamu." Mobil terus melaju, keluar dari kawasan mewah menuju gang-gang sempit di daerah Jakarta Selatan tempat kosan Ica berada. BMW putih itu terlihat sangat tidak pada tempatnya di antara deretan motor yang parkir di pinggir jalan dan tukang nasi goreng yang masih mangkal. Denis menghentikan mobil tepat di depan gerbang kayu kosan Ica. Mesin mobil tetap menyala, memberikan pencahayaan remang-remang di sekitar mereka. Ica melepaskan sabuk pengamannya. "Terima kasih untuk malam ini, Denis. Dan ... terima kasih untuk gaunnya." Ica sudah memegang gagang pintu, siap untuk lari masuk ke dalam keamanannya, ketika tiba-tiba tangan Denis meraih lengannya. Menahan tubuhnya dengan pasti. "Ica, tunggu." Ica berbalik, matanya yang besar menatap Denis dengan penuh ketakutan sekaligus harapan yang tidak ia sadari. Denis melepaskan napas panjang. Wajahnya yang tegang perlahan melunak, digantikan oleh ekspresi yang sulit diartikan. "Soal yang di meja makan tadi ..." Denis menggantung kalimatnya. Ia menatap bibir Ica, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan ke arah gerbang kosan. "Saya minta maaf. Saya tidak seharusnya melakukan itu. Saya ... saya melampaui batas profesionalisme saya sebagai atasan kamu." Ica terpaku. Permintaan maaf Denis terasa seperti air es yang disiramkan ke atas api yang sedang berkobar di dadanya. Ada rasa lega, tapi ada juga rasa kecewa yang menusuk. Hanya profesionalisme? Jadi ciuman sedalam itu cuma karena dia merasa melanggar aturan kantor? Ica diam. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin bilang kalau ia tidak keberatan, ingin bilang kalau ia menyukainya, tapi lidahnya mendadak mati rasa. Ia hanya menatap jemari Denis yang masih melingkar di lengannya. Melihat Ica yang hanya diam membisu dengan mata berkaca-kaca, Denis merasa panik. Di kepalanya, diamnya Ica adalah bentuk kemarahan. Ia pikir Ica merasa dilecehkan, atau mungkin Ica merasa harga dirinya diinjak-injak karena dijadikan tameng di depan teman-temannya. "Ica, dengar," Denis mempererat genggamannya, suaranya kini terdengar cemas. "Saya tahu itu salah. Kamu pasti merasa tidak nyaman. Sebagai kompensasi ... saya akan tambah gaji lembur kamu. Bukan lima kali lipat, tapi sepuluh kali lipat untuk malam ini saja. Saya akan kirim ke rekening kamu besok pagi." Mendengar kata "uang" dan "kompensasi", hati Ica seperti dihantam batu gunung. Denis, pria mapan yang terbiasa menyelesaikan segala masalah dengan angka di atas kertas. Dia tidak sadar bahwa bagi Ica, diam itu bukan karena harga yang kurang, melainkan karena rasa yang terlalu penuh. Denis mencoba membeli rasa bersalahnya, sementara Ica sedang berjuang mempertahankan sisa-sisa perasaannya agar tidak tumpah di depan pria yang baru saja "merampok" hatinya. "Hanya itu, Denis? Uang?" bisik Ica parau. Denis tertegun. "Maksud kamu? Kalau kamu merasa itu kurang, kita bisa bicarakan angkanya—" "Bukan soal angkanya!" Ica menyentakkan lengannya hingga terlepas dari genggaman Denis. "Terima kasih, Pak Manajer. Terima kasih untuk bimbingan profesionalnya malam ini. Besok saya akan masuk kantor tepat waktu dan membuatkan kopi yang paling enak untuk Bapak." Ica membuka pintu mobil dan keluar dengan terburu-buru. Ia berlari menuju gerbang kosannya, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, membasahi riasan mahal dari salon terbauk. Denis terpaku di kursi kemudinya. Ia melihat sosok mungil itu menghilang di balik gerbang kayu yang kusam. Ia menyentuh bibirnya sendiri, merasakan sisa rasa manis leci di bibir Ica yang masih ada di sana, kini bercampur dengan rasa pahit dari kebodohannya sendiri. "g****k kamu, Den," umpat Denis pada dirinya sendiri. Ia memukul kemudi mobilnya dengan keras. Ia merasa menang di depan Rendy, tapi malam ini, ia merasa kalah telak sebagai seorang pria. Ia pulang menuju apartemen mewahnya yang kosong, sementara di kursi sampingnya, aroma peach dari tubuh Ica masih tertinggal, seolah-olah sedang menertawakan kesepian yang ia bangun sendiri. Tinta hitam itu kini tidak hanya menodai kertas putih, tapi mulai merembes ke tangan Denis, membuatnya kotor, membuatnya tak bisa lagi memegang janji masa lalunya dengan tangan yang bersih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN