Tepat pukul lima pagi, Jakarta masih dalam gemerlap lampu dengan keramaian yang mulai memuncak. Alarm di apartemen Denis menjerit. Pria tinggi itu terbangun dengan kepala berat dan bibir yang secara otomatis mencari rasa manis leci yang sudah menguap. Ia menatap langit-langit kamarnya yang abu-abu. Dalam satu jam, ia harus sudah berada di bandara, menjemput tunangan sahnya, sambil membawa sisa-sisa aroma tubuh wanita lain di jok mobilnya.
Denis mandi dengan air dingin yang menusuk, berharap rasa dingin itu bisa membekukan gairah terlarangnya. Namun, saat ia menyemprotkan parfum, ingatannya justru kembali pada leher jenjang Ica saat ia memasangkan kalung berlian itu semalam.
"Sialan!" Denis berdecak, merasakan sesuatu yang janggal di dalam hati dan pikirannya.
"Ini salah, Denis. Tapi ... siapa juga yang membuatmu jadi begini?" katanya pada bayangan di cermin.
Dalam pikirannya, sosok Ica yang imut sekaligus menggairahkan dalam balutan dress merah saat acara reuni mulai muncul, bergantian dengan gadis mandiri yang selalu diekori laptop kemana pun ia pergi. Sosok Manda yang membosankan.
***
Di dalam kabin mobil yang masih gelap menuju bandara, Denis merasa seperti pembunuh yang sedang menyembunyikan mayat. Ia menyetir dengan waswas, sesekali melirik kursi penumpang yang kosong. Ia merasa bayangan Ica masih duduk di sana, menatapnya dengan mata berkaca-kaca sebelum ia menghancurkan hatinya dengan tawaran uang sialan itu.
"Hai, Den! Kamu udah nunggu lama ya? Sorry banget."
Suara Manda memecah lamunan Denis di terminal kedatangan. Wanita itu tampil stunning dengan setelan blazer biru navy, kacamata hitam di atas kepala, dan koper kabin bermerek. Dengan cekatan ia membuka pintu mobil, rambutnya yang hanya sepanjang bahu terlempar ke udara.
"Baru sembilan menit kok. It's okey, Manda." Denis memperhatikan Manda sejenak, dia memang cantik, mandiri, dan sat-set. Itulah awal kekaguman Denis padanya, tapi anehnya ... mengapa sekarang rasanya kosong?
Begitu masuk ke mobil, Manda langsung mengecup pipi Denis.
"Akhirnya ketemu kamu juga," ujar Manda singkat, kecupan satu detik itu terasa seperti stempel pada dokumen resmi.
"Em, wangi parfum kamu beda, Den? Agak ... manis?" Manda mengendus udara di dalam mobil sambil mengerutkan kening.
Jantung Denis serasa berhenti sejenak. "Ah, mungkin sisa pengharum ruangan di hotel acara reuni semalam. Kamu mau langsung ke kantor pusat?"
"Iya, aku nggak ada waktu buat pulang dulu. Berkasnya harus beres sebelum makan siang," jawab Manda tanpa curiga sedikit pun. Ia langsung membuka laptopnya di pangkuan, tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Gimana perjalanannya? Aman?" tanya Denis basa-basi, matanya masih tetap fokus pada jalanan yang ramai.
"Aman kok. Bentar ya, aku selesaikan ini dulu mumpung masih ada waktu."
Seperti biasa, Denis hanya mengangguk. Sudah biasa dengan gerak-gerik Manda yang super sibuk tanpa jeda.
Pukul 10:00 - Kantor HRD
Ica duduk di mejanya dengan mata yang sedikit bengkak, meski sudah ditutupi dengan riasan make up seadanya. Ia kembali menjadi Ica yang dulu; memakai kemeja kerja yang agak kebesaran dan kacamata berbingkai hitam. Tidak ada gaun merah, apalagi bibir manis leci.
Tiba-tiba, pintu lift terbuka. Denis masuk bersama seorang wanita tinggi semampai yang memancarkan aura otoritas yang kuat. Ica langsung tahu siapa wanita itu. Itu Manda. Sosok yang semalam suaranya terdengar begitu dingin di speaker mobil.
"Siapkan berkas audit vendor Surabaya di meja saya sekarang," perintah Denis saat melewati meja Ica. Suaranya datar, bahkan tidak melirik Ica sedikit pun.
Ica bangkit dengan kaku. "Baik, Pak Denis."
Di dalam ruang kerja Denis, Ica meletakkan berkas itu dengan tangan gemetar. Di sana, Manda sedang duduk di sofa tamu, asyik memeriksa dokumen lain.
"Ini sekretaris baru kamu, Den?" tanya Manda tanpa menoleh, suaranya terdengar seperti sedang membicarakan perabotan kantor.
"Bukan, dia staf admin. Namanya Ica," jawab Denis singkat. Ia berdiri di balik mejanya, matanya sesekali mencuri pandang ke arah Ica yang tampak sangat kecil dan rapuh di depan Manda.
"Oh. Ica, tolong buatkan kopi hitam dua ya. Jangan pakai gula," perintah Manda santai, seolah-olah Ica adalah pelayan pribadinya.
Ica mengangguk, "Baik, Bu."
Rasanya hati Ica seperti disayat sembilu. Di sini, di depan wanita yang sah memiliki Denis, ia hanyalah debu yang diperintah untuk membuat kopi. Ciuman semalam, kata 'Sayang' di hotel, semuanya terasa seperti mimpi buruk yang sangat indah namun mematikan. Ia melihat bagaimana Denis hanya diam, tak meliriknya, apalagi membelanya. Ia sadar, ia tetaplah 'senjata bayaran' yang sudah selesai dipakai.
'Ica, apa yqng kamu harapkan?' batinnya terasa pedih.
***
Ica kembali masuk ke ruangan Denis membawa nampan perak dengan dua cangkir porselen putih yang mengepul. Aroma kopi hitam yang pahit menyeruak, namun tidak cukup kuat untuk menutupi aroma tubuh Ica.
Saat Ica membungkuk sedikit untuk meletakkan cangkir di depan Manda, gerakan itu membawa embusan angin kecil yang membawa aroma buah persik yang segar.
Manda, yang tadinya fokus menatap layar laptop, tiba-tiba berhenti mengetik. Jemarinya menggantung di udara. Ia menarik napas panjang melalui hidung, mengendus udara di sekitarnya dengan dahi berkerut.
"Tunggu," ucap Manda tajam. Matanya beralih dari layar ke arah Ica yang masih memegang nampan. "Parfum kamu apa? Peach?"
Ruangan itu mendadak sunyi senyap, kesunyian yang membuat suara detak jarum jam dinding terdengar seperti dentuman drum. Denis, yang sedang memegang pulpen di balik mejanya, merasa jemarinya kaku seketika. Ica membeku di tempat, tangannya yang memegang nampan perak mendadak terasa seberat beton.
"I-iya, Bu. Peach," jawab Ica dengan suara yang nyaris tidak keluar.
Manda tidak langsung merespons. Ia menatap Ica dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu beralih menatap Denis yang tampak pura-pura sibuk dengan berkasnya. Manda malah tertawa kecil.
"Lucu ya, Den," Manda menyesap kopinya sedikit, matanya masih mengunci Denis. "Ternyata parfum staf kamu ini baunya sama persis dengan 'pengharum ruangan' yang tertinggal di mobil kamu tadi pagi. Kok bisa sama banget, ya?"
Ica merasa dunianya seolah berhenti berputar. Ia melirik Denis lewat sudut mata, memohon perlindungan atau sekadar aba-aba.
Denis meletakkan pulpennya dengan pelan, memberikan kesan bahwa dia sedang menghadapi gangguan kecil yang tidak penting. "Mungkin parfum pasaran, Manda. Banyak yang pakai merek itu sekarang, lagi nge-hits. Lagian kamu mikirnya berlebihan, Man. Kamu pasti pusing karena kebanyakan kerjaan di Surabaya sampai hal sepele begini jadi perhatian."
Manda kembali menatap layar laptopnya, ekspresinya kembali datar namun menyimpan sesuatu yang sulit dibaca. "Iya sih... bisa jadi. Tapi besok-besok kalau mau pakai parfum, pilih yang lebih berkelas ya, Ca. Bau buah-buahan begitu... terlalu kekanak-kanakan untuk kantor ini. Rasanya kurang profesional."
Ica menelan ludah yang terasa seperti kerikil tajam. "Baik, Bu. Permisi."
Ica keluar dari ruangan itu dengan langkah yang cepat, seolah-olah baru saja melarikan diri dari sebuah ranjau darat yang nyaris meledak. Di balik pintu, ia menarik napas dalam-dalam. Ia merasa kotor, merasa kecil, dan merasa sangat murah di depan Manda. Denis membelanya dengan cara yang elegan, tapi bagi Ica, pembelaan itu hanyalah bentuk lain dari penyangkalan dosa.