Mereka berdua telah selesai makan. Aksa menyeka bibirnya dengan tisu, lalu beranjak berdiri. Tanpa banyak bicara, Aksa mengulurkan tangan ke arah Luna. Telapak tangannya terbuka, menunggu Luna menyambutnya. Luna yang masih duduk hanya mendongak menatap tangan itu. Lalu matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, memastikan keadaan sekitar. Beberapa pengunjung masih duduk di meja masing-masing, ada pelayan yang lalu lalang, ada seorang ibu dengan anak kecil di dekat kasir. Tangan Aksa masih menggantung di udara. Sepersekian detik terasa lama. Luna memejamkan mata sesaat, lalu dengan terpaksa ia mengulurkan tangannya. Ujung jarinya menyentuh telapak tangan Aksa dengan enggan. Sentuhan itu ringan, namun cukup untuk membuat Aksa menggenggamnya lebih erat. “Masih sakit kakinya?” tanya Aksa pela

